───────────────────────────────
Selesai dari rasa kesal mereka, Kian pun bertanya, "Kak, kalau misalnya kita kena semburan es dari naga es itu, gimana biar cairinnya?"Leon mengangkat bahunya. "Entahlah. Belum ada yang berhasil untuk selamat jika terkena semburan es itu." Kata Leon.
"Hiih kita harus ekstra hati-hati ini." Kata Arsen.
Seperti waktu perkiraan, mereka dapat melihat Planet Persephone setelah seminggu berada di luar angkasa.
"Waah planetnya warna biru gitu, bagus." Kata Arsen yang melihat dari jendela.
"Bener. Kayaknya dingin banget ya? Kerasa sampai sini." Kian yang sudah memakai pakaian hangat mengusap kedua lengannya.
"Okeyy, mari kita masuk." Jovan yang mendapat giliran mengemudi pesawat langsung menukikkan pesawatnya agar masuk ke lapisan atmosfer Planet Persephone.
Ada percikan api seperti saat mereka masuk ke Planet Antichton, namun kali ini ada semacam butiran es yang mengelilingi api itu.
Akhirnya mereka berhasil melewati lapisan atmosfer dan mendaratkan pesawat mereka di bagian datar.
Rasa dingin planet itu mulai menusuk kulit mereka, padahal sudah memaki pakaian hangat yang cukup tebal.
Whuusss...
Angin dingin berhembus kencang dan mereka menatap sekitar. "Hiih es semua. Hati-hati kepeleset." Kata Arsen.
Mereka pun berjalan keluar pesawat dengan hati-hati. Kian hanya hampir saja kepeleset langsung berpegangan pada dinding es yang berada di dekatnya.
"NJIC!"
Kian melompat kaget kala sadar kalau dinding es itu membekukan banyak orang didalamnya.
"Serem banget lah ini." Kata Kian.
"Kira-kira ini Crystal Stone nya ada dimana?" Tanya Jovan.
"Datanya ada di tablet itu lah. Tadi juga Kak Leon gak ngasih tau tempatnya dimana." Kata Arsen dengan kesal. Jovan yang mendengar itu hanya cengengesan.
"Yaudahlah, kita keliling dulu." Kata Kian.
"Ini planet segede gini mau dikelilingi? Gak dulu. Ku tunggu sini." Kata Arsen menolak.
Tapi, dengan bujuk rayu si kembar, mereka pun berjalan berkeliling.
Sudah setengah jam mereka berjalan naik turun tebing es, tapi mereka belum menemukan dimana Crystal Stone itu berada.
"Capek!" Teriak Jovan sambil mendudukan dirinya di atas tumpukan salju.
"Huh, harus kemana lagi ini." Kata Kian sambil mengusap kedua telapak tangannya.
"Eh, itu ada cahaya warna merah lah. Jangan jangan itu salah satunya." Kata Arsen kala melihat pantulan cahaya merah yang berada di balik 2 bukit dari tempat mereka istirahat.
"Gila, jauh." Kata Kian.
"Yaudah kita jalan dikit lagi aja. Kalau udah sore kita istirahat." Kata Arsen.
Mereka pun lanjut perjalanan menuju cahaya berwarna merah itu. Butuh waktu 3 jam untuk mereka berhasil menuruni lereng gunung.
"Capek la ini. Ayo istirahat dulu." Kata Jovan mengeluh.
"Yaudah, itu disana ada goa. Kita bisa istirahat disana." Kata Arsen sambil menunjuk sebuah goa yang berada di kaki gunung yang tak terlalu jauh dari mereka.

KAMU SEDANG MEMBACA
S P I E S
Fantasi"lebih baik keluar dari zona aman dan mencari tau hal baru dari pada terkurung didalam sebuah bola." - leon ⚠️ HARSHWORD ⚠️ ⚠️ WARNING!! ⚠️ ㅤ YAOI AREA ㅤ BXB ㅤ HAPPY READING 😋😋☝🏽 SPECIAL COLLAB : @M0NEY4DDICT @Billeesh @eajpwarkim