Lelaki itu terus bermuram durja, setelah mereka keluar dari kedai ramen. Ketika Hinata ingin berpamitan, Naruto justru menahannya sembari melempar tatapan peringatan. Tidak mengerti apa yang tengah dipermasalahkan, oleh karena itu Hinata memutuskan untuk duduk di kursi beton dekat dengan mesin vending. Tempat ini, tidak jauh daerah apartemen Mimaru.
"Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu?" tanya gadis itu. Refleks mengalihkan muka, saat tatapan peringatan dilempar kembali.
"Kau pikir aku kenapa?" hardik Naruto. "Tentu saja, aku kesal melihat adikku." Tangan mengepal kuat. Kembali membayangkan wajah sang adik, mampu membuat naik darah. "Sudahlah ... lupakan saja."
"Kalian terlihat tidak akrab. Apa yang membuatmu demikian?"
"Dia benar-benar menyebalkan! Selama berada di rumah, anak itu suka bolos kelas. Aku benar-benar tidak bisa mengaturnya, dan yang paling menyebalkan adalah saat dia mencoba untuk ikut campur dalam masalahku ̶ ̶ khususnya perempuan."
Netranya menatap Naruto bercerita panjang, lelaki pirang itu terlihat seperti menghayati cerita dan kesalnya. Terlihat dengan setiap detik, ekspresi itu berubah. Hinata tidak tahu, kalau atasannya itu merupakan orang yang banyak berbicara. Selain ekspresi sinis, ternyata ada bermacam ekspresi lain. Seperti terkadang mendongkol, menggeram, dan cemberut seperti anak kecil.
Dibandingkan dengan cerita yang disampaikan, ia justru lebih menikmati setiap perubahan ekspresi yang dilihat.
"Kau tidak mendengarkanku, 'kan?"
Hinata meneguk soda. "Ya, karena aku tidak pernah melihat perubahan ekspresi darimu setiap detik. Nada suaramu terdengar kesal saat menceritakan adikmu, tetapi bagiku justru terdengar sayang. Kau marah karena mengkhawatirkannya, bukan begitu?" Menutup mulutnya, tertawa kecil saat bersendawa di depan lelaki pirang itu.
Naruto bergeming di tempat, ada sesuatu yang baru saja menyentuh hatinya. Ia berkedip, memandang anak magang tengah tertawa sembari meminta maaf. "Sifat jujurmu sangat menyebalkan!"
"Aku dan kakakku juga sering berkelahi, kalau diingat kembali." Ia meletakkan jari di dagu, dengan kepala mendongak ke atas. "Kalau dipikir, aku terlalu banyak melakukan kesalahan terhadapnya," terang Hinata.
"Ya, aku tidak terkejut untuk hal ini," gumam Naruto. Ekspresinya mendadak berubah ketika melihat gadis itu tertawa tanpa merasa bersalah. Menghela napas, menyandarkan punggung selemas mungkin pada kursi beton.
"Pasti ada alasan lain yang membuatnya malas sekolah. Mungkin kau bisa tanyakan itu pada adikmu."
Dia berdecak lidah, menggumam sesuatu yang tidak dapat didengar oleh Hinata. Namun dari gerak bibir itu, ia menebak kalau Naruto tengah mengumpat.
"Adikku merasa tidak cocok sekolah di sini. Dia mengatakan padaku, kalau di sini terlalu banyak aturan. Hal yang wajar bagiku jika dia berpikir demikian, karena sudah terlalu lama tinggal di Barkeley bersama dengan ayahku. Pemerintahan di sana menganut sistem liberal."
Jika diingat kembali, hal yang membuat gadis itu sesungguhnya terkejut, bukanlah kehadiran Naruko yang mendadak. Melainkan, pakaian yang dipakai gadis pirang itu terlalu ketat. Celana denim yang terlihat seperti celana dalam. Kaus putih polos yang terlihat seperti kekurangan bahan.
"Apa dia akan pulang dengan selamat?" tanya Hinata, tampak khawatir. Naruto yang mendengar itu mengernyit bingung. "Seharusnya aku memberikan mantel ini pada adikmu, siapa tahu di luar sana ada pria cabul yang mengganggunya. Sungguh, kau sama sekali tidak khawatir?" Mengingat sudah di atas jam sepuluh malam, tetap saja, orang-orang jahat akan berkeliaran di jalan.
"Entah," sahut lelaki pirang itu, sembari mengedikkan bahu. "Dia tidak pernah pulang dengan terluka. Terakhir kali, di jalan aku melihatnya sedang memukul preman. Maka dari itu, aku memutuskan untuk membiarkannya saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
UNBELIEVE
FanfictionKetika dia selamat dari kecelakaan, tanpa ada luka sama sekali, orang-orang menganggap bahwa itu merupakan suatu keberuntungan. Namun tidak bagi Naruto, meskipun saat itu dia sedang mabuk. Mata masih sempat memandang seorang gadis tengah menolongnya...
