41. Rencana Rahasia

55 8 1
                                        

Hari pertama ujian semester di Tunas Bangsa berjalan dengan lancar. Setidaknya untuk Ken, entah bagaimana dengan kedua sahabatnya. Wajah Arka dan Gilang terlihat sangat kuaut setelah mengerjakan ujian dari tiga mata pelajaran hari itu.

"Kenapa ujian matematika harus ada di hari pertama? Otak gue langsung meleleh jadinya," protes Gilang.

"Kenapa juga ujian bahasa inggris ada di hari pertama? Kuping gue tiba-tiba budek waktu listening tadi," keluh Arka.

Ken terkekeh pelan. "Kalian belum tau aja, kalau di Nusantara, guru matematika ngajarnya pakai bahasa inggris."

Arka dan Gilang sontak melotot kaget.

"Waduh, gue bisa muntah-muntah di kelas kalau kayak gitu," sahut Gilang hiperbola.

"Sama," sambung Arka.

Ken tertawa mendengarnya, tapi tak lama, karena dering ponsel membuat atensi Ken beralih.

Arka dan Gilang terus berjalan sambil asik berbincang, sementara Ken berhenti di pinggiran koridor untuk mengangkat sebuah panggilan masuk dari sahabatnya.

"Kenapa sih lo akhir-akhir ini susah dihubungi?" tanya Tio saat teleponnya sudah terhubung pada Ken.

"Sori deh, gue lagi ujian semester, jadi tadi hpnya gue matiin," jawab Ken. "Emang ada apa sih?"

Terdengar helaan napas berat dari seberang telepon. "Clay sakit."

Ken terkejut mendengarnya. "Bukannya beberapa bulan terakhir ini Clay selalu sehat-sehat aja, kenapa sakit lagi?"

"Kemarin dia nggak sengaja makan udang, jadi alerginya kambuh. Trus kata dokter ada kemungkinan Clay juga stress, bikin pencernaannya juga terganggu, jadi dia butuh nenangin pikiran juga," jelas Tio singkat. "Lo ke sini dong, bantuin gue biar Clay mau makan. Kalau nggak makan dia nggak bisa minum obat."

"Yaudah, sekarang gue langsung ke sana," putus Ken cepat.

"Oke, gue tunggu," ucap Tio.

Setelah memutus sambungan telepon, Ken segera berlari menembus kerumunan siswa Tunas Bangsa yang hendak menuju koridor utama. Arka dan Gilang sampai kaget ketika Ken dengan cepat melewati mereka berdua.

"Buset, dia kenapa? Buru-buru banget." Suara Kayla muncul dari persimpangan koridor IPS lalu berdiri di samping Arka. Dini dan Cindy juga mengikuti arah pandang Kayla. Mereka semua menatap punggung Ken yang terus bergerak lincah melewati setiap orang di hadapannya.

"Gue juga nggak tahu," sahut Arka.

"Ada panggilan alam mungkin, nggak bisa ditahan," celetuk Gilang asal disambut tawa dari teman-temannya.

***

Ken memarkir motornya di depan garasi rumah Clay. Clay memang tidak dirawat di rumah sakit, karena keluarganya telah menyiapkan dokter pribadi, khusus untuk Clay. Biasanya dokter pribadinya akan datang pagi dan sore hari untuk memantau kondisi Clay atau di waktu-waktu tertentu saat mendapat panggilan darurat.

Kata Tio, kemarin saat orang tua Clay masih di sini, Clay masih mau makan dengan teratur tanpa disuruh. Namun semenjak orang tuanya berangkat untuk perjalanan bisnis ke luar negeri tadi malam, Clay tidak mau makan lagi seperti sebelumnya.

Unperfect PrincessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang