3/20

1.9K 312 128
                                        


Di rumah sakit, Jeffrey tampak gelisah bukan main. Pasalnya, sejak tadi nomor Joanna tidak bisa dihubungi. Mereka tinggal di apartemen, bukan di rumah dan memiliki pekerja yang bisa ditanyai.

Sudah, Pak. Ibu Joanna masih ada di dalam. Tapi penampilannya berantakan.

"Berantakan bagaimana maksdumu?"

Nafas Jeffrey memburu, karena berantakan yang ada di otaknya adalah pakaian compang-camping dan rambut teruarai asal milik Joanna yang biasa dilihat ketika mereka bercinta. Itu seksi, bukan menakutkan. Tapi Jeffrey takut jika laki-laki lain yang melakukan itu pada istrinya.

Rambutnya berantakan, Pak. Matanya bengkak, masih ada jejak air mata juga di pipinya.

"Ya sudah. Kamu bisa kembali. Terima kasih!"

Setelah telepon dimatikan, Jeffrey kembali memasuki ruang rawat Senna. Dia tampak tidur tenang dengan jarum infus yang sudah menancap di punggung tangan kanan.

"Istrimu, Jeff?"

Tanya Elena yang masih terjaga. Karena seperti biasa dia tidak akan tidur cepat karena menemani Jeffrey berbincang hingga larut malam. Bahkan, sesekali dia membantu Jeffrey menyelesaikan pekerjaan kantor yang dibawa ke sana. Maklum, Elene cukup pintar karena dia mantan sekretaris si mertua.

"Bukan."

Jawab Jeffrey sembari duduk di samping Elena. Mereka tampak begitu dekat hingga kulit tangan mereka sedikit bersentuhan ketika bergerak.

"Ada masalah di kantor?"

"Tidak juga. Berhenti membahas ini. Elena, apa kamu tidak mau menikah lagi?"

Jeffrey dan Elena saling bertatapan. Cukup lama, seolah sedang bernostalgia akan masa-masa manis mereka sebelum Jeffran menyerang. Iya, dulu Jeffrey sempat mendekati Elena. Namun Jeffran tiba-tiba saja menginterupsi hubungan mereka dan boommm! Seperti sekarang. Jeffran dan Elena menikah, sedangkan Jeffrey move on dan bertemu Joanna.

"Kamu mau aku menikah lagi, Jeff?"

Tanya Elena sembari tersenyum masam. Agak tidak suka dengan permintaan Jeffrey yang memintanya menikah. Karena diam-diam, dia masih memiliki rasa pada adik mendiang suaminya. Meskipun belum sempat berpacaran, mereka pernah dekat cukup lama. Sebelum akhirnya sama-sama berpisah dan menikah dengan orang pilihan mereka.

"Ada orang yang kamu suka? Kalau tidak ada, akan kukenalkan pada temanku yang masih lajang. Di Batam berbahaya. Jakarta juga, apalagi Mama dan Papa masih tidak menerima kalian."

"Belum, Jeff. Aku yakin Papa dan Mama Jessica akan menerimaku dan Senna. Meskipun Jeffran pernah melukai mereka, aku yakin mereka bisa memaafkan. Papa dan Mama Jessica kemarin datang. Mereka sudah mengatakan kalau aku bisa tinggal di Jakarta bersama mereka. Jadi, aku tidak perlu menikah kalau hanya butuh perlindungan. Lagi pula, aku dan Senna punya kamu, kan?"

Jeffrey mulai menghembuskan nafas lega dan menyenderkan tubuh di punggung sofa. Pikiran tentang Joanna tiba-tiba saja tergantikan oleh bayangan indah ketika Senna sehat dan menyambutnya datang ketika berkunjung ke rumah orang tuanya.

3. 30 AM

Jeffrey terbangun ketika mendengar suara kamar mandi yang ditutup dari dalam. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Elena yang selalu rajin sholat malam sejak anaknya terbaring lemah di atas brankar.

Biasanya, Jeffrey akan pulang ketika matahari terlihat. Pada jam enam tepat. Setibanya di rumah, dia hanya mandi kilat dan sarapan roti isi selai nanas buatan istrinya. Atau terkadang hanya sarapan susu almond saja ketika istrinya bangun kesiangan dan malas membuat sarapan.

"Loh, mau pulang sekarang?"

Tanya Elena ketika keluar dari kamar mandi. Kemudian menatap Jeffrey yang sudah mengantongi ponsel dan mengeluarkan kunci mobil dari saku celana sendiri.

"Iya."

"Tumben. Ini hari minggu. Kukira kamu mau ikut mengatar aku dan Senna pulang ke rumah orang tuamu."

"Nanti sore, kan? Aku akan datang lagi."

Elena mengangguk singkat. Kemudian menatap punggung Jeffrey yang mulai tidak terlihat dari pandangan.

Di perjalanan menuju apartemen, Jeffrey tidak berhenti berdoa. Semoga Joanna tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena perbutannya semalam.

Iya, Jeffrey menyesal. Dia sadar, bahwa apa yang kemarin dilakukan pada istrinya adalah sebuah kesalahan fatal. Itu sebabnya dia ingin kembali meminta ampunan dan pulang cepat agar dapat menebus kesalahan.

Namun sayang. Di unit apartemennya, Jeffrey tidak menemukan istrinya. Hanya ada banyak kekacauan yang ditinggal begitu saja. Jeffrey takut, secepat kilat dia kembali turun. Bertanya pada resepsionis dan satpam yang berjaga pada saat itu.

"Ada perampokan di unitku! Cepat panggil polisi atau---"

"Atau apa? Kenapa pulang? Keponakan kesayanganmu itu sudah menyusul ayahnya sekarang?"

Joanna tiba-tiba datang dengan tubuh penuh keringat. Dia baru saja jogging di taman terdekat. Tentu saja sendirian. Karena berniat mencari ketenangan di sana, setelah dibuat takut luar biasa atas kedatangan Jeffran.

Elena

"Senna needs happiness."

Joanna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Joanna

"Senna or you bitchess?"

Foto di atas hanya visualisasi cast

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Foto di atas hanya visualisasi cast. So, don't brings the story line di dunia nyata :)

Tbc..

JEFFRAN & JEFFREY [ END ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang