Cindy mengganti posisi tidurnya menjadi terlentang, lalu menaikkan selimutnya hingga menutupi dada. Ini sudah keempat kalinya dia berganti posisi, tapi tetap saja tidak bisa tidur.
Kini Cindy meluruskan kepalanya, menatap langit-langit kamar yang sengaja dicat warna biru. Katanya, warna itu bisa memberikan efek tenang bagi pikiran. Namun kenyataannya, hal itu sama sekali tidak berhasil. Bukannya tenang, Cindy malah semakin teringat pada percakapannya dengan Ken di atas motor tadi sore.
"Makasih ya," ucap Ken di sela-sela deru suara motornya yang beradu dengan keramaian di jalanan.
"Buat?" tanya Cindy.
"Buat lo yang udah mau bantuin gue," jawab Ken.
Cindy terdiam sejenak. "Makasih juga," katanya kemudian.
"Buat?" Giliran Ken yang bertanya.
"Lo, kan, juga sering bantuin gue." Cindy memberi jeda sebentar, tampak sedang berpikir. "Meskipun gue udah jutek banget sama lo," lanjutnya dengan suara yang lebih pelan.
"Ternyata lo bisa juga ya ngomong setenang ini sama gue," sahut Ken.
"Emang biasanya gimana?"
"Biasanya galak kayak macan nggak dikasih makan dua minggu," canda Ken.
Cindy langsung melayangkan satu pukulan ringan di bahu Ken. "Gue nggak segalak itu ya. Pak Ali yang lebih mirip macan," protesnya tak terima.
Ken terkekeh. "Dendam amat sama Pak Ali, emang siswi yang patuh aturan kayak lo pernah dihukum?"
"Pernah."
"Kenapa?"
"Gara-gara ngasih makan ikan sembarangan."
Ken terbahak mendengarnya. Di SMA Tunas Bangsa, memang ada larangan bagi siswa untuk memberi makan pada ikan di kolam. Hanya tukang kebun sekolah saja yang boleh melakukannya.
"Untung ya, di sekolah nggak ada larangan buat jatuh cinta. Kalau ada, pasti gue jadi yang paling sering masuk BK."
Cindy mengernyit. Dia mau membuka mulut untuk bertanya, tapi Ken mendahuluinya.
"Soalnya, tiap hari gue selalu jatuh cinta sama lo," lanjut Ken.
Cindy menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Entah kenapa rasanya malu sendiri kalau mengingat percakapan itu. Padahal Cindy tahu kalau Ken pasti hanya menggombal seperti biasanya.
Ting
Ponsel Cindy berdenting. Dia menoleh dan meraih ponselnya yang tergeletak pada sebuah meja kecil di samping kasurnya.
Saat layar ponsel itu menyala, tampak sebuah pemberitahuan dari salah satu aplikasi chat yang sering dia gunakan. Tanpa membukanya, Cindy sudah bisa melihat nama pengirim beserta isi chatnya.
Ken
Good night, Tuan Putrinya Ken.
Cindy mengembalikan ponselnya ke atas meja dan menutup seluruh wajahnya dengan selimut. Aneh, dulu Cindy benci sekali dengan panggilan itu. Namun sekarang rasanya ada perasaan aneh yang menyusup di hatinya ketika mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unperfect Princess
Fiksi RemajaTebak semua teka-teki dalam cerita ini dan temukan tokoh antagonis yang sebenarnya! Rank #1 puimek (21/07/20) #6 nanon (06/09/20) #4 jane (03/10/20) #23 ceritasma (03/12/20) #24 coldgirl (8/05/21) Ps: mohon maaf kalau chapter awal tulisan masih belu...
