Suasana cafe terlihat suram dengan penerangan yang remang-remang. Entah memang konsepnya begitu atau bagaimana. Pantas saja cafe itu sepi pengunjung.
"Gue minta lo nggak usah pindah ke Tunas Bangsa." Suara Raja terdengar pelan tapi tajam. Menambah kesan suram yang Clay terima di sekitarnya.
"Kenapa? Bukannya lebih seru kalau gue, lo dan Ken kumpul bareng lagi? Atau gue harus ajak Tio sekalian?" tanya Clay.
Raja mendengus kesal. "Berhenti main-main, Clay. Gue tau lo sama Ken pasti lagi ngerencanain sesuatu kan?"
"Lo ngomongin apa sih, gue nggak paham." Clay mengernyit heran. Namun Raja tidak menurunkan kadar kecurigaannya sama sekali.
"Gue nggak bego ya. Gue tau kalian berdua pasti masih ngelakuin kebiasaan kita dulu. Lo selalu bikin rencana buat gangguin orang yang lo benci," tuduh Raja sengit.
"Kita udah bukan bocah SMP lagi. Lo juga teman gue, nggak mungkin gue ngelakuin hal itu sama lo," jelas Clay.
Raja tetap menatap sinis ke depan, tidak melunak sama sekali. "Lo mungkin ga ngelakuin hal itu sama gue, tapi gimana dengan orang terdekat gue?"
"Jadi lo lagi deket sama seseorang?" tanya Clay.
Raja tiba-tiba bangkit dari kursi dan menumpukan kedua tangannya di meja sambil sedikit mencondongkan tubuh. "Nggak usah sok polos. Gue yakin lo pasti tau soal itu. Inget ya, gue nggak akan tinggal diam kalau lo atau Ken berani gangguin orang terdekat gue," kata Raja dengan nada penuh ancaman lalu pergi begitu saja.
Clay hanya mematung di tempat. Dia kaget dengan ucapan Raja tadi. Sekaligus tidak percaya bahwa Raja bisa mengancamnya seperti itu.
***
Ken teringat kalau jadwal kontrol Cindy sebulan sekali. Karena tidak mau kalah lagi dari Raja, kali ini Ken berinisiatif untuk lebih cepat menawarkan diri untuk mengantar Cindy ke rumah sakit sebagai salah satu bentuk perhatiannya.
"Gue bisa berangkat bareng bokap kok," ucap Cindy tak mau merepotkan.
"Emang bokap lo besok nggak kerja?" tanya Kayla.
"Kerja sih," jawab Cindy.
"Mending lo bareng Ken aja kali, biar bokap lo nggak bolak balik, Cindy," timpal Dini.
"Nggak apa-apa, gue cuma nggak mau ngerepotin Ken," sahut Cindy.
"Niat baik itu nggak boleh ditolak loh Tuan Putri," kata Gilang ikut menghasut Cindy.
"Bener. Lagian lo nggak usah ngerasa nggak enak gitu. Kita semua sekarang kan udah jadi teman," imbuh Arka.
Cindy merasa terpojok karena seluruh teman-temannya merayu dia untuk menerima tawaran Ken. Sementara cowok itu hanya senyam senyum karena mendapat dukungan dari teman-temannya.
"Yaudah deh kalau gitu, tapi gue nggak ngerepotin elo kan?" tanya Cindy memastikan pada Ken.
"Nggak kok, tenang aja," jawab Ken mantap dengan senyuman khasnya membuat wajah Ken semakin terlihat menawan.
Mereka lalu mengganti topik pembicaraan tentang ujian semester yang akan mereka hadapi seminggu lagi.
***
Cindy meletakkan tasnya di meja belajar, lalu menoleh dan menatapi setumpuk boneka minion yang ditata rapi di sudut kamarnya. Cindy mengambil salah satu boneka yang letaknya paling depan, sebuah boneka minion yang diberi oleh Ken beberapa waktu lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unperfect Princess
Teen FictionTebak semua teka-teki dalam cerita ini dan temukan tokoh antagonis yang sebenarnya! Rank #1 puimek (21/07/20) #6 nanon (06/09/20) #4 jane (03/10/20) #23 ceritasma (03/12/20) #24 coldgirl (8/05/21) Ps: mohon maaf kalau chapter awal tulisan masih belu...
