Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Joanna terbangun dari pingsannya. Rasa pusing mulai terasa hingga membuatnya refleks menarik tangan kanan yang ternyata sudah terpasang jarum dan selang infus di sana.
"Kenapa tidak bilang kalau hamil?"
Kali ini Jessica yang bersuara. Membuat Joanna yang memang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengadahkan kepala. Menatap raut serius Jessica ketika berbicara.
"Aku hamil?"
"Hampir empat minggu. Aku sudah memutuskan, mulai sekarang---kamu akan tinggal di sini. Kalau kamu masih ingin bercerai, tunggu sampai cucuku lahir. Tapi jika dia laki-laki, aku ingin kamu tetap tinggal di sini dengan anak ini. Jika perempuan, terserah jika kamu ingin membawa anakmu pergi."
Joanna mulai melepas jarum infus di tangan kanannya. Berniat menuju tempat Jeffrey berada. Berharap laki-laki itu masih bernyawa.
Di sana, Jeffrey sedang mengerang kesakitan sembari meringkuk di atas lantai ruangan. Ditambah, jendela juga sudah terbuka lebar seperti apa yang ada di mimpi Joanna.
"Bangun!"
Jeffrey mendongak, menatap kaki telanjang Joanna, kemudian naik pada terusan panjang berwarna coklat gelap yang dipakai sekarang. Berbeda dengan tadi siang yang memakai kemeja putih dan rok span biru tua.
Bukannya bangun, Jeffrey justru menangis di tempat. Menangisi kebaikan Joanna yang sudah mau datang menyelamatkan dirinya meskipun dia sudah sejahat apa.
Demi Tuhan! Jeffrey sudah tidak lagi memiliki rasa apapun pada Elena sejak dia menikah dengan Jeffran. Video di rumah sakit yang Joanna dapat dari siapa---itu hanya kecelakaan dan hanya terjadi sakali seumur hidupnya.
Itu sebabnya Jeffrey amat sangat merasa bersalah hingga kelepasan memukul Joanna karena takut wanita itu pergi meninggalkan dirinya jika suatu saat tahu tentang hal yang telah dia sembunyikan bersama Elena.
Kenapa Jeffrey menggunakan kekerasan untuk menyalurkan rasa takutnya? Tentu saja karena dia meniru orang tuanya. Karena sejak kecil, hanya pukulan yang bisa membuat dirinya merasa takut luar biasa. Dengan harapan, Joanna juga akan merasakan hal yang sama jika dia mengikuti ajaran Yuno dan Jessica.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Joanna memapah Jeffrey menuju kamar dengan keadaan memakai boxer saja. Dia tidak peduli jika ada pekerja yang melihat. Karena satu-satunya hal yang ingin dia lakukan sekarang adalah---mengobati Jeffrey agar luka cambuk yang didapat tidak terkena infeksi dan membuatnya meninggal.
"Akkhh---Sakit!"
Jerit Jeffrey ketika Joanna membersihkan luka di bahu dan punggungnya menggunakan handuk hangat.
Dengan air mata yang masih mengalir di sela-sela pipi mereka, keduanya tidak berhenti membatin tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Akankah mereka berpisah, atau masih bisa bersama sampai maut memisahkan.
"Kenapa orang tuamu sangat terobsesi dengan anak laki-laki?"
Tanya Joanna tiba-tiba, membuat Jeffrey agak bingung akan pertanyaan istrinya.
"Maksudmu?"
"Senna, dia cucu mereka juga. Tapi kenapa orang tuamu terkesan tidak peduli padanya. Kalau dia tidak sakit dan dibawa ke Jakarta, mungkin saja orang tuamu tidak akan pernah menengok dia di Batam."
Jelas Joanna setelah menarik nafas panjang. Sebisa mungkin dia pura-pura lupa akan fakta bahwa Senna adalah anak suaminya. Karena berharap bisa mengorek lebih dalam tentang Yuno dan Jessica supaya dia dan anaknya bisa selamat kelak.
"Akhh---masalah itu, karena Mama dan Papa sama-sama anak tunggal. Setelah menikah, mereka diminta oleh dua pihak keluarga agar memiliki ahhh---sakit!"
"Maaf, sengaja. Lanjutkan!"
"Orang tuaku percaya kalau anak laki-laki akan mendatangkan kekayaan. Sebaliknya, anak perempuan dipercaya sebagai simbol kehancuran dan maaf---pembawa sial. Itu sebabnya mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi setelah aku dan Jeffran dilahirkan. Karena mereka tidak ingin memiliki anak perempuan dan membuat mereka hancur seperti apa yang telah dipercaya."
"Manusia gila! Orang tuamu gila! Memangnya Mama Jessica tidak sadar kalau dia perempuan? Kalau begitu, dia juga mengamini kalau dirinya ini pembawa sial!"
"Akhhh---jangan terlalu kencang. Sakit."
"Maaf!!!!"
"Iya, dulu Mama juga diperlakukan kurang baik oleh keluarganya. Dia hanya boleh home schooling dari SD sampai SMA. Kemudian dijodohkan dengan Papa yang sama-sama anak tunggal dan ya----jadi seperti ini---akhh! Sayang, sakit! Ah! Ah! Ah!"
Plak...
Joanna yang geram langsung menampar bibir Jeffrey. Karena laki-laki itu masih saja bercanda dengan membuat suara desahan di saat-saat genting seperti ini.
"Kamu masih mengira Senna anakku hanya karena aku yang mengusulkan nama Senna untuknya dan video di rumah sakit itu?"
Joanna diam saja. Jujur, dia tidak mau lagi berharap banyak. Apalagi sampai membuat imajinasi bahwa sebenarnya Jeffran hanya membohongi dirinya. Karena nyatanya, hubungan badan antara Jeffrey dan Elena sungguhan dan bukan rekayasa. Sehingga kecil kemungkinan jika fakta tentang Senna yang merupakan anak biologis Jeffrey hanya bohongan saja.
"Senna anak Papa."
Joanna langsung menatap kedua mata Jeffrey lekat-lekat. Mencari titik kebohongan di sana. Namun sayang, dia tidak menemukan apapun di sana. Entah karena kemampuan Joanna yang mulai memudar, atau karena Jeffrey yang sangat pandai berdusta.
Anywayyyy, sampe sini---kalian masih benci sama Jeffrey?