Cukup lama berdiam diri di depan lobi, hanya mata melirik hati-hati pada lelaki di sebelahnya. Ini jauh lebih canggung daripada saat di dalam ruangan kerja. Hinata tersentak saat lelaki pirang itu melirik ke arahnya, refleks mengalihkan muka.
"Apa aku memiliki masalah padamu?" tanya Naruto tanpa menatap gadis di sebelahnya. "Kau menatapku, seolah-olah kau akan memakanku di sini."
"Ah, maaf ...," gumam Hinata. Ia menghela napas, terdengar berat, hingga lelaki pirang itu memandang. "Rasanya benar-benar canggung, itu saja."
Naruto tersentak kecil memandang. Tidak menduga bahwa gadis itu sangat jujur, ia bahkan sampai mengerjap. Bibir terasa kelu untuk merespons kalimat sederhana itu. "Kau tidak pulang?"
"Oh, Uzumaki-san ̶̶ ̶"
"Tidak perlu berbicara dengan formal, usia kita tidak terlalu jauh."
Lelaki itu sekiranya berusia dua puluh tujuh tahun. Hinata tidak terlalu mengingat ketika Code bercerita banyak padanya. Bahkan menceritakan semua pegawai, karena setiap orang memiliki sifat yang berbeda dan harus memiliki cara yang berbeda pula untuk merespons. Salah satu pegawai yang paling banyak diceritakan adalah tentang Naruto Uzumaki, lelaki pirang di sampingnya sedikit ketus dalam berbicara.
"Benarkah? Maaf kalau begitu."
Hening kembali, tetapi suasana yang dirasakan tidak seperti sebelumnya. Setidaknya, adalah perasaan lega yang terselip, karena lelaki pirang itu merespons dengan baik.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," kata Naruto. Gadis di sebelahnya memiringkan kepala bingung. "Kau tidak pulang?" kembali mengulang kalimat, tanpa tahu tengah mengumpat karena kesal menghadapi sifat kepekaan yang lambat.
"Aku sedang menunggu kakakku," jawab Hinata. "Dia akan marah, kalau aku tidak ada di tempat."
Lelaki pirang itu melirik ke arah arloji di tangan kirinya, "Ini lebih dari satu jam." Naruto mengedar. Satu jam lagi matahari akan terbenam, pula kantor akan segera tutup. Meskipun tidak pernah sepi karena beberapa karyawan ada yang lembur, tetapi baginya tidak baik meninggalkan seorang gadis sendirian. Belum lagi, anak magang di sampingnya adalah tanggung jawabnya pada Itachi.
Muram durja berganti, mengingat satu itu membuat dirinya kesal bukan main. Ia paling tidak suka saat dia mendapat anak magang. Namun, ketika mengingat bagaimana cara kerja gadis itu yang cukup teliti, ia tidak bisa marah demikian. Menganggap bahwa ini suatu bantuan untuk meringankan kerja. Nippon, perusahaan yang saat sibuk pada bagian komunikasi.
"Kau tinggal di mana?"
"Apartemen Mimaru."
"Oh," gumam lekaki pirang itu. Tampak berpikir untuk mengantar. Apartemen itu terletak di daerah Nihombasi, sekitaran daerah Ginza. Netra birunya melirik penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Mengingat apartemen Mimaru merupakan apartemen yang tidak biasa. Cukup mewah untuk ditinggali oleh anak magang seperti Hinata Hyuuga.
"Tidak jauh dari stasiun Kayabacho. Mungkin mampir sebentar di Ginza tidak masalah. Kau butuh tumpangan?"
"Eh?" dia memekik, segera memandang panik ke arah lelaki itu. "Tidak perlu, sudah aku katakan kalau kakakku akan menjemputku di sini ̶̶ ̶"
Benar-benar waktu yang tepat saat mendengar suara klakson mobil. Hinata memandang bergantian, lalu membungkuk pada lelaki pirang itu sebelum menghampiri kakaknya. Ia juga mengucapkan terimakasih atas tumpangan yang hendak diberikan.
Naruto memandang mobil sedan putih buatan Honda. Ia melihat plat nomor di sana. "Sayang sekali," gumamnya. "Padahal hari ini aku ingin minum."
"Naruto-san?" muram durja berganti saat melihat lelaki berambut merah tergelak menghampiri. "Jangan tunjukkan ekspresi menyebalkanmu itu, bersikap baiklah sedikit pada juniormu." Code menyenggol lengan Naruto. Memiliki kepekaan yang lambat pada seseorang. Inilah yang terkadang membuat Naruto sangat kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNBELIEVE
Hayran KurguKetika dia selamat dari kecelakaan, tanpa ada luka sama sekali, orang-orang menganggap bahwa itu merupakan suatu keberuntungan. Namun tidak bagi Naruto, meskipun saat itu dia sedang mabuk. Mata masih sempat memandang seorang gadis tengah menolongnya...
