Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Perayaan diesnatalis SMA Tunas Bangsa sudah di depan mata. Beberapa anggota osis tampak sibuk mondar-mandir di lapangan, mempersiapkan segala keperluan untuk pensi kecil-kecilan yang mereka adakan.
"Anjrit. Niko hari ini nggak masuk katanya tipesnya kumat," ucap Gilang sambil menatap layar ponselnya.
"Yang bener aja lo." Tidak mau langsung percaya, Arka ikut mengintip layar ponsel Gilang. Kedua matanya langsung melebar begitu melihat pesan singkat dari salah satu rekan satu grup bandnya.
"Lah, terus kita gimana? Siapa yang mau nyanyi? Gue nggak mau ya, suara gue fals." Fery sang drummer melantangkan sebuah penolakan meski Gilang dan Arka masih belum berpendapat apa-apa.
"Suara lo bagus, Lang. Nggak fals lah, masih masuk gitu ke nada," ucap Arka yang langsung disambut gelengan dari Gilang.
"Nggak, gue nggak bisa nyanyi sambil main alat musik. Nggak konsen. Lo pikir gue secerdas Ken apa, yang bisa multitask...." Belum selesai Gilang mengoceh, mereka bertiga kemudian terdiam, saling tatap, seolah melemparkan telepati satu sama lain.
Ketiganya kemudian kompak menoleh pada Ken yang duduk di bangkunya sambil bermain game di ponsel. Cowok itu berjarak sekitar dua meja dari mereka.
"Anggota band dari IPA 5, tolong segera ke belakang panggung ya, bentar lagi mau dimulai." Suara pengurus acara yang sedang berdiri di ujung pintu kelas terdengar.
"Iya, bentar lagi kita ke sana," sahut Arka lantang.
"Oke, ditunggu ya."
Arka kembali fokus pada Gilang dan Fery, dua rekan segrupnya. "Jadi gimana?"
"Ya udah, minta Ken gantiin Niko jadi vokalis aja deh," saran Fery.
"Emangnya mau?" tanya Arka. Dia yakin seratus persen Ken akan menolak mentah-mentah permintaan mereka.
"Gampang, gue yang atur deh. Kalian ke belakang panggung aja dulu." Gilang bangkit berdiri dari kursinya.
"Kok lo bisa yakin gitu?" curiga Arka.
"Percaya aja sama gue. Sana kalian kumpul dulu, daripada dimarahin anak osis ntar."
Meski ragu, Arka dan Fery tidak punya pilihan. Mereka lalu beranjak keluar dari kelas. Sementara Gilang, datang mendekati Ken.
"Ken, lo nggak mau nonton gue tampil?" tanya Gilang.
"Eh? Udah mau mulai ya?" Ken menurunkan tangannya kemudian menengok ke arah pintu kelas yang terbuka, mengecek bagaimana kondisi di luar kelasnya.
"Lo harus nonton di bagian paling depan pokoknya ya. Gue nggak mau tau, lo harus semangatin gue," pinta Gilang pada Ken.
"Iya santai aja, ntar gue nonton paling depan pasti," sahut Ken enteng sembari berdiri dari bangkunya.
Gilang hanya tersenyum penuh arti. "Bagus! Gue duluan ya!"
Ken mengacungkan jempolnya, tanpa menyadari rencana Gilang yang sebenarnya.
***
"Oke, penampilan selanjutnya ada temen-temen kita dari kelas 11 IPA 5, kasih tepuk tangan dulu dong!"
Suara riuh tepuk tangan dari penonton memenuhi lapangan SMA Tunas Bangsa. Gilang, Arka dan Fery berjalan menaiki panggung lalu bersiap di posisi masing-masing.
Sesuai janjinya, Ken berdiri di barisan penonton bagian depan. Sebenarnya bukan di barisan terdepan, karena bagian itu sudah dipenuhi para gadis. Hanya saja jaraknya masih cukup dekat dengan panggung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unperfect Princess
Teen FictionTebak semua teka-teki dalam cerita ini dan temukan tokoh antagonis yang sebenarnya! Rank #1 puimek (21/07/20) #6 nanon (06/09/20) #4 jane (03/10/20) #23 ceritasma (03/12/20) #24 coldgirl (8/05/21) Ps: mohon maaf kalau chapter awal tulisan masih belu...
