24. Bingung

508 102 66
                                        

Beberapa hari terakhir ini Cindy memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan. Namun, kali ini dia tidak ingin belajar, dia hanya ingin bersantai membaca buku yang dia sukai.

Cindy berjalan menyusuri rak bagian fiksi, kedua matanya bergerak naik turun mencari-cari judul novel yang menarik untuk dibaca. Pas sekali, ada sebuah buku karangan penulis terkenal yang sudah lama ingin Cindy baca. Namun, letaknya yang terlalu tinggi membuat Cindy sedikit kesusahan menggapainya.

"Aduh!" Cindy meringis ketika merasakan nyeri di pergelangan kakinya ketika dia berjinjit.

Cindy melemaskan pergelangan kakinya, lalu berusaha mengambil buku yang dia inginkan tanpa berjinjit, tapi Cindy masih kesulitan menggapai buku itu, hingga tiba-tiba muncul sebuah tangan yang lebih besar dengan mudah menarik buku yang Cindy inginkan.

Cindy berbalik dan terkejut begitu mendapati sepasang mata indah milik Ken berada tepat di depan matanya sendiri. Ternyata Ken yang telah mengambil novel incarannya tadi.

Lima detik.

Lima detik berlalu dalam hening seolah dunia berhenti berputar dan waktu berlalu begitu lambat. Sampai Cindy akhirnya menghindar ketika mendapatkan kesadarannya kembali. Ken pun langsung mundur selangkah sambil menurunkan buku yang dia ambil tadi.

Belum ada suara yang memecah keheningan diantara mereka berdua. Susah payah Cindy mengatur detak jantungnya yang mulai bergedup kencang. Apalagi saat Ken mengangkat tangan seolah-olah ingin memberikan bukunya pada Cindy.

"Nih," ucap Ken kemudian menyerahkan buku itu pada Shely yang ternyata sedang berdiri di balik punggung Ken sejak tadi.

Oh, ternyata Ken mengambilkan buku itu untuk Shely. Tentu saja, kenapa juga Cindy berharap kalau Ken mengambilkan buku itu untuknya?

"Thank you," ujar Shely terdengar manis. Gadis itu kemudian menyadari keberadaan Cindy di depan Ken. "Eh, Cindy?"

Cindy hanya tersenyum kaku, menatap Ken dan Shely bergantian. Ini kali pertama Cindy berhadapan dengan mereka setelah mendengar rumor tentang hubungan mereka berdua.

Cindy mendadak kehilangan minat bacanya pada buku apapun. Sekarang yang dia inginkan hanyalah pergi dari tempat ini secepatnya.

"Lo mau baca apa? Bareng gue sama Ken, yuk, di sana," ajak Shely ramah tapi terdengar menyebalkan di telinga Cindy. Benar-benar sulit dimengerti, Cindy tidak suka perasaan itu. Dia tidak membenci Shely, tapi rasanya apapun yang Shely lakukan terlihat menyebalkan.

Cindy menggeleng kuat-kuat. "Nggak deh, gue laper, mau ke kantin aja," ucapnya berbohong.

Sekilas Cindy melirik Ken yang ternyata masih memandanginya, kemudian kembali tersenyum kaku pada Shely sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.

Cindy mendengus. Lucu sekali. Dulu Ken meminta bantuannya agar Shely tak menumpang pulang dengannya. Namun kini mereka berdua seperti perangko yang tidak bisa dilepaskan. Cindy menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Kenapa rasanya Cindy jadi ingin marah?

***

Kayla berdecak sebal. "Sepi banget," keluhnya sambil bertopang dagu. Dia menatap meja-meja kantin yang mulai ditinggalkan penghuninya.

"Abis ini kita susul Cindy aja ke perpustakaan," sahut Dini sebelum menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

"Bukannya di perpus bakalan lebih sepi ya?" tanya Kayla.

Dini membuka mulut untuk menyahut lagi, tapi dua orang yang tiba-tiba datang meletakkan piring nasi di hadapannya membuat atensinya beralih.

"Sepi, kan, kalau nggak ada gue?" ujar Gilang penuh percaya diri sambil mencari posisi yang nyaman untuk duduk.

Unperfect PrincessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang