[10] UNBELIEVE

612 135 29
                                        

Kedai itu terletak di kota Taito, Motosakusa. Kedai ramen sederhana, dengan banyak pelanggan di dalamnya. Kuah kaldu ramen menggelitik hidung dan mengguncang rasa lapar semakin tinggi. Di luar kedai, diberi tanda tidak boleh membawa hewan periaan. Namun mereka menyediakan tempat untuk mengikat tali anjing atau kucing, selama pelanggan menikmati makanan di dalam.

Gadis itu bermuram durja, Naruto melihat ekspresi tidak rela dari sana. "Tinggalkan saja dia," katanya. "Kalau mereka sudah menyediakan tempat, itu berarti kucingmu akan aman di sini."

"Apa boleh buat," suara itu terdengar lirih. Sudut bibirnya terangkat, Hinata mengaitkan kalung kucingnya pada besi. Ada sekitar dua kucing dan satu anjing tengah tertidur, ia juga melihat kucingnya akrab dengan kucing lain. "Sepertinya tidak buruk. Bukan begitu?"

Mereka masuk ke dalam kedai ramen, disambut hangat oleh pelayan di depan. Hinata tersenyum semringah ketika Paman Teuchi melambaikan tangan ke arahnya. Ia merasa seperti pelanggan spesial untuk hari ini. "Aku ke mari untuk menagih janji Paman," katanya, sembari menunjukkan kupon di tangan.

Teuchi mengelap keringat dengan kain yang diletakkan pada bahu kanannya. Pria paruh baya itu tersentak saat melihat gadis itu datang bersama Naruto. "Aku pikir kau akan datang bersama dengan kakakmu, atau Naruto-san adalah kakakmu?"

Gadis itu mengernyit bingung, melirik bergantian ke arah lelaki pirang di sebelahnya. "Tidak," jawabnya. "Suatu kebetulan kami bertemu, dan dia sedang dalam keadaan lapar. Mau tidak mau aku haru ̶ ̶ "

Naruto menarik bibir itu hingga berbentuk seperti moncong bebek. Mukanya merah padam menahan malu, gadis itu memang terlalu jujur dalam keadaan apa pun. "Berhenti berbicara dan jangan mengganggu Paman Teuchi. Lebih baik, kita segera mencari tempat duduk."

"Ah, ya ... silahkan." Teuchi tersenyum kikuk, melihat ke arah Naruto yang memaksa gadis itu untuk segera pergi. Sebagai pekerja lama, tentu dia paham sifat-sifat satu pegawai di Nippon. Salah satu yang paling mencolok adalah lelaki pirang itu.

"Ayame, dua mangkuk ramen dengan tambahan daging besar untuk meja nomor sepuluh."

"Dua mangkuk ramen ukuran besar akan segera siap!"

◊◊◊◊

Menikmati ramen dengan duduk di dekat jendela adalah tempat yang terbaik. Saat sedang berpergian atau makan di restoran, bersama dengan kakaknya akan memilih duduk di kursi paling sudut dengan jendela. Kebiasaan itu bahkan sering dilakukan sampai sekarang. Meskipun tidak bersama dengan Neji, tidak ada satu pun suasana yang berubah.

Dua mangkuk ramen ukuran besar dihidangkan di depan mereka. Mata gadis itu berbinar memandang, ia bahkan sampai menelan ludah ketika melihat ukuran daging cukup besar. "Wah ... lucky!"

"Kau bisa menghabiskan semuanya?" Naruto memandang mangkuk ramen miliknya, merasa tidak yakin bisa menghabiskan sendirian. Dibandingkan pelanggan yang lain, ia merasa mangkuk ini terlalu besar.

"Tentu saja!" jawab gadis itu semangat. "Tidak ada makanan yang tidak tersisa, selama sudah dihidangkan di depan mataku. Kalau kau tidak bisa menghabiskannya, aku akan membantumu."

Sumpit itu ditahan ketika ingin mengambil satu potong daging. Hinata menengadah, memandang muram durja di depannya. "Aku mencoba membantumu," katanya. Ia kembali meletakkan sumpit di mangkuk, mengabaikan tatapan peringatan di depan. Ramen lebih menggoda, daripada lelaki pirang di depannya.

Nafsu makan itu perlahan menurun, ketika melihat gadis itu makan dengan lahap. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit, tidak ada lagi isi di dalam mangkuk ramen itu. Naruto terperangah, ini pertama kalinya melihat seorang perempuan yang tidak malu makan di depannya. Beberapa perempuan yang ia temui ̶ ̶ baik rekan kerja atau kencan buta. Mereka selalu menyisakan makanan, ada pula yang hanya mencicipi sekali lalu tidak makan lagi. Terkadang ia merasa sayang pada uang yang telah dikeluarkan olehnya.

Entah untuk apa menyembunyikan sifat saat sedang makan. Para perempuan selalu berusaha terlihat elegan di depannya, namun hal itu justru terlihat menyebalkan dipandang.

"Ibuku akan marah padaku, saat melihat anaknya tidak menghabiskan makanan. Sekarang hal itu berlaku padamu saat aku melihatmu." Menggeser mangkuk ramen di depannya, menarik kursi agar lebih dekat dengan meja. "Kalau kau tidak keberatan, mari kita berbagi. Nafsu makan akan meningkat saat kita berbagi makanan pada wadah yang sama. Ibuku selalu mengatakan demikian."

Tidak mengindahkan apa pun, gadis itu makan di mangkuknya. Ia mengedar pandangan sekitar, tidak ada satu pun pasang mata memperhatikan mereka. Ini benar-benar canggung karena sikap terus terang gadis itu. Naruto terperangah saat Hinata menyuapinya dengan satu butir telur. Gadis itu tersenyum semringah. Muka merah padam, menyadari kalau mereka satu sumpit.

"Eh, kenapa? Terkadang, aku dan kakakku satu sumpit. Apa ada yang aneh?"

"Tentu saja, bodoh!" hardiknya. Jari-jari tangan itu menyisir rambut ke belakang, menggigit bibir karena geram. "Lupakan saja!" Nafsu makan itu kembali begitu saja tanpa alasan.

"Benar, 'kan? Makan di wadah yang sama pasti akan meningkatkan nafsu makan."

Naruto tidak mengerti dengan gadis itu. Meskipun sikap yang ditunjukkan agak menyebalkan, tetapi ia tidak membenci. Berbeda dengan perempuan yang selama ini mencoba mencari perhatian ke arahnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa nyaman dengan seorang gadis.

"Cobalah, meminum kuah kaldu dari mangkuknya."

"Aku sudah tahu," sahut Naruto. Ia mengambil mangkuk, dan meminum kuah kaldu langsung. Rasanya benar-benar melegakan.

"Ada sisa daun bawang." Hinata mengelap sudut bibir lelaki itu dengan tisu. Tersenyum semringah tanpa merasa malu sedikit pun. Justru, perasaan itu malah berpindah pada Naruto.

"Aku sempat berpikir, bahwa tidak akan ada seorang pun perempuan yang tertarik padamu."

Mereka menoleh, mendapati seorang gadis berkucir dua berwarna pirang. Hinata mengedipkan mata, memandang bergantian pada Naruto dan gadis di sebelahnya. Sangat mirip, hanya jenis kelamin yang membedakan.

"Eh?"

"Dia kakak laki-lakiku." Naruko melambaikan tangan, tidak mengindahkan muram durja saudaranya. "Kebetulan sekali bertemu dengan kalian." Menarik kursi untuk bergabung, dia bahkan menopang dagu sembari memandang wajah Hinata.

"Dilihat dari mana pun, sepertinya kita seumuran."

"Seumuran?" ulang Hinata. "Tidak, usiaku dua puluh lima tahun."

"Wah ... seriusan!"

Pandangan orang fokus ke arah mereka saat mendengar suara berisik, gadis berkucir itu bahkan sampai memukul meja. Naruto melempar tatapan peringatan, yang justru diabaikan oleh sang adik. Kepalan tangan begitu erat, siap dilayangkan.

Naruko mendesis, sudah lama dia tidak merasakan pukulan kakaknya. "Sialan! Padahal ini berita bagus. Ibu pasti senang kalau mendengar putranya sudah memiliki kekasih." Menjulurkan lidah, sembari mengambil ponsel. Ia segera keluar dari kedai, untuk lari dari amukan sang kakak.

"Sampai jumpa ... siapa pun namamu!" teriak gadis pirang itu dari luar.

Hinata memandang bergantian. "Dia mirip sekali denganmu," gumamnya. Tersentak saat melihat muram durja lelaki pirang itu. "Ada apa?"

"Ada apa!" geram Naruto. "Kenapa kau diam saja saat dia mengatakan kalau kau kekasihku?!"

"Heh? Apa?"

Dia menepuk dahinya, selain terus terang, sifat Hinata Hyuuga juga lambat mencerna perkataan. Helaan napas terdengar berat, duduk dengan pasrah di kursi. Melawan orang yang memiliki pikiran lambat, hanya akan membuang-buang waktu.

"Maaf ... kalau merasa kenyang, aku jadi sulit berpikir." Tergelak tanpa merasa bersalah, sembari menggaruk belakang kepala. Ya, gadis itu sangat pandai membuat darah naik dengan cepat.

"Kau ... kau, benar-benar menyebalkan!"

....

Words hari ini hanya 1090, karena saya sedang tidak enak badan. Mungkin bakalan lama update, juga karena sudah mulai sibuk di RL. Semoga semua tetap dalam keadaan sehat.

UNBELIEVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang