2/20

2.1K 338 91
                                        


Joanna masih menangis sesenggukan di dalam kamar. Meratapi nasib sial yang terus saja mendatangi dirinya sejak satu tahun ke belakang. Keguguran, dibenci Jessica karena dianggap tidak becus menjaga kandungan, dipecat karena terlalu banyak absen kerja, kehadiran Elena bersama anaknya dan sekarang, suami yang amat sangat dicinta tega memukul dirinya.

Joanna merasa hancur sekarang. Hidupnya terasa begitu hampa, dia merasa tidak berguna. Lebih baik mati saja, kan? Itu adalah kalimat yang terus saja Joanna ulang dalam tiga jam ke belakang.

Keadaan kamar sudah berantakan. Bantal dan guling berserakan, bed cover juga sudah berada di bawah ranjang. Lampu kamar, sudah Joanna lempar di meja rias hingga membuat deretan skincare dan alat make up miliknya jatuh berantakan.

Nafas Joanna tersendat. Selama satu minggu ini dia merasa sedang hidup di neraka. Karena merasa tidak lagi memiliki siapapun di sisinya. Orang tua, saudara dan sahabat? Mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak memiliki waktu untuk sekedar mendengar keluh kesahnya dalam satu minggu ini.

Jeffrey? Sebagai suami yang seharusnya bisa menjadi teman baik, justru bertingkah apatis. Menganggap seolah-olah Joanna hanya hewan peliharan yang hanya diperhatikan jika belum makan dan mandi. Selebihnya? Jeffrey tidak mau mengerti.

Seperti saat ini. Emosi Joanna sudah memuncak karena telah diabaikan selama satu minggu ini. Rasa benci pada Elena dan Senna juga semakin menjadi-jadi. Sehingga membuatnya enggan menengok sang keponakan barang sekali.

Saat ini Joanna sudah bersimpuh di bawah ranjang dan menatap pecahan lampu kamar yang sudah berserakan di depannya. Ada sedikit terbesit rasa ingin bunuh diri saja. Supaya Jeffrey menyesal karena telah mementingkan Elena dan anaknya daripada dia yang secara negara dan agama sah menjadi istrinya.

"Bagaimana? Masih mau bertahan? Sejak awal Jeffrey tidak pernah mencintaimu, mau sampai kapan kamu bertahan pada laki-laki seperti itu?"

Joanna mendongak, jantungnya seakan berhenti berdetak. Di depannya. Ada laki-laki yang sangat mirip dengan suaminya. Suaranya juga sama.

Namun Joanna tahu pasti kalau itu bukan Jeffrey, suaminya. Melainkan Jeffran, saudara kembar Jeffrey yang seharusnya telah meninggal tiga tahun silam.

Dengan gerakan kaku Joanna mulai menatap jendela lantai dua kamarnya yang sudah terbuka. Karena itu adalah satu-satunya akses yang bisa Jeffran lakukan untuk masuk sekarang.

"Aku bukan hantu. Kemari, ikut denganku. Tinggalkan Jeffrey dan hidup bersamaku. Aku janji tidak akan melukaimu seperti apa yang telah Jeffrey lakukan padamu."

Joanna menggeleng pelan. Air matanya kembali mengalir pelan karena takut pada Jeffran yang tampak begitu menyeramkan sekarang. Tubuh tinggi besarnya dibalut setelan hitam. Kedua alis tebalnya mulai menukik tajam dan aroma parfum yang dipakai sangat menyengat hingga membuat kepala Joanna mulai terasa pusing sekarang.

Belum lagi, Jeffran ini orang yang menyeramkan. Setelah menikah dengan Elena lima tahun silam, dia tinggal di Batam yang begitu banyak memiliki pasar gelap di dalamnya. Tidak terkecuali dengan pekerjaan yang Jeffran lakukan ketika di sana. Bahkan, keluar masuk penjara sudah biasa baginya. Berbeda dengan Jeffrey yang menyentuh rokok dan alkohol saja tidak pernah.

Jeffrey dan Jeffran adalah dua kubu yang saling bertolak belakang. Jika Jeffrey tumbuh menjadi anak baik, berprestasi dan memiliki track record bersih. Berbeda dengan Jeffran yang tumbuh menjadi anak pembangkang, selalu membuat masalah, dan keluar masuk penjara sudah dijadikan sebagai hobi.

Jadi, tidak heran kalau Yuno dan Jessica memutuskan untuk mengusir Jeffran dari rumah sejak lima tahun silam. Setelah dia ketahuan menghamili Elena yang saat itu merupakan sekretaris ayahnya.

"Masih takut padaku, hem?"

Jeffran mulai mendekatkan wajah. Menghembuskan nafas bau rokok dan alkohol pada wajah Joanna yang sudah memucat. Takut. Takut mati, takut dibunuh dan organ dalamnya dijual di pasar gelap. Atau bahkan diperkosa dan dikirim ke Russia untuk dijadikan pemain film dewasa.

Padahal, beberapa menit yang lalu---Joanna sempat berpikir untuk meregangkan nyawa dengan serpihan kaca lampu kamar. Tetapi sekarang, rasa takut mati mulai melingkupi hatinya dan membuat tubuhnya bergetar hebat.

"Jangan takut, aku tidak akan melukai wanita seperti saudaraku. Sakit? Aku bisa membalasnya detik ini juga jika kamu ingin."

Air mata Joanna mengalir semakin deras ketika Jeffran mulai menyentuh pipi kanannya yang hari ini mendapat tamparan perdana dari suaminya.

"Jangan menangis, aku tidak akan memaksamu. Tapi aku akan membuatmu datang sendiri padaku."

Tubuh Joanna meremang ketika Jeffran berbisik tepat di telinga kanannya saat ini.
Antara takut dan takjub. Karena baru kali ini dia bisa melihat Jeffran dari jarak sedekat ini.

Jeffrey dan Jeffran kembar identik. Tidak heran kalau Joanna sempat merasa tersihir karena pahatan Tuhan yang sangat mirip dengan suaminya ini.

Rahang tegas, alis tebal, mata indah, hidung menjulang dan bibir plum yang selalu membuat Joanna berpikir kotor ketika melihat. Semuanya terlihat sempurna, mirip, tanpa cacat. Lalu, bagaimana kalau dia terpikat? Ini bukan salahnya, kan?

Choose your fighter!

Jeffran

"I want it, I got it!"

"I want it, I got it!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jeffrey

"I want it, I work for it!"

"I want it, I work for it!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Masih mau lanjut?

Tbc...

JEFFRAN & JEFFREY [ END ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang