018.

2 1 0
                                        

#Happy Reading

Biasakan follow dulu sebelum membaca.

Hope you like it!

-----

Kebenaran itu ada di sekitar kita, tapi kebanyakan orang memilih untuk merahasiakannya.

-PST-

-----

Mandala berjalan mondar-mandir di teras rumah Renata, sorot matanya mengandung kegelisahan. Mereka langsung meluncur ke sana setelah mendapat kabar dari Alga bahwa mereka hampir menjadi korban tabrak lari di jalan dekat sekolah. Agam bersandar di tembok, matanya tidak bisa diajak bekerja sama.

"Gam, jangan tidur!" lengan Rega menyenggol sisi tubuh temannya yang terlihat sudah tidak bisa menahan kantuk.

"Gue ngantuk."

"Ck, reinkarnasi koala Lo? Tidur mulu perasaan," ejek Rega seraya menoyor kepala orang di sampingnya.

"Lo sih kebanyakan pake perasaan, makanya gagal terus move on dari si bahan bakar," Agam menarik turunkan alisnya, menggoda Rega adalah hal yang sangat menyenangkan.

"Eh bangsat, mendingan gue dari pada Lo, sana sini tapi gak ada yang mau," balas laki-laki dalam balutan seragam kusut itu tak mau kalah.

"Ngaca ya monyet! Metana juga gak mau sama Lo, Lo tu bau, item, dekil, gil-" makian Agam terhenti saat sebuah botol minum hampir mendarat tepat di kepalanya, untungnya Dia cepat menghindar.

"Berisik anjing! Gue mau belajar," keluh Deva dengan wajah frustasinya.

"Duh adek Deva jangan galak-galak dong, sini Abang kiss," melihat bibir monyong milik Agam perlahan mendekat ke arahnya, Deva segara mengangkat tinjunya.

"Gue tonjok ya Lo bang!"

"Gui tinjik yi bang, nyenyenye," ulang Agam dengan nada menjijikan.

"Ter, Lo gak mau pulang aja? Udah sore," tanya Rega setelah melihat keterdiaman gadis itu dari tadi. Aster menggeleng, Ia harus bertemu dengan Renata, Ia harus tau keadaan sahabatnya itu.

"Hari ini baru percobaan tabrakan, besok apa lagi?" Nolan memandangi langit-langit teras Renata yang terasa teduh.

"Dev, kerjaan Lo ada dua sekarang. Yang pertama cari tau siapa yang masukin tikus mati ke loker Rena, dan yang kedua-cari tau dalang dari teror tadi pagi," titah Mandala.

"Shit! Banyak banget tugas gue, kapan gue bisa belajar anjir kalo gini," keluhnya dengan wajah frustasi.

"Aelah Dev, belajar mulu, ngejar apa sih Lo?" Tanya Nolan.

"Ngejar dunia. Puas?"

"Berisik banget sih kalian, gak bisa tenang dikit apa?" Suara itu membuat keenam cowok di teras menoleh, Aster menyilangkan tangan didepan dada. Di kepalanya hanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada sahabatnya itu.

"Apa mungkin orang yang sama?" tanya Aster seraya menebak-nebak.

"Gue gak tau," jawab Mandala seraya menatap ubin dengan serius.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 31 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Penghujung Senja TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang