BM || SEVEN

131K 4.3K 372
                                        

"Engh...." lenguh seorang gadis cantik sembari mempererat pelukannya pada tubuh Daddynya.

"Sayang pulang yuk." ucap Leon dengan tangan terulur mengelus surai rambut panjang gadisnya.

"Bentar, Alexa masih ngantuk daddy." Lirihnya

"Nanti lanju lagi boboknya dirumah, yuk daddy gendong aja."

Gadis itu menguraikan pelukannya lalu merentangkan kedua tangannya yang langsung digapai oleh Daddynya. Alexa melingkarkan kaki nya dipinggang Leon dengan tangan memeluk erat leher Leon.

Sepanjang perjalanan beberapa karyawan mencuri pandang ke arah mereka, ada yang memuji kedua pasangan itu ada juga yang mencibir. Mereka iri dengan apa yang Alexa dapatkan.

30 menit kemudian Alexa dan Leon telah sampai dimansion, Leon memutari mobil Lamborghini Veneno membukakan pintu untuk gadisnya.

Mobil dengan mesin V12 berkapasitas 6,2 liter dan memiliki tenaga 740 hp. Tidak heran jika mobil ini mampu mencapai kecepatan maksimal 354 km/jam. Mobil ini dijual dengan harga fantastis, yaitu sekitar USD$ 5,3 juta atau Rp70 miliar.

 Mobil ini dijual dengan harga fantastis, yaitu sekitar USD$ 5,3 juta atau Rp70 miliar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Makasih Daddy."

"Sama-sama sayang." balasnya sambil mengecup singkat dahi Alexa

"Jangan lari honey!" Tegurnya saat Alexa lebih dulu mendahului jalannya.

"Gak papa daddy, Alexa gak akan jatuh kok. Alexa haus mau minum cepat-cepat." teriaknya lalu berlari kencang membuat Leon khawatir

Alexa berlari kencang dari garasi menuju pintu utama mansion ini. Belum sempat ia kembali berbicara Leon bisa mendengar seseorang terjatuh, dengan cepat ia berlari ingin memastikan siapa yang terjatuh didalam sana.

Bruk!

"Hiks... Hiks... Sakit..."

Alexa terjatuh, maid dan bodyguard yang berada disana membantu nona kecilnya, bisa dilihat kedua lututnya memar karena memang Alexa tersandung permadani atau ambal yang disebut penutup lantai.

"Yatuhan nona, lututnya memar." panik Patricia, kepala pelayan disini.

"Sakit! Daddy hiks..."

Leon menghampiri Alexa dengan wajah panik ia bisa melihat wajah gadisnya yang tengah menahan nyeri. Tanpa aba-aba ia menggendong Alexa ala koala menuju atas tempat kamar mereka berdua.

Sepanjang perjalanan Alexa hanya menangis sesenggukan sambil membenamkan wajahnya didada bidang Leon dengan tangan yang mengalung sempurna dilehernya.

Leon mendudukkan tubuh Alexa di sofa yang berada dikamar, tanpa banyak bicara Leon mengambil kotak p3k yang tersedia di kamarnya. Ia tidak marah hanya saja kesal kepada gadisnya yang sudah tidak mau diatur.

Alexa menunduk sambil menahan isakannya ia juga menahan untuk tidak bersuara saat Leon menuangkan cairan di lututnya.

"Udah gak mau nurut hm?"

"Daddy tahu baby haus, tapi tidak bisakah berjalan saja? Bilang daddy kalau baby sudah tidak mau diatur, ini semua untuk kebaikan baby girl. Tapi baby susah diatur, daddy bisa apa? Udah capek di urus daddy, iya? Bilang kalau sudah tidak mau diatur lagi."

"Hiks... Maaf, daddy! Alexa benar-benar minta maaf" Alexa menggelengkan kepalanya ia suka jika Leon mengatur hidupnya.

"Maaf, daddy." sesalnya

Leon tidak menanggapi ucapan gadisnya ia lebih memilih meninggalkan Alexa yang sedang menangis dalam diam.

"Maaf, daddy. Alexa cuma bisa nyusahin Daddy hiks... Alexa memang gadis yang tidak tahu diuntung. Apa Daddy masih cinta sama Alexa ? Daddy capek ya mengurus Alexa, Alexa kayak anak kecil, daddy hiks..." Monolognya sembari menghapus cairan bening yang terus menetes

"Alexa harus pergi biar Daddy ga kesusahan lagi, maaf ya Daddy Alexa pergi, semoga Daddy dapet wanita impian dan dewasa bukan seperti Alexa hiks..."

Kaki jenjangnya melangkah mengambil koper yang ada diatas lemarinya, postur tubuh Alexa yang mungil membuat dirinya kesusahan mengambil koper.

Ia akan membawa beberapa baju dan meninggalkan mansion ini agar ia tidak menyusahkan daddynya

Leon berjalan masuk kembali ke kamarnya disana ia melihat Alexa tengah mengambil koper dengan susah payah. Matanya melihat koper yang akan jatuh dengan cepat ia melindungi gadisnya dengan cara memeluk Alexa erat.

Bruk!

Leon berada diatas tubuh Alexa, ia benar-benar melindungi tubuh gadisnya, punggungnya tertimpa beberapa koper yang berjatuhan. Jantung Alexa berdegup kencang ini salahnya ia yang menyebabkan semuanya.

"Shh." ringis Leon

"Gak papa sayang, ada yang sakit ?" Tanya Leon bangkit dengan memegang punggungnya yang terasa sakit

"Daddy hiks... maaf. Ini salah Alexa, daddy."

"It's okey bisa bantu Daddy untuk ke ranjang?" Ucap Leon dengan sigap Alexa menuntun tubuh lemah Leon ke ranjang.

Bukan Leon lemah, tidak, ia tidak lemah hanya saja Leon merasa punggungnya remuk dan kepalanya pusing.

Alexa keluar memanggil Wiliam agar menelfon dokter pribadi untuk memeriksa keadaan Leon sekarang

Setengah jam kemudian Leon sudah diperiksa, dokter pun sudah mengobati beberapa luka kecil di belakang leher Leon, punggung dan kakinya. Alexa setia menunggu daddynya sadar ia berdiri lumayan jauh dari ranjang dengan kepala menunduk

Wiliam yang melihat nonanya seperti itu menatap iba "Tidak apa-apa nona, Tuan akan baik-baik saja."

Alexa mendongak menatap wajah datar Wiliam "Apa Daddy marah om?"

"Tidak, tuan tidak akan marah dengan nona. Kalau begitu saya pamit kalau ada apa-apa panggil saya."

Alexa mengangguk lalu pandangannya kembali menatap Leon yang mulai mengerjabkan matanya, buru-buru ia kembali menunduk dengan tangan yang meremas ujung dress-nya. Ia takut Leon marah kepadanya dan mengusir dirinya dari sini.

Memang tadi ia berniat tapi ia berfikir kembali jika dirinya pergi dari sini ia akan tinggal Dimana dan juga pasti Leon akan memberi hukuman kepadanya karena sudah tidak nurut kepada daddynya.

BEFORE MARRIAGE [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang