Setelah pembinaan olimpiade, dari kejauhan Ken melihat Cindy sedang menutup pintu kelas. Refleks nalurinya menggerakkan kaki Ken untuk berbelok menuju gadis itu. Namun, belum sampai tiga langkah dia berpindah, tiba-tiba ponselnya bergetar panjang. Tanda ada telepon masuk.
"Lama banget, anjir." Tio langsung mengumpat begitu Ken menerima teleponnya.
"Ini gue baru kelar pembinaan," balas Ken.
"Ya udah, buruan ke sini. Ini gue juga lagi nungguin Clay ganti baju. Gila sih, dia ganti baju apa ganti atap dah, lama bener," komentar Tio.
"Kayak nggak tahu Clay aja," sahut Ken sambil sengaja melirik lagi pada Cindy yang ternyata kini tak sendirian lagi. Ken buru-buru mengejar gadis itu. Gadis itu berjalan dengan seseorang menuju koridor lobi.
Meskipun orang yang bersama Cindy tengah memunggungi Ken, tapi dari postur tubuhnya, dia bisa mengenali siapa orang itu. Tentu saja, Raja. Oleh karena itu, Ken ingin cepat-cepat memutuskan sambungan teleponnya dengan Tio.
"Gue tutup ya," kata Ken.
Ken tidak menghiraukan lagi apa yang Tio katakan. Dia menekan ikon berwarna merah dan menyimpan ponselnya di dalam saku. Ken lalu berlari mengejar Raja dan Cindy yang sudah mencapai ruang lobi Tunas Bangsa.
Tepat saat Cindy berada di depan matanya, Ken segera meraih pergelangan tangan gadis itu dan menahannya. "Lo mau kemana?"
"Mau pulang sama gue, kenapa?" balas Raja.
Ken beralih menatap Raja. "Emang kaki lo udah sembuh?" tanyanya. "Gue nggak yakin lo bisa bawa motor."
"Gue bawa mobil kok," jawab Raja santai.
Sialan. Ken mengumpat dalam hati.
"Pulang sama gue aja ya," katanya lembut pada Cindy. Tanpa terasa cengkeraman tangannya pada Cindy semakin menguat. Berharap gadis itu akan lebih memilihnya.
"Sori, gue udah janji sama Raja." Jawaban Cindy benar-benar tak sesuai ekspektasi. Gadis itu juga melepaskan tangannya dari genggaman Ken.
Raja menyunggingkan senyum angkuh seolah ingin tertawa tapi ditahan. Senyuman yang terlihat sangat mengejek bagi Ken. Demi apapun, Ken ingin sekali menonjok wajah sombong itu.
"Ayo," ajak Raja pada Cindy yang langsung menurut.
"Tunggu," cegah Ken membuat Raja hampir jenuh karenanya. "Lo yakin, kan, bisa bawa Cindy pulang dengan selamat?"
"Maksud lo apaan?" Merasa tersinggung Raja kembali mendekati Ken, tapi Cindy menahannya dengan menarik lengan Raja.
"Udah, kita langsung pergi aja," ucap Cindy yang sebenarnya tak ingin mereka beradu otot di sana. Namun, Ken justru mengira kalau Cindy yang ingin cepat-cepat pergi darinya.
Meski masih kesal pada Ken, Raja akhirnya memilih untuk menuruti Cindy. Mereka berdua kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Ken yang sudah tak banyak protes lagi.
Ken tidak bisa berbohong kalau dia sedang cemburu. Sudah susah payah dia membangun hubungan baik dengan Cindy, tapi tiba-tiba Raja datang dan membuat gadis itu kembali dingin seperti dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unperfect Princess
Teen FictionTebak semua teka-teki dalam cerita ini dan temukan tokoh antagonis yang sebenarnya! Rank #1 puimek (21/07/20) #6 nanon (06/09/20) #4 jane (03/10/20) #23 ceritasma (03/12/20) #24 coldgirl (8/05/21) Ps: mohon maaf kalau chapter awal tulisan masih belu...
