Part 16

2.8K 344 38
                                        

Andin di bawa ke sebuah gudang kosong yang cukup jauh dari rumah Rama dan cukup jauh juga dari kota.

Andin sekarang duduk sendirian di dalam gudang itu, para pria yang tadi membawanya sudah pergi meninggalkan dirinya.

Hingga akhirnya datang seorang pria bertubuh tegap dengan kacamata hitamnya melangkah mendekati Andin. Andin merindukannya, Aldebaran. Tapi Andin menahan semua rasa di hatinya, pria itu sudah menyakitinya, hingga akhirnya Andin hanya menatap sinis. Sampai di depan Andin, Al langsung menarik wanitanya ke dalam pelukannya. Rindu, Al sangat merindukan Andin. Andin hampir menangis, ia hampir tidak bisa menahan air matanya, pria itu adalah kelemahannya.

Andin mendorong tubuh Al yang masih memeluknya dengan erat, sebenarnya Andin nyaman, tempat paling nyaman untuk Andin adalah di dalam pelukan Al tapi kini keadaannya sudah berbeda sejak Andin tau tentang Katrin.

"Kamu mau apa? Aku ga punya waktu banyak." Tanya Andin menatap datar tepat di mata Al yang kini berdiri di hadapannya.

"Saya mau jelasin semuanya."

"Jelasin apa? Sekarang seluruh Indonesia bahkan luar negeri udah tau dengan jelas kalau Aldebaran, pengusaha muda dari Indonesia, pemilik perusahan konglomerat PT Aldebaran Sejahtera akhirnya siap mempersunting seorang wanita bernama siapa kamu bilang? Katrin ya? Iya Katrin. Udah jelas mas." Andin berbicara santai tapi matanya terus bergerak kesana kemari untuk menahan air matanya.

"Saya bisa jelasin. Kita udah lama ga ketemu dan komunikasi terbatas jadi kesalahpahaman bisa terjadi kapan aja." Al berusaha menjelaskan sambil menatap Andin yang masih belum mau menatapnya.

"Kesalahpahaman apa sih? Aku gapapa, kamu ga usah jelasin apa-apa, aku ga akan lakuin apapun sama pacar kamu itu kok." Kali ini Andin menatap Al berbarengan dengan setetes air matanya yang jatuh tapi Andin langsung menghapusnya.

kringg.. kringg..

Al merogoh handphone di saku jasnya dan melihat nama seseorang yang meneleponnya, Katrin.

Al mereject telepon Katrin dan kembali memasukan handphone ke sakunya, tapi selingkuhannya yang pantang menyerah itu kembali menelepon. Andin yang sepertinya tau itu dari siapa dan lumayan terganggu dengan suara deringnya, membuka suara.

"Angkat aja, siapa sih?"

"Bukan siapa-siapa, ga penting."

"Pacar kamu kan? Angkat aja." Andin terus mempersilahkan, ia kesal dengan suara dering yang berisik itu.

"Saya mau bicara sama kamu bukan sama orang lain. Oke, sekarang kamu dengerin saya ya."

Tapi handphone Al tidak berhenti berdering.

"Berisik." Desis Andin memasang wajah malas, menyindir Al agar menuntaskan dulu urusan dengan selingkuhannya. Al yang peka, langsung mengangkat telepon Katrin agar manusia itu tidak mengganggunya dulu untuk saat ini.

"Hallo." Sejak mengangkat telepon dari Katrin, Al tidak berhenti menatap Andin, mengamati ekspresinya yang sama sekali tidak mau menatap Al, tapi Al tau pasti Andin mendengarkan percakapannya.
"Iya, saya lagi ga di kantor, ada urusan sama partner di luar."
"Ngga, kamu ga usah ke sini, saya udah mau selesai dan kembali ke kantor kok."
"Iya."

Al kembali memasukan handphonenya ke dalam saku.

"Udah ditungguin ya? Yaudah gih sana kamu balik. Biar aku nunggu orang nemuin aku di sini."

"Saya belum bicara sama kamu, mana mungkin saya pergi."

"Tapi kan kamu udah bicara sama Katrin, katanya sebentar lagi balik ke kantor. Nanti kalo kelamaan dicariin lagi loh." Sindir Andin.

MAFIA (Aldebaran & Andin)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang