"Mampus, kalian diusir Cindy!" ejek Gilang setelah Cindy pergi dari kantin.
"Kalian berdua kalo nggak mau berhenti, gue doain cepet mati aja dah!" sarkas Arka masih terlihat kesal.
Tak lama kemudian, Pak Ali datang memasuki kantin yang kondisinya masih berantakan. Guru BK itu menatap satu persatu siswa lalu terhenti kala melihat dua cowok yang dia duga sebagai oknum terjadinya keributan di sana.
Pak Ali berjalan mendekati Ken dan Raja kemudian memandangi mereka bergantian.
"Obati luka kalian, lalu segera menghadap saya di ruang BK," ujar Pak Ali sebelum akhirnya menyuruh para siswa bubar dan masuk ke kelas masing-masing.
Arka dan Gilang menghembuskan napas lega ketika akhirnya melepaskan Ken dan Raja. Sambil menatap Raja dengan tajam, Ken berlalu lebih dulu keluar dari kantin lalu disusul Raja di belakangnya.
Keluar dari area kantin, mereka bedua langsung disambut dengan guru pembina PMR sekolah dan siswa anggota PMR yang sedang memberi pertolongan pertama pada Dini. Cindy juga ada dalam kerumunan itu. Gadis itu terlihat sedih karena tidak bisa berbuat banyak ketika sahabatnya terbaring lemah dan dibawa masuk ke dalam mobil sekolah untuk diantar ke rumah sakit.
Sejenak pandangan Ken dan Cindy saling beradu sebelum akhirnya Ken yang memutuskan kontak mata terlebih dahulu. Dia melanjutkan langkah menuju ruang UKS.
"Cin." Raja berusaha mendekat.
Cindy mengabaikannya. Dia segera melangkah menjauh dari kantin. Raja tentu langsung mengejarnya. Berjarak beberapa meter dari kantin, Raja menahan Cindy. Namun saat Cindy berbalik, tatapannya nanar.
"Gue nggak bermaksud buat ngedorong elo. Tadi gue emosi," ucap Raja.
"Lo udah keterlaluan, Raja," geram Cindy.
"Gue lagi emosi tadi," sahut Raja.
"Kenapa juga lo harus emosi kayak tadi?" timpal Cindy.
"Menurut lo siapa yang nggak emosi kalau ada di posisi gue?" protes Raja.
"Lo kan bisa tanya baik-baik dulu, jangan asal main pukul. Lagian tadi Ken bilang kalau bukan dia yang nyebarin rumor itu."
"Jadi sekarang lo belain Ken?"
"Gue nggak ngebela Ken. Gue cuman nggak suka cara lo nyelesaikan masalah. Lo tuh bukan anak kecil lagi, lo harus bisa kontrol emosi."
"Nggak usah ngatur-ngatur gue!" bentak Raja spontan.
Cindy terkejut, untuk pertama kalinya Raja berkata seperti itu. Emosi yang masih meluap, seolah Raja tumpahkan tanpa tau arah.
"Selama ini lo selalu cuek dengan apapun pendapat orang tentang lo, kenapa kali ini lo kelihatannya marah banget?" Suara Cindy bergetar saat mengucapkannya. Tidak pernah terbayangkan bahwa dia dan Raja akan bertengkar seperti ini.
"Atau jangan-jangan rumor itu memang bener? Lo adalah dalang dari tradisi di Nusantara sampai teman lo.." Cindy kesusahan melanjutkan kalimatnya. Air matanya sudah siap tumpah meski dia belum mendengar jawaban Raja.
Kedua bahu Raja merosot. Wajahnya yang semula mengeras perlahan melunak. Raja menunduk sebentar. Dia terlalu malu untuk menatap Cindy.
"Jawab gue, Raja. Lo nggak seperti itu kan?"
Raja menggigit bibir bawahnya. Perlahan kepalanya terangkat. "Tradisi di Nusantara itu memang ide gue."
Air mata Cindy mengalir membasahi pipinya. Selama ini dia pikir Raja hanya cowok dingin yang susah bersosialisasi, rupanya Raja lebih buruk dari semua yang dia bayangkan. Cindy tidak menyangka bahwa cowok yang dia kagumi ternyata tidak sebaik yang dia kira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unperfect Princess
Fiksi RemajaTebak semua teka-teki dalam cerita ini dan temukan tokoh antagonis yang sebenarnya! Rank #1 puimek (21/07/20) #6 nanon (06/09/20) #4 jane (03/10/20) #23 ceritasma (03/12/20) #24 coldgirl (8/05/21) Ps: mohon maaf kalau chapter awal tulisan masih belu...
