Cindy menyumbat telinganya dengan earphone, kemudian memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri di atas kasur. Suara Dini dan Kayla masih terngiang karena sejak jam istirahat berakhir kedua sahabatnya itu tak lelah berceloteh tentang kejadian di kantin. Mereka seperti orang tidak waras ketika mendengar kabar kalau cowok yang disebut sebagai pangeran sekolah itu, dihajar oleh Raja. Heboh menggunjing Raja yang menurut mereka terlalu berlebihan. Untuk kalimat terakhir, Cindy setuju dengan teman-temannya, walaupun ia tidak menampakkannya secara langsung.
Cindy menghela nafas berkali-kali, lalu otaknya memutar ulang saat Ken berkata akan mengungkap satu fakta menarik tentang Raja. Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya itu bukan sebuah omong kosong belaka. Raja bahkan sampai memukul Ken karenanya.
Tapi, memangnya Ken siapa sampai tau rahasia Raja? Teman-temannya di klub basket pun bahkan nggak akan tau banyak perihal cowok dingin itu. Raja sangat tertutup dan Cindy cukup tau diri kalau ia tidak bisa melakukan apapun dengan hal itu. Jadi, siapa Ken sebenarnya? Kenapa juga Raja harus semarah itu dengan Ken? Kenapa pula harus Ken yang tau rahasia itu?
"Aish!" Cindy menarik kedua earphonenya dengan kasar. Tentu saja kesal karena dia jadi kepikiran terus dengan cowok paling menyebalkan di sekolahnya itu.
***
Ken melangkah masuk ke dalam rumah dan segera menuju ke kamarnya, ingin secepatnya membasuh tubuh yang terasa kotor.
"Widih, jadi jagoan lo sekarang."
Ken terperanjat kaget mendengar suara yang menyapanya. "Kak Nia? Kok lo di sini?"
"Kan ini rumah gue juga," sahut Nia santai.
"Nggak kuliah?"
"Papa yang nyuruh, tadi gue abis belajar tentang manajemen di rumah sakit. Kan semester depan gue magang di sana."
"Oh." Hanya itu respon yang Ken berikan.
Nia memandang Ken dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seragamnya kotor, rambutnya berantakan, serta ujung bibir yang memar dan berdarah sukses membuat Ken terlihat seperti gembel.
"Kenapa muka lo? Abis berantem sama siapa? Pasti gara-gara cewek ya?" tanyanya bertubi-tubi.
Ken membuang nafas panjang, "Kepo ya lo. Gue mau mandi dulu deh. Capek."
"Dih." Nia melangkah mendekat, "Pinjem hp dong. Mau hotspot," pintanya kemudian.
"Kan ada wifi."
"Lagi gangguan sejak gue dateng. Buruan dah gue banyak tugas nih," desak Nia tak sabar.
Dengan setengah hati Ken memberikan ponselnya, "Jangan dibuat main youtube," ucapnya memperingati.
"Kalo buka netflix boleh, kan?" Ken baru saja membuka mulut untuk protes, tapi Nia sudah melesat cepat masuk ke dalam kamar. Ujung-ujungnya, ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya itu.
***
Ken duduk di ujung kasur sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil. Ia meringis pelan saat ujung handuk mengenai sisi kiri wajahnya. Rasa perih dari luka di bibirnya memang baru terasa setelah Ken menggosok gigi tadi. Ia pun merogoh isi tasnya, mencari-cari salep yang ia simpan di sana.
"Oh, jadi ini yang bikin muka adek gue kusut dari tadi." Ken melihat Nia yang seenaknya menerobos masuk ke dalam kamarnya.
"Ketuk pintu dulu dong kalo mau masuk."
"Oh iya, gue lupa siapa tadi namanya...Ciii...Cindy?" Nia mengabaikan protesan adiknya dan membuka kembali isi chat Ken dengan teman-temannya.
Ken terbelalak melihatnya, ia segera meraih ponselnya, tapi ternyata Nia jauh lebih cepat untuk menghindar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unperfect Princess
Novela JuvenilTebak semua teka-teki dalam cerita ini dan temukan tokoh antagonis yang sebenarnya! Rank #1 puimek (21/07/20) #6 nanon (06/09/20) #4 jane (03/10/20) #23 ceritasma (03/12/20) #24 coldgirl (8/05/21) Ps: mohon maaf kalau chapter awal tulisan masih belu...
