Sebenarnya ada satu hal membuat Cindy penasaran semenjak Ken bersekolah di SMA Tunas Bangsa. Kenapa bisa cowok itu selalu datang tepat ketika Cindy tiba di sekolah? Apa sebuah kebetulan bisa terjadi sesering itu? Atau mungkin Ken yang sengaja datang lebih pagi dan menunggunya?
"Pagi, Tuan Putri," sapa Ken dengan suara yang masih terdengar agak serak.
Meski begitu, Cindy heran melihat wajah Ken yang cerah bersinar, tidak pucat pasi seperti kemarin. "Udah sembuh?"
Bukannya langsung menjawab, Ken malah nyengir lalu menarik tangan Cindy dan menempelkannya di dahi. "Tolong diperiksa lagi bu dokter, kira-kira udah sehat atau masih sakit?"
Hal itu sontak mengundang tatapan dari semua orang yang melintas di sekitar mereka. Cindy cepat-cepat menarik tangannya kembali.
"Apaan sih? Bokap gue yang dokter bukan gue," ketusnya seperti biasa.
Ken hanya tersenyum menahan tawa. Lucu sekali Cindy kalau sedang salah tingkah begini.
"Ken!"
Suara itu membuat Cindy dan Ken kompak menoleh pada Shely yang setengah berlari menghampiri mereka.
"Hai, Cin," sapa gadis itu setelah berada di depan Cindy. "Kalian berangkat bareng?" tanyanya sambil menatap Ken dan Cindy bergantian.
Cindy lantas menggeleng kuat-kuat. "Nggak kok, baru aja ketemu di sini."
Shely hanya tersenyum kemudian menoleh pada Ken. "Katanya lo sakit, kok nggak istirahat di rumah aja?" Gadis itu bertanya sambil mengangkat tangan kanannya, hendak menyentuh kening Ken.
"Eh, udah sembuh kok," jawab Ken cepat sambil bergerak mundur, menghindari sentuhan Shely. Untunglah gadis itu pun segera menurunkan tangannya kembali saat mendengar jawaban dari Ken. "Kan di sembuhin sama.. duh!" Ken langsung menyentuh pinggangnya yang disikut oleh Cindy.
"Em, gue ke kelas dulu ya," pamit Cindy.
Shely hanya mengangguk kemudian melambaikan tangannya pada Cindy sebentar sebelum gadis itu berbalik pergi menuju koridor IPS.
Belum sempat Ken mencegah Cindy, Shely sudah menahannya terlebih dahulu.
"Berarti nanti lo bisa dong, anterin gue ke toko buku?" pinta Shely pada Ken. "Hari ini supir gue ijin nggak masuk kerja, jadi nggak ada yang nganterin."
Ken tidak langsung menjawab, dia menoleh lagi pada Cindy yang sudah memasuki koridor IPS. Saat kembali menoleh pada Shely, dia melihat Bima yang baru saja melintas hendak mendahuluinya. Sekuat tenaga Ken menarik Bima dan menahan pundak cowok itu agar berdiri di sebelahnya.
"Gimana kalau lo bareng Bima aja?"
Bima yang semula terkejut dan tidak tahu apa-apa, ingin berontak, tapi saat melihat Shely berada di hadapannya, dia langsung sumringah. "Hai, Shel," sapanya.
"Bim, pulang pembinaan nanti lo kosong, kan? Anterin Shely ke toko buku ya, kan searah juga."
Shely berdecak pelan, tidak suka Ken menawarkan hal itu pada Bima.
"Boleh, boleh." Bima langsung setuju tanpa perlu berpikir.
"Nah, kalau bareng Bima lo nggak akan kehujanan," imbuh Ken sambil mengangkat tangan Bima yang masih memegang kunci mobil. "Dia kan bawa mobil."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unperfect Princess
Teen FictionTebak semua teka-teki dalam cerita ini dan temukan tokoh antagonis yang sebenarnya! Rank #1 puimek (21/07/20) #6 nanon (06/09/20) #4 jane (03/10/20) #23 ceritasma (03/12/20) #24 coldgirl (8/05/21) Ps: mohon maaf kalau chapter awal tulisan masih belu...
