20. Tidak Sempurna

499 125 100
                                        

Pagi ini adalah waktunya olahraga untuk kelas XI IPS 1. Mau tak mau, semua siswa dari kelas tersebut, berjalan menuju lapangan basket. Meski angin sedang berhembus dingin dan seragam olahraga didesain lebih tipis dibanding seragam lainnya, mereka tetap harus melakukan pemanasan seperti biasa.

Cindy duduk di pinggir lapangan sambil bersandar pada salah satu pohon yang cukup besar. Tentu saja Cindy tidak melakukan kegiatan olahraga seperti teman-temannya yang lain, karena kondisi kakinya yang tidak memungkinkan. Jadi, setiap pelajaran olahraga, biasanya Cindy mengenakan seragam olahraga lalu duduk di pinggir lapangan sambil mendengarkan penjelasan dari gurunya.

Karena masih melakukan pemanasan mandiri yang dipimpin oleh Satria, Cindy tidak terlalu fokus pada teman-temannya. Dia malah memperhatikan jajaran kelas yang mengelilingi lapangan basket.

Salah satu kelas yang terlihat berbeda, berhasil menarik perhatian Cindy. Tidak seperti kelas lain yang tampak kondusif dan pintu yang ditutup rapat-rapat. Kelas itu justru membuka pintu dan gordennya lebar-lebar. Sepertinya jam kosong tengah berlangsung di sana.

Cindy memiringkan kepala agar bisa melihat isi dari kelas tersebut. Tanpa terasa badannya pun sampai ikut miring.

"Ngapain ngintip-ngintipin kelas gue?"

Suara itu nyaris membuat Cindy menjerit kaget. Untung saja Cindy mampu menahan diri dan hanya berjengit sambil menegakkan kembali badannya.

Cindy melengos pada pelaku utama penyebab keterkejutannya, kemudian kembali menatap lapangan basket.

Ken berjalan mendekat dan duduk di sebelah Cindy. Cowok itu bahkan ikut bersandar pada pohon yang sama.

"Pasti lagi nyariin gue ya?" tanya Ken penuh percaya diri.

"Dih, geer," sembur Cindy cepat. "Kok lo bisa ada di sini sih?" tanyanya mengalihkan topik.

"Soalnya Tuan Putri ada di sini," jawab Ken.

Cindy mendengus. "Terus kalau gue masuk sumur, lo bakalan masuk sumur juga gitu?"

Dalam waktu kurang dari satu detik, Ken menjawab. "Iya."

Cindy mengernyit heran. "Aneh," ejeknya.

"Gue bakal masuk sumur buat nolongin elo," sahut Ken mantap.

Cindy terdiam. Dia lupa kalau jalan pikiran Ken memang susah ditebak.

Hening sejenak. Tidak ada yang berbicara lagi di antara mereka. Hanya terdengar suara Satria yang masih menghitung satu sampai delapan untuk mengomando teman-temannya.

"Pasti bosen ya, nggak bisa olahraga bareng temen-temen lo?" Ken berusaha memecah keheningan di antara mereka.

Cindy menoleh kepada cowok yang duduk bersila di sebelahnya. "Lumayan. Tapi mau gimana lagi, kaki gue...."

"Gue udah tahu kok," sela Ken. "Kak Nia udah cerita semua tentang lo ke gue, termasuk tentang keluarga lo."

Cindy menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Bagus deh, jadi mulai sekarang, lo bisa berhenti panggil gue Tuan Putri."

Ken mengerutkan dahinya. "Kenapa?"

"Udah jelas, kan? Gue itu nggak sempurna. Mana ada Tuan Putri yang kakinya cacat kayak gue," jawab Cindy.

"Emang ada aturannya kalau jadi Tuan Putri itu harus sempurna?" tanya Ken lagi.

Cindy tidak segera menjawab. Lebih tepatnya, tidak bisa menjawab.

"KEN! BALIK WOY! BU GINA OTEWE!" Sebuah suara yang melengking nyaring tiba-tiba muncul dari arah pintu kelas XI IPA 5.

Cindy dan Ken sontak menoleh bersamaan. Namun, bukannya segera beranjak, Ken malah menoleh lagi pada Cindy.

Unperfect PrincessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang