Belum Berakhir

42.4K 2.9K 7
                                        

Denara mengerjakan mata pelan. Ia terbangun setelah mendengar suara ribut-ribut di luar.

Saat kesadarannya terkumpul, perempuan itu kembali ingat jika sedang berada di kamarnya, di rumah mewah Miswar.

Tak ingin buru-buru melihat kegaduhan yang tengah terjadi, Dena mulai mengingat-ingat tujuannya kemari.

Ah benar, tadi menaruh amplop di ruang kerja papa.

Gimana nasibnya tuh amplop? Apa papa udah baca isinya?

Dena beranjak turun dari ranjang king size. Meski tak semewah milik Raisa, namun ini salah satu tempat ternyamannya di rumah.

Dari lantai dua, perempuan itu bisa melihat jika di ruang tengah, ada banyak sekali orang yang sedang berkumpul.

Raut wajah mereka tampak serius, sesekali menunduk sambil menghela napas berat.

Apa yang terjadi?

Dena sontak mencari keberadaan Miswar yang ternyata duduk berhadapan dengan Juan. Bakal calon besannya yang selama beberapa hari ini ia bangga-banggakan.

"Berani-beraninya kamu menjebakku!" Ujar pria itu sambil menggebrak meja.

"Kita tidak sedang menjebak, ini bagian dari kerja sama yang menguntungkan."

Mendengar kata-kata itu, membuat Miswar memalingkan wajah sambil tersenyum sinis.

"Jangan mimpi! Aku tidak sebodoh yang kamu kira!"

"Ayolah Miswar, ini baru langkah awal, keuntungan besarnya akan kita dapat setelah proyek berjalan." Juan masih mencoba bernegosiasi.

"Sejak berkas-berkas itu ada di mejaku, maka semua rencana kerja sama kita gagal!"

Ah, Denara mulai mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

Berarti papa udah tahu kalo selama ini cuma dimanfaatkan sama Juan.

"Sepertinya cara main kita di awal tidak begitu," Juan masih berusaha bernegosiasi.

"Aku bisa merubahnya kapan pun. Karena di sini aku yang memiliki kuasa dan dana untuk menopang terlaksananya proyek bejat kalian!"

"Wah sepertinya kita sedang berhadapan dengan pengusaha munafik." Cibir Juan sambil melirik ke arah anak buahnya.

"Dengar pak Miswar, kita sama-sama bekerja di bisnis besar yang tidak selalu suci. Sering kali ada kebejatan yang memang harus dipilih untuk mendapatkan apa yang kita mau,"

"Tidak! Keluar dari rumahku jangan pernah muncul lagi. Semua perjanjian bahkan rencana perjodohan anak-anak kita batal!" Tegas Miswar sambil menunjuk ke arah pintu keluar.

"Sialan! Jangan harap kamu bisa hidup tenang. Detik ini kamu menghancurkan rencana yang sudah disusun, maka bersiap untuk kehilangan segalanya!" Ancam Juan yang segera berlalu dari hadapan Miswar.

Dena kembali berjalan pelan ke arah kamar, tepat setelah Miswar berjalan ke ruangannya.

Dena yakin, papanya itu sama sekali tidak menyadari jika anaknya pulang.

Ah atau memang tidak pernah peduli.

Ponsel pintar yang ia diamkan sejak pagi, kini kembali Dena periksa. Tak ada satu pesan pun di benda persegi panjang tersebut, membuatnya menghela napas pelan.

"Kabarin mas Djati ngga ya?" Tapi tiba-tiba ia ingat pesan terakhir Djati saat berada di ambang pintu apartemennya.

Jangan hubungi aku, kecuali aku yang telpon atau kirim pesan.

TakeawayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang