Rencana Pindah

54.5K 3.6K 120
                                        

Kamu di mana? Udah pulang ke rumah?

Mata Denara mengerjap pelan saat ponselnya menunjukkan satu notifikasi atas nama Djati. Ah, ternyata laki-laki itu masih menyimpan nomorku. Seru Denara dalam hati.

Aku di rumah ibu, mas.

Balasnya cepat sembari meletakkan alat lukis yang kini tengah ia gunakan untuk membantu Marwa menggambar.

Ibu? Ibu kamu?

Entah kenapa, Denara mendadak antusias saat Djati membalas pesannya dengan respon cepat.

Ibu kamu, aku main ke tempat Marwa.

"Warna merah bagus!" Seru Marwa dengan tawa riang, sedangkan Denara hanya menimpali dengan anggukan.

Oh, mau pulang ke apartemen kapan?

Denara berpikir sejenak lalu mengetik balasan.

Malam ini aku boleh nggak menginap di tempat ibu? Marwa ngajak aku tidur berdua.

Ya.

Jawaban singkat Djati membuat Denara menghela napas lega. Pagi tadi, tepatnya setelah Djati pergi ke kantor, Denara merasa bosan karena tidak punya kegiatan.

Alih-alih berbelanja keperluan dengan uang yang Djati berikan, Dena justru memakainya untuk membayar taksi yang mengantarkannya ke rumah Bu Lusi.

Begitupun dengan banyak makanan yang Djati beli, Denara membawa semuanya untuk ia berikan pada Marwa.

"Gimana? Jadi tidur di sini nggak?" Tanya Bu Lusi saat masuk ke kamar putrinya.

"Jadi bu,"

"Sudah ijin sama papa dan mama kamu, kan?" Perempuan itu hanya mengangguk kaku, dia tidak mungkin berkata jujur apalagi bilang kalo sementara waktu ini ia tinggal di tempat Djati.

"Iya bu, sudah."

"Ini bajunya Marwa, masih baru belum pernah dipakai, nanti kamu ganti pakai ini aja ya." Dena menatap pakaian yang Lusi berikan, sembari memandangi pakaiannya sendiri yang ia kenakan sejak malam tadi.

"Makasih ya, bu."

"Sama-sama, kalau begitu ibu keluar, kamu bersih-bersih dulu dan jangan tidur terlalu larut.

"Iya," Ujar Dena singkat.

Hampir satu jam setelah mandi, mata Denara belum juga bisa terpejam. Bahkan Marwa sudah pulas sejak tadi.

Denara menatap adik perempuan Djati itu, sembari tersenyum. Mengenal Marwa lebih dekat, Denara merasa gadis di sampingnya itu benar-benar anak yang luar biasa.

Hari ini, Marwa dalam kondisi yang baik, anak itu tidak menunjukkan perangai buruk, bahkan jika ada orang yang belum tahu, mereka pasti mengira Marwa adalah gadis normal.

Menghela nafas perlahan, Denara membiarkan kakinya menyentuh lantai sembari berpikir keras bagaimana ia akan hidup setelah ini.

Jika orang tuanya dengan congkak menganggap Dena tidak bisa hidup tanpa harta mereka, seratus persen anggapan itu tentu keliru, toh di luar rumah masih banyak orang yang peduli padanya, salah satunya adalah keluarga Djati.

Meski begitu, Dena juga tidak ingin dirinya merepotkan keluarga baik ini terlalu lama. Detik berikutnya, perempuan dengan segala pikiran sesak di kepalanya itu memutuskan untuk mencari kerja.

...

"Sarapan! Ayok, sarapan sama Marwa!" Mata Denara mengerjap pelan, berusaha menyesuaikan cahaya yang langsung menyilaukan matanya.

TakeawayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang