32. Familiar

258 36 12
                                        

Ken hanya mendengus sebal ketika melihat Cindy duduk di depan Raja. Entah sejak kapan mereka berbaikan, Ken bahkan tidak tahu.

Atau mungkin belum? Sebab sayup-sayup Ken mendengar sebuah permintaan maaf keluar dari mulut Raja.

"Gue udah minta maaf sama Dini, sekarang lo mau, kan, maafin gue?" Terdengar agak memaksa untuk permintaan maaf sebenarnya, tapi Cindy tidak mau memperpanjang lagi.

"Iya," sahut Cindy cuek.

Segaris senyum tipis terbit di wajah Raja. Meski yang di hadapannya masih berekspresi datar.

"Kemarin gue lihat di bioskop, film dari novel kesukaan lo itu udah tayang. Mau nonton bareng nggak?" tawar Raja, membuat Ken yang berada di seberang langsung melotot.

"Nggak dulu deh. Seminggu lagi udah olimpiade, gue mau belajar," tolak Cindy. Sontak membuat Ken menahan girang.

Sedangkan Raja agak kecewa, tapi tidak mau memperlihatkannya. "Kalau gitu gue temenin belajar ya? Biasanya, kan, lo minta dibantuin buat hafalan."

"Udah nggak ada yang perlu diomongin lagi, kan?" tanya Cindy. "Kalau gitu gue balik ya," pamitnya.

Tanpa menunggu jawaban Raja, Cindy segera bangkit berdiri dan pergi meninggalkannya. Raja hanya bisa terdiam melihat punggung Cindy terus menjauh. Dia tahu hubungannya dengan Cindy tak akan pernah sama lagi.

Di lain sisi, Ken juga ikut keluar dari kantin, mengejar langkah Cindy sebelum semakin menjauh.

Masih dengan botol teh pucuk yang berada di genggaman tangannya, Ken lalu menempelkan botol itu ke dahi Cindy. Tentu saja Cindy langsung berhenti.

"Dinginin dulu kepala lo," kata Ken sambil menyengir lebar. Dua lesung di pipinya terlihat begitu dalam.

Cindy segera menjauhkan kepalanya dari Ken. "Gue lagi nggak mau bercanda ya," ketusnya.

"Iya, abis ini gue seriusin, tapi nunggu lulus dulu ya," sahut Ken enteng.

"Dih," cibir Cindy.

Ken hanya tertawa kecil. "Minum dulu nih. Lo pasti haus abis panas-panasan di lapangan nontonin gue."

"Geer banget. Gue nggak nonton elo tuh," elak Cindy seraya menerima teh pucuk dari Ken.

Ken menggeleng-gelengkan kepalanya. Heran dengan gengsi si Tuan Putri. "Nggak usah bohong. Soalnya dari awal gue udah ngelihatin lo terus pake mata kepala gue sendiri."

"Emang lo bisa ngelihat gue dari panggung?" tanya Cindy.

"Bisa banget. Bahkan kalau nggak ada lo, kayaknya gue nggak akan bisa nyanyi sepede itu."

Cindy terdiam beberapa saat. Malu. Selain itu ada rasa lain yang terselip dihatinya sekarang. Susah untuk mendeskripsikannya, tapi Cindy merasa nyaman karenanya. Seperti ada banyak kupu-kupu di dalam perutnya yang siap keluar saat itu juga. Geli, tapi menyenangkan.

Entah kenapa rasanya menenangkan ketika tahu bahwa ternyata Ken hanya memandanginya seorang, bukan gadis lain.

***

"Sialan lo Clay!" umpat Tio saat menerobos masuk ke ruang seni Nusantara. Di dalamnya hanya ada Clay yang sedang fokus melukis.

"Kenapa lo nggak bilang kalau ada buku yang harus dibeli buat tugas Kimia?" teriak Tio frustasi di sebelah Clay yang sedang fokus melukis.

Beberapa hari kemarin Tio memang tidak bisa mengikuti kelas karena harus latihan basket. Itu sebabnya dia tidak tahu perihal tugas kelasnya sendiri.

"Sori, lupa," sahut Clay tanpa menoleh.

Unperfect PrincessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang