"Itu karena kamu belum kenal sama aku. Aku dan kak Raisa sebelas duabelas perlu kamu tahu!" Cibirnya membuat Rasya tertawa.
"Masa sih?" Ujar laki-laki itu.
"Iyalah, mau coba?" Seru Denara tidak takut.
"Coba apa dulu nih?"
"Coba batalin perjodohan kamu sama kak Raisa, biar aku aja yang gantiin."
Pembicaraan di mobil malam itu, menyisakan kekesalan di hati Denara bahkan hingga hari ini.
Bagaimana tidak, Dena pikir Rasya akan tergoda pada ucapannya yang sengaja memancing laki-laki itu.
Nyatanya, Dena harus lebih sabar karena yang dia hadapi belakangan ini adalah para pria dengan IQ tidak main-main.
"Aku sungguh-sungguh dengan Raisa, sejak awal bertemu hingga sekarang niat kita sama-sama ingin serius. Masa iya aku malah main-main sama adiknya sendiri."
Mental Denara langsung terjun bebas mendengar jawaban bijak Rasya. Godaan-godaan yang ia berikan tidak mampu mempengaruhi laki-laki di sampingnya.
Ah Shit, Denara merasa menjadi manusia paling tidak tahu diri setelah malam itu.
"Kenapa malah ngalamun di sini, pakai gaunnya! Itu yang lain sudah siap di depan mau mulai acara." Dena terperanjat saat mbak Susan menegurnya.
Susan adalah salah satu MUA yang Raisa sewa khusus untuk acara besarnya malam ini.
"Gue malas mau keluar!" Decak Dena.
"Malas gimana?! Kakaknya mau ngerayain kelulusan sekaligus tunangan lo malah bengong di sini." Tegurnya lagi sembari memoleskan lipstik tipis di bibir Denara.
Gadis itu sedikit menampik tangan Susan agar tidak melanjutkan riasan di wajahnya. Denara merasa percuma dandan cantik malam ini, toh yang menjadi pusat perhatian tetap Raisa.
"Ada atau enggaknya gue di sana juga nggak akan mempengaruhi apapun. Toh, acara akan tetap berjalan lancar tanpa kehadiran gue." Susan menggelengkan kepalanya merasa heran.
"Parah lo, tapi perlu lo tahu makanan di depan enak-enak Den! Lo harus coba, bukannya lo paling semangat kalau soal makan."
"Lagi nggak mood gue." Tukasnya.
"Ya udah terserah lo aja sih. Gue keluar duluan!" Susan beranjak untuk ikut ke area pesta yang digelar cukup mewah di kediaman Miswar.
Jangankan kepikiran makanan, setiap kali mengingat nasibnya yang akan entah jadi apa setelah ini, Denara sudah merasa enggan melanjutkan hidup.
Miswar dan Arini pasti akan semakin gencar mengolok-oloknya.
Rencananya benar-benar kacau. Justru sekarang hatinya terus gundah, atau ini balasan dari Tuhan karena selalu punya rencana jahat. Pikir Denara.
...
Mendapati beberapa panggilan dan pesan dari Arini yang menyuruhnya keluar, Denara mau tidak mau ikut menampakkan diri ke pesta.
Melewati pintu kecil di samping rumah, Dena bisa melihat deretan tamu-tamu penting yang kini membentuk barisan di sekitar panggung. Tentu demi menyaksikan betapa romantisnya Raisa serta Rasya yang sedang memberi sambutan di acara penting mereka.
Seperti yang bisa Denara lihat, cincin berlian yang beberapa waktu lalu Rasya beli sebagai hadiah untuk calon istrinya itu, kini sudah melingkar tepat di jari manis Raisa.
Rona bahagia baik dari Arini, Miswar dan sebagian besar keluarga Djuanda tampak terpancar.
Barangkali, hanya Denara yang wajahnya masam malam ini.
"Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih atas kehadirannya. Dan selamat menikmati pesta malam ini." Sambut Rasya di akhir kalimat.
"Huft! Muak!" Melihat kemesraan pasangan di atas panggung membuat Denara ingin mengamuk.
Demi menghela niat buruknya yang bisa membuat dirinya malu sendiri, Denara memilih berjalan-jalan di stand makanan. Bukan main banyaknya katering yang Miswar pesan hanya untuk acara malam ini.
Denara tidak mampu membayangkan, berapa banyak uang yang akan Miswar gelontorkan nanti saat pernikahan tiba. Bahkan hanya pertunangan saja, mewahnya sudah seperti ini.
"Mubazir!" Cibirnya lalu meraih piring, kemudian mengisi beberapa kue ke dalamnya.
Memilih menikmati waktu dengan duduk tenang di pojok halaman, Denara merasa para tamu undangan tidak akan sadar jika dirinya juga tuan rumah di acara ini.
Sesekali gadis itu menatap sang ibu yang menunjukkan wajah kesalnya pada Denara. Barangkali, Arini merasa sebal dengan tingkahnya yang tidak menyenangkan di pesta pertunangan sang kakak.
"Selesai makan, ikut mama ketemu rekan-rekan bisnis keluarga! Jangan bikin malu di hari spesial ini." Denara berdecak mendengar pesan suara dari Arini.
Apa katanya tadi? Acara spesial? Bahkan Dena tidak bisa menemukan letak kespesialan itu di mana.
Baru ingin beranjak dari kursi putih yang sejak tadi ia duduki, gerakan Denara terhenti kala melihat punggung tegap laki-laki yang sepertinya ia kenali.
Matanya memicing tajam, meneliti postur tubuh laki-laki yang kini ikut berbaur di gerombolan tamu undangan berpakaian jas-jas mahal itu.
Sekali lagi Denara mengucek matanya, meyakinkan dirinya tidak salah lihat.
Sejenak laki-laki itu memisahkan diri dari rombongan, Denara bisa melihat jika sosok itu berjalan ke pojok taman, tempat di mana tidak ada lalu lalang orang.
Perlahan Denara mendekatinya, berdiri tepat di belakang laki-laki itu. Sejenak tubuhnya meremang merasa bingung dengan apa yang tengah ia lakukan.
Bahkan niatnya menghampiri Arini ia lupakan, demi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ekhm!" Gadis itu berdehem pelan, membuat laki-laki yang baru saja menutup panggilannya dengan seseorang tampak terperanjat.
Dia menoleh ke arah Denara dengan tatapan sedikit melotot.
"Aku kira, setelah pertemuan di kantor polisi kemarin, kita tidak akan bertemu lagi." Ujar Denara sambil melipat kedua tangannya di dada.
Laki-laki itu hanya diam di tempat sembari menatap kaku ke arah Denara.
"Apa yang sebenarnya mas Djati cari?" Selidik Denara membuat laki-laki di depannya menghela nafas pelan.
"Aku datang ke sini untuk memenuhi undangan." Jawabnya pelan.
Denara hampir menyemburkan tawanya, beruntung ia masih sadar situasi. Jawaban yang Djati lontarkan tidak serta merta membuatnya percaya.
"Apa kasusnya belum tuntas? Apa masih ada kaitannya dengan masalah kemarin? Aku rasa, pesta ini tidak sepenting itu sampai mas Djati harus hadir."
Djati sejenak tersenyum sinis lalu beranjak dari tempatnya.
"Aku permisi,"
Denara sontak menarik tangan laki-laki itu, lalu kembali melotot tajam ke arahnya.
"Aku tahu ada sesuatu yang masih mas Djati selidiki!" Tukasnya.
"Ini bukan urusan kamu, jadi tolong lepasin tanganku." Serunya dingin.
"Bukan urusanku?! Tapi yang mas Djati selidiki adalah keluargaku, itu artinya ini masalahku juga."
"Aku di sini atas dasar pekerjaan, jadi tolong jangan ganggu profesionalitas kerjaku." Setelah mengucapkan itu, Djati berhasil menarik lepas tangannya dari cengkeraman Denara.
Laki-laki itu segera pergi dari pesta membuat Denara mematung di tempatnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Takeaway
ChickLitMasalah ini bermula dari rasa iri Denara pada Raisa, sang kakak yang selalu sukses dalam hal apapun. Raisa, si sulung yang pintar dalam bidang akademis, sukses di bisnisnya dan juga cantik di mata banyak pria. Perempuan duapuluh delapan tahun itu s...
