[2] UNBELIEVE

1.3K 184 16
                                        

Nippon, Telegraph & Tel

Gugup menguasai diri ketika kaki baru saja melangkah masuk melalui pintu otomatis. Naruto dikerumuni oleh rekan kerjanya, terutama perempuan. Jujur saja, dia merasa tidak nyaman ketika tangan dengan kuku merah menyala berhasil menyentuh rahang. Ia risi, meskipun tatapan yang diberikan padanya menunjukkan rasa simpati.

"Tolong menjaulah, aku merasa tidak nyaman denganmu." berakhir dengan berkata ketus, namun hal itu tidak mempan membuat perempuan di sana menjauh.

Tidak ada pilihan lain, maka ia memutuskan pergi begitu saja. Meskipun beberapa tangan berusaha menyentuh lengannya. "Maaf!" salah satu perempuan menghalangi jalan.

"Apa?" lelaki pirang berhenti, menoleh tanpa minat. Bahkan helaan napas terdengar begitu berat. "Tidak perlu membahas hal yang sudah terjadi. Lagi pula, ini kesalahanku karena menyetir saat sedang mabuk."

Wanita itu ingin menyela, namun Naruto lebih dulu menimpal. Berlama-lama di sini hanya semakin membuat kepalanya pusing. "Aku tidak suka sikap berlebihan yang kau berikan," katanya ketus. "Jangan sembarangan menyentuhku, Delta! Kuku-kuku itu sangat sakit menggores rahangku. Apa kau mencoba untuk membunuhku?"

"Apa?" wanita itu terperangah, mengedar pandangan sekitar ketika dia berhasil mengundang perhatian. Itu karena suara lelaki pirang terdengar membentak dirinya. Naruto beranjak, tanpa mengindahkan tatapan simpati rekan kerja lainnya.

Dia menatap datar, sikap terus terang yang diperlihatkan Delta sungguh mengganggu. Karena memang sejujurnya ia merasa tidak nyaman. Belum lagi saat mereka bermain permainan konyol ketika wanita itu harus mengakui perasaannya. "Menyebalkan, entah kenapa bagian itu yang paling aku ingat sampai sekarang." gumamnya.

Sasuke melirik dari ujung matanya, "Hal yang paling menyebalkan tidak akan mudah dilupakan," meskipun ada rasa simpati pada wanita itu, sungguh menyakitkan bila perasaan ditolak oleh sang pujaan hati. "Kau sungguh terus terang padanya." namun itu tidak membuat sahabatnya mengindahkan dan memilih mengabaikan.

Saat di pagi hari, dua orang itu selalu memilih menaiki anak tangga daripada lift. Berhubung ruangan kerja tidak sampai lantai lima, hitung-hitung sebagai olahraga. Sasuke selalu berkata demikian, karena kerja mereka lebih sering duduk dan memandangi layar monitor.

"Kau baik-baik saja?" keluar dari lift, Sasuke menahan tubuh itu agar tidak sampai menyentuh lantai. Naruto mendadak linglung.

"Hei, apa yang terjadi?" Code berlari, anak magang yang baru lulus beberapa bulan lalu memasang wajah khawatir. "Kau tidak apa-apa, Naruto-san?"

"Berhenti berbicara formal," Naruto berdiri tegap kemudian, dia menggeleng lemah kepalanya. Entah kenapa kepala itu mendadak pusing sekarang. "Mungkin ini efek setelah siuman." padahal ketika dia bangun, tidak ada perasaan sakit sama sekali.

"Tidak, itu karena kau belum makan. Apa aku benar, Naruto?"

"Ah?" mereka berdua bertukar pandangan, si pirang tertawa kikuk. Hal itu berhasil membuat Sasuke menggeram, menendang tulang kering dengan sepatu pantofel yang digunakan. "Ini sakit!"

"Dasar!"

Code bergeming di tempat, mengumbar senyuman yang tak dibalas. "Pergi dan belikan aku makanan, anak magang." kata Naruto sembari memberikan beberapa lembar yen.

"Berhenti memanggilku anak magang, Naruto-san!"

"Kalau begitu, berhentilah memanggilku dengan formal."

◊◊◊◊

Rutinitas biasa yang dilakukan oleh Hinata ketika memiliki waktu senggang adalah membersihkan kandang hamster. Ada sekitar lima kandang hamster dengan ukuran yang berbeda tersusun rapi. Setiap kandang selalu diberi papan nama. Satu hal yang tidak pernah berubah saat membersihkan kandang hamster, yaitu ̶ ̶ kucing perliharaannya selalu bersiap siaga di depan kandang. Ia memandang teduh, lalu menghela napas. "Aku tidak akan ceroboh lagi. Jangan pernah menyentuh hamsterku." ia berkacak pingang memandang kucing.

UNBELIEVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang