Minho merasakan dirinya saat ini tengah berbaring di kasur yang sangat empuk. Dengan mata terpejam dia memeluk Seonghwa yang tidur di sampingnya. Akhirnya dia bisa bangun dari mimpi itu.
"Seonghwa aku merindukan mu" kata pria itu. Tapi dia tak menemukan tubuh kurus itu. Tapi telapak tangan Minho memegang dada bidang yang begitu kekar. Saat dia membuka matanya, dia melihat Bang Chan yang tidur dengan shirtless di sampingnya.
"Kenapa aku masih di sini?" Gumamnya, dia langsung melepaskan pelukannya pada pria itu. Chan lalu kembali memeluk Minho lebih erat.
"Kau sudah sadar rupanya" ujar Chan dengan mata yang masih terpejam Minho berusaha untuk melepaskan diri tapi punggungnya masih sangat sakit.
"Hikss kenapa ini terjadi pada ku?" Dia menangis karena keadaannya saat ini. Chan membuka matanya lalu mengusap air mata dari pria itu.
"Kenapa kau menangis? Sini aku cium" dia mengecup bibir tipis milik Minho. Itu membuat Minho semakin menangis.
"Aku ingin pulang, kau tidak mengerti. Di sini semua orang ingin membunuh ku" kata pria itu.
"Aku tidak termasuk ke dalam orang yang kau katakan. Mana bisa aku membunuh manusia semanis diri mu" dia menatap Minho dengan senyuman genitnya.
"Apa kau bisa memukul atau menampar ku sampai pingsan?" Tanya Minho pada pria itu. Mendengar itu Chan menggeleng pelan.
"Tapi aku bisa bermain dengan mu sampai kau pingsan" kata pria itu. Minho menggeleng, kenapa orang ini selalu mengatakan hal seperti itu.
Minho sudah dua malam di sana, kenapa dia tak bangun juga. Bagaimana orang-orang di sana, apa Minho tidur selama ini?
Saat ini Minho tengah menatap ke arah jendela kamar itu. Tanpa dia sadari lengan kekar itu melingkar di dadanya.
"Apa yang kau lihat?" Tanya pria itu pada Minho.
"Jalan menuju rumah" jawab Minho singkat. Chan terkekeh mendengar nada ketus milik pria itu, dia menjadi semakin tertarik padanya.
"Hai! Lepaskan aku!" Katanya langsung berusaha melepaskan tangan kekar itu. Namun pria itu menolak, dia merangkul Minho semakin erat dan mengecup leher pria itu beberapa kali.
"Apa kau tidak bekerja? Bagaimana kau mendapatkan uang?" Tanya Minho lagi.
"Hmm tidak ada yang bisa aku lakukan di sini, aku ini Tuan Muda jadi tidak perlu bekerja untuk bertahan hidup" jawab pria itu. Mendengar itu membuat Minho seketika sedih.
"Aku iri dengan hidup mu, kau tidak usah bekerja membanting tulang untuk melanjutkan hidup" kata pria itu.
"Ayolah kau terlihat sedih sayang, lebih baik kita jalan-jalan ke luar saja. Bagaimana?" Tanya pria itu berusaha untuk menghibur Minho.
⚜⚜⚜
Chan tak pernah melepaskan genggamannya pada pria manis itu. Beberapa kali mereka bertemu dengan orang di jalan. Orang itu pasti menunduk atau bersujud. Ada juga beberapa orang yang berlari terbirit-birit ketika melihat pria itu.
"Ada apa dengan mereka?" Tanya Minho.
"Aku juga tidak tahu, padahal aku belum ingin membunuh mereka saat ini" jawab Chan singkat. Minho meneguk salivanya, lalu berjalan di samping Chan.
"Chan kau tidak boleh membunuh orang sembarangan" kata pria itu. Chan menoleh sambil menaikan salah satu alisnya.
"Kenapa?" Tanya pria itu.
"Membunuh itu adalah suatu kejahatan, jadi tolong jangan lakukan itu" kata Minho dengan wajah yang serius. Sebenarnya dia takut juga mengatakan itu. Tapi untung saja Chan tersenyum dan mengusap rambut pria itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
UNREAL || BANGINHO ✔
FanfictionBANGINHO FAN FICTION NOTE: Sebelum baca wajib follow akun author! "Dia sangat berbeda dari semua pria atau wanita yang pernah aku tiduri, aku tak akan melepaskannya" - Christopher Bang Chan. "Ini gila, ini tidak nyata. Tolong seseorang katakan bahwa...