15/20

1.6K 305 94
                                        

Tadi kepencet, ges :)

Jeffrey sedang tengkurap dan telanjang di atas ranjang yang telah diberi alas kain tebal sebelumnya. Dengan telaten Joanna mengoleskan salep agar luka cambuk yang Jeffrey dapat cepat kering dan tidak membekas.

"Sampai pantat juga ternyata. Untung yang bagian depan tidak kena."

Jeffrey terkekeh pelan ketika mendengar komentar Joanna. Agak cabul memang, tetapi Jeffrey suka.

"Kalau kena, kenapa memang? Akhhh! Sakit!"

Keluh Jeffrey ketika Joanna sengaja menekan telunjuknya pada kulit dekat luka yang terletak pada pinggang. Padahal, hanya di sisi kulit yang tidak terluka, namun Jeffrey sudah merasakan sakit luar biasa di sana.

"Aku masih marah, ya! Bukan soal ketika kau pukuli, tapi soal kau dan Elena di rumah sakit! Bisa-bisanya kalian melakukan itu tanpa merasa bersalah sama sekali."

"Sumpah aku merasa bersalah! Minumanku tidak hanya diisi obat perangsang, tapi juga obat penenang! Aku berani bersumpah! Waktu itu, kukira itu kamu. Dia juga sengaja memakai baju yang mirip punyamu yang kubelikan ketika awal menikah dulu. Ketika bangun, aku terkejut ketika dia memberikan rekaman video itu dan mengancamku supaya terus menunggui Senna setiap waktu jika tidak ingin kamu tahu tentang hal itu. Sumpah itu hanya sekali terjadi! Setelah itu, aku tidak pernah sekalipun menerima makanan maupun minuman dari Elena barang sekali."

Penjelasan Jeffrey semakin membuat Joanna kesal pada Elena. Padahal, Joanna berniat untuk menyelamatkan dia juga setelah mengobati suaminya.

"Dia pakai celana dalam warna apa waktu itu?"

"Mana aku tahu!!!"

Joanna diam-diam tersenyum simpul. Karena paling tidak, dia bisa memiliki alasan baru untuk tetap mempertahankan pernikahannya saat ini.

Lagi pula, dia sedang hamil. Tidak mungkin juga dia egois memisahkan sepasang anak dan ayah hanya karena rasa sakit hatinya sendiri dan mengesampingkan fakta yang sebenarnya terjadi.

Setengah jam kemudian Jeffrey tertidur. Dalam keadaan tengkurap dan telanjang karena memakai celana dalam tipis-pun masih terasa sakit dan ngilu.

Setelah mematikan lampu dan menghangatakn suhu ruangan, Joanna mulai menutupi tubuh suaminya dengan kain tipis yang berada di lemari pakaian. Menggunkan kain Bali yang Joanna beli ketika bulan madu dan belum sempat dibawa ke apartemen hingga saat ini.

Joanna bergegas menuju gudang, dia ingin melihat bagaimana keadaan Elena sekarang. Karena Yuno dan Jessica tidak mungkin membiarkan Elena meninggal dengan cuma-cuma di sana.

"Sedang apa?"

"Jeffran! Elena, aku mau melihatnya."

"Kenapa? Mau memastikan dia sudah meninggal atau belum, kah?"

Joanna diam saja dan mulai membuka gembok menggunakan kunci cadangan yang didapat dari pekerja.

"Kenapa kamu di sini?"

"Ini masih rumahku kalau kau lupa!"

"Milik mertuaku! Anyway, aku masih marah padamu! Kenapa kau tega berbohong dan mengatakan kalau Senna anak suamiku!"

"Karena aku benci suamimu."

"Dia saudaramu!"

"Saudara macam apa yang diam saja ketika melihat saudaranya difitnah menghamili perempuan yang sama sekali tidak dia kenal?"

Jeffran mulai tersulut dan mulai menatap tajam Joanna saat itu.

"Fine, aku tidak mau lagi ikut campur urusan kalian! Itu urusanmu dengan Jeffrey! Jangan pernah melibatkan aku lagi! Minggir! Aku mau masuk ke dalam!"

"Tidak tahu diuntung! Siapa yang membantumu ketika Jeffrey memukulmu?"

Gerutu Jeffran sembari mengekori Joanna yang sudah bergegas masuk ke dalam gudang.

"Diam! Jeffran, dia masih bernafas, kan?"

"Kenapa juga kamu masih mempedulikan dia---biar saja dia membusuk di sini bersama anaknya. Mana Senna? Seharusnya dia masuk ke sini juga."

Joanna melirik Jeffran, kemudian memincingkan mata karena benar-benar heran dengan sifat tega dan kejam yang dimiliki para anggota keluarga suaminya.

"Bukannya sok baik! Tapi ini sudah keterlaluan! Membunuh orang, kau pikir itu sesuatu yang membanggakan, hah!?"

"Kurasa iya, aku bisa dapat 100 juta dollar jika berhasil membunuh satu orang, anyway."

Joanna menggeleng pelan, kemudian menyentuh pundak Elena yang tidak kalah remuk dari Jeffrey sebelumnya. Jika Jeffrey hanya dicambuk pada bagian belakang tubuhnya saja. Lain dengan Elena yang bagian depannya juga mendapat cambukan.

"Dia masih bernafas. Jeffran, bisa bawa pergi Elena denganmu? Paling tidak, biarkan lukanya sembuh terlebih dahulu sebelum akhirnya kau buang entah ke manapun!"

Jeffran menatap Joanna tidak percaya. Karena, bagaimana bisa ada orang sebaik dirinya? Maksdunya, kenapa dia tidak menyimpan dendam pada Elena yang jelas-jelas hampir menghancurkan pernikahannya?

Kalau saja Jeffran tidak cepat tanggap ikut campur dalam urusan mereka, Jeffrey pasti akan terus menjadi anjing pesuruh Elena sampai tujuan utamanya terlaksana. Yaitu menghancurkan keluarganya. Especially ibunya.

Masih mau lanjut? Misteri apa yang paling pengen kalian tau?

Tbc...

JEFFRAN & JEFFREY [ END ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang