───────────────────────────────
Di dalam hutan, Kian sudah menyamakan kecepatannya dengan Zac, dan Arsen yang terbang bersama Suna.
"Hei, ayo susun rencana dulu lah!" Teriak Arsen dari atas Suna.
"Hah?!" Si kembar tak mendengar.
Arsen merengut sebal dan akhirnya menyuruh Suna untuk bertengger di dahan pohon. Kian dan Jovan pun berhenti di dekat pohon itu.
"Nah, gini rencananya..."
Arsen memberitahu rencananya, si kembar menganggukkan kepala mengerti. Mereka pun langsung mencari mangsa.
"Eh, itu ada kelinci." Kata Kian kala meihat seekor kelinci yang melompat, jaraknya cukup jauh dari mereka.
"Yaudah ayo." Mereka pun langsung mendekat pada kelinci itu.
"Buset gede banget kelincinya." Gumam Jovan saat meihat ukuran kelinci itu dari dekat.
"Gapapa, bagus kita mam besar." Kata Kian sambil menepuk perutnya.
"Kak Arsen, ini gerak jangan?" Tanya Jovan sambil mendongak melihat Arsen yang duduk di dahan pohon.
"Sebentar..." Arsen memperhatikan kelinci itu dengan seksama.
Saat kelinci itu berbalik memunggungi mereka..
"Sekarang!"
Kian dan Jovan langsung keluar dari semak-semak dan memegangi kaki si kelinci.
Kelinci itu terkejut dan berontak. Si kembar kewalahan dan akhirnya kelinci itu kabur.
"Yaah lepas." Jovan mendengus kecewa. Kian pun menepuk bahu Jovan untuk menyemangatinya.
Arsen turun dari pohon dan mendekati keduanya. "Mari kita pikirkan rencana lain." Kata Arsen.
Ssrrhh...
Suara aliran sungai terdengar tak jauh dari mereka. Arsen langaung berlari menuju sungai itu.
"Hei, Arsen! Bahaya tau!" Teriak Kian yang langsung menyusul Arsen, diikuti oleh Jovan.
Arsen yang sudah sampai di tepi sungai langsung mencari batu pipih. Ia menoleh dan menatap Jovan. "Jo, tolong cabut bambu itu dong." Kata Arsen sambil menunjuk pada pohon bambu yang tak jauh dari mereka.
"Okee kejap." Jovan langsung mencabut bambu itu dengan kekuatannya dan memberikannya pada Arsen.
"Mau buat apa?" Tanya Kian saat melihat Arsen meruncingkan ujung bambu dengan batu pipih itu.
"Ini kita jadikan senjata. Nah nanti Jovan tusuk kelincinya pakai power." Kata Arsen.
"KOK AKU?!" Jovan menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ga mau! Ga tega aku! Kak Kian aja." Kata Jovan.
"Lho? Kan kau powernya kuat lah. Biar dia cepat matinya." Kata Kian menolak.
"Gak maulah!" Kata Jovan.
Arsen mendengus dan menyerahkan bambu itu pada Jovan. "Kamu bisa tusuk si bagian lehernya. Jadi dia gak akan ngerasa sakit." Kata Arsen meyakinkan Jovan.
"Bener gak akan sakit?" Tanya Jovan sambil mengambil bambu itu dengan ragu.
Arsen mengangguk pasti. "Bener."
Mereka sudah berada di atas pohon, tepat di bawah kelinci yang tadi sempat kabur.
"Siap, Jo?" Tanya Kian.
Jovan yang masuh sedikit ragu hanya mempoutkan bibirnya.
"Sekarang kau serang tengkuknya, Jo!" Kata Arsen.

KAMU SEDANG MEMBACA
S P I E S
Fantasi"lebih baik keluar dari zona aman dan mencari tau hal baru dari pada terkurung didalam sebuah bola." - leon ⚠️ HARSHWORD ⚠️ ⚠️ WARNING!! ⚠️ ㅤ YAOI AREA ㅤ BXB ㅤ HAPPY READING 😋😋☝🏽 SPECIAL COLLAB : @M0NEY4DDICT @Billeesh @eajpwarkim