"Loh mas, nggak jadi pergi ke kantor?" Denara terkejut, lalu mendekati Djati yang justru tiduran di sofa apartemen.
"Aku bebas tugas hari ini," Jawab laki-laki itu tanpa membuka kedua matanya.
Perempuan itu mendesah kecewa, padahal dirinya pikir, ia bisa langsung keluar apartemen untuk mencari kerja, selama Djati pergi ke kantor.
Tapi jika laki-laki itu libur, artinya Denara harus pintar mencari alasan agar perkaranya tidak panjang.
"Kamu mau ke mana rapi banget?" Entah bagaimana cara laki-laki itu tahu, padahal sejak tadi Denara mengamati mata Djati masih terpejam.
"Ah, enggak ini kemeja dari ibu. Semalam dia kasih aku baju ganti, tapi baru aku pakai sekarang." Bohong perempuan itu.
Pelan-pelan Djati beranjak dari tidurnya, lalu duduk bersandar di sofa.
"Aku mau ngomong sesuatu," Ujarnya setelah menghela nafas.
"Emm.. Besok aja bisa nggak? Aku mau pergi sebentar." Pinta Denara membuat Djati mengernyit.
"Ke mana?"
"Ke.. ke rumah teman."
Djati diam sejenak,
"Bisa nggak mainnya nanti sore, biar aku yang antar. Sekarang aku butuh bicara."
"Tapi, mas."
Tatapan laki-laki itu seperti tidak ingin dibantah. Mau tidak mau, Denara menurut.
"Mau ngomong apa?"
"Aku minta, besok kamu pulang ke rumah." Perempuan yang kini tengah duduk di depan Djati sontak melotot.
"Mak-maksudnya?"
...
Di sinilah Denara sekarang, memandang rumah megah dengan pagar tinggi yang tampak sepi.
Sesuai permintaan Djati, ia terpaksa kembali ke rumah Miswar. Membawa beberapa amanat yang laki-laki itu berikan.
Sejenak memejamkan mata sambil menghela napas kasar, Denara melangkah ke dalam rumah.
"Non Denara pulang! Ya ampun, non... bibi khawatir." Teriak salah satu asisten di rumah Miswar dengan suka cita.
Denara terhenyak sesaat sebelum akhirnya tersenyum penuh haru.
"Gapapa bik, aku baik-baik aja." Ujarnya saat mereka saling berpelukan.
"Makan dulu yuk, non!"
"Nanti aja bik, Dena mau ke kamar dulu. Oh iya, papa mama dan kak Raisa udah berangkat kerja ya?"
"Sudah non, mereka baru saja berangkat. Kalo non Raisa tadi dijemput mas Rasya, kurang tahu mau ke mana."
"Ya, sudah bik. Dena naik ya." Serunya lalu berjalan ke lantai dua.
Tepat setelah menginjak tangga terakhir, Dena menatap pintu besar bercat coklat keemasan. Yah, salah satu pintu di ruangan yang selama ini belum pernah Denara masuki, yakni ruang kerja Miswar.
Pelan-pelan perempuan itu berjalan ke arah sana, mengeluarkan amplop besar dari dalam tas, berisi berkas-berkas yang Djati berikan.
"Pulang?"
"Iya, bawa berkas-berkas ini dan pastikan papa kamu membacanya."
"I-itu apa?"
"Ini berkas perjanjian. Salah satu dokumen penting yang sebenarnya harus ditandatangani."
"Maksud mas Djati? Aku sama sekali nggak paham."
Djati menghela nafas pelan, lalu meminta Denara mengamati berkas itu satu per satu.
"Ada salah satu proyek besar milik negara yang bekerja sama dengan perusahan milik Juanda." Laki-laki itu sejenak menjeda kalimatnya.
"Kamu ingat kasus korupsi salah satu pejabat yang membuat keluarga Juanda dan papa kamu kemarin dipanggil untuk jadi saksi?"
"Iya ingat."
"Saat itu pihak Juanda memang dinyatakan tidak ikut serta, tapi dari penyelidikan lanjutan kami mendapat fakta baru. Pejabat yang ditangkap sudah mengalihkan beberapa asetnya dan mengganti nama kepemilikan mereka dengan nama baru. Tujuannya agar asset-asset itu aman dan tidak ikut disita negara."
"Salah satu aset yang masih berbentuk proyek itu dikendalikan oleh keluarga Juanda." Denara tentu melotot.
"Kenapa bisa begitu?"
"Uang mengendalikan segala cara!" Pungkas Djati
"Lalu? Aku harus ngapain dengan berkas-berkas ini?"
"Tukar berkas ini dengan berkas yang seharusnya papa kamu terima. Mungkin besok siang akan dikirim ke rumah. Pastikan berkas ini yang dibaca dan bukan berkas palsunya."
"Apa ada kaitannya dengan perjodohan kak Raisa?"
"Nah, masalah utamanya memang di sana." Denara semakin mengernyit.
"Proyek ini bukan proyek yang main-main. Dana yang dikeluarkan negara tidak sedikit, kamu tahu kalau perjodohan mereka tidak lain hanya untuk kepentingan bisnis?"
"Iya."
"Jadi dari penyelidikan yang kami lakukan, dua hari lagi perusahaan-perusahaan yang tergabung dengan saham milik Juanda akan memulai proyek ini. Ada beberapa kebutuhan yang harus diimpor. Dana dari negara yang seharusnya digunakan untuk impor justru masuk ke kantong-kantong pebisnis itu."
"Salah satu poin perjanjian pranikah antara Raisa dan Rasya adalah kepemilikan saham milik Juanda yang akan jatuh ke tangan Miswar."
"Tapi itu hanya formalitas."
"Maksud mas Djati?"
"Papa kamu nanti yang akan menanggung semua biaya impor. Dia pikir, sedang melakukan transaksi pembelian saham dengan harga murah. Padahal sebenarnya pak Miswar hanya dimanfaatkan."
"Jadi secara nggak langsung papa ditipu?"
Djati mengangguk.
"Karena sebenarnya, biaya impor tidak sebanyak dana yang dilaporkan pada negara. Pihak-pihak licik itu hanya membesar-besarkan nilainya untuk mencari keuntungan."
"Uangnya bahkan hanya digunakan untuk memperkaya diri mereka, dan biaya impor justru ditangguhkan pada pihak lain dengan perantara perjodohan."
"Memangnya kalau dokumen ini sampai ke tangan papa pengaruhnya apa?"
"Papa kamu akan tahu persoalan sebenarnya. Setelah tahu fakta ini, tidak mungkin dia mau menandatangani perjanjian yang justru akan merugikan perusahaannya. Proses impor tidak akan berjalan jika berkas itu tidak ditandatangani."
"Pihak kami bisa meringkus oknum-oknum yang terlibat. Permasalahan ini sudah diselidiki sejak lama. Hanya saja, proses hukum di negara kita masih sangat lemah. Terkadang sudah susah payah melakukan penyelidikan, sampai di pengadilan hukuman yang diberikan tidak sesuai dengan kesalahan pelaku. Ada yang masih bisa melakukan transaksi bisnis di dalam sel tahanan."
"Kenapa aku harus membantu papa, toh dia pasti nggak akan tahu kalau kita melakukan ini."
"Menjadi berguna tidak harus disebutkan namanya, kan!" Seru Djati membuat Denara terdiam.
"Tapi, kenapa nggak kita biarin aja. Biar papa tahu rasa ditipu orang yang paling dipercaya." Sepertinya perempuan itu masih menyimpan dendam pada Miswar.
"Ra, kalo kamu nggak mau melakukan ini untuk menyelamatkan papamu dari kerugian, lakukan ini untuk negara kita. Setidaknya, kasus-kasus korupsi di negara ini bisa pelan-pelan diberantas. Ada hak-hak rakyat yang tidak boleh dikuasai oknum-oknum licik."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Takeaway
Romanzi rosa / ChickLitMasalah ini bermula dari rasa iri Denara pada Raisa, sang kakak yang selalu sukses dalam hal apapun. Raisa, si sulung yang pintar dalam bidang akademis, sukses di bisnisnya dan juga cantik di mata banyak pria. Perempuan duapuluh delapan tahun itu s...
