Malam ini apartemen Kim Seokjin kedatangan tamu, Park Chanyeol. Sudah satu jam berlalu dan Seokjin masih saja tidak bisa tenang. Seokjin terus berbicara tapi juga terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya, alhasil Chanyeol semakin tidak mengerti apa yang dia katakan.
"Sebenarnya apa yang kau bicarakan dari tadi, sih?" Chanyeol menggaruk telinganya, sudah lelah mendengar ocehan Seokjin.
"Maksudku karena perempuan itu ayahku jadi salah paham. Aku hanya berniat menggodanya, tidak lebih!" Seokjin menjelaskan kembali perkataannya, lalu memasukkan lagi keripik kentang ke dalam mulut.
"Kau sendiri bagaimana? Apa tidak tergoda olehnya?"
"Tidak! Tidak akan!"
Chanyeol mencebikkan bibir, Seokjin bisa saja berbohong demi mempertahankan harga dirinya. Chanyeol pernah sekali bertemu gadis itu di sebuah acara, dan menurutnya Direktur Park itu menarik. Ada pesona tersendiri dalam dirinya yang dapat memikat orang lain dengan cara yang berbeda.
Keheningan melanda selama beberapa menit. Seokjin sudah selesai mengeluarkan keluhannya dan sekarang keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Seokjin dengan laptopnya dan Chanyeol dengan ponselnya.
"Ya! Berita tentang perusahaan kalian menjalin kerjasama sudah muncul. Berita kau dan Direktur Park menjalin hubungan juga ada di sini!" kata Chanyeol antusias.
Chanyeol mendekatkan ponselnya ke arah Seokjin, menunjukkan berita yang baru ia dapatkan dari bawahannya.
"Sial! Pasti orang dari Parc Grup yang menyebarkan ini!" kesal Seokjin setelah membaca berita di internet.
Emosi tergambar di matanya. Tidak mungkin orang-orang dari perusahaannya yang menyebarkan berita ini. Seokjin sudah memperingatkan semua orang yang saat itu datang bersama ayahnya untuk tutup mulut.
"Jadi, bagaimana rencanamu?" tanya Chanyeol mengkhawatirkan Seokjin. Masalah Seokjin kali ini cukup berat. Biasanya dia bisa menyelesaikan masalah apa pun dengan mudah, namun kali ini sedikit berbeda sebab Ayah Seokjin juga ikut terlibat.
Seokjin diam sejenak. Tatapannya menerawang ke depan. Duduk bersandar sambil mengelus dagu pelan, memikirkan hal bagus untuk dilakukan
"Presdir Park itu licik. Sudah 2 tahun dan dia masih saja berusaha mengajukan kerjasama meskipun sudah sering ditolak. Perusahaan itu juga tidak segan untuk membuat saingannya hancur."
Kali ini Seokjin tersenyum miring. Dia mendapatkan sesuatu dari pemikirannya. Badannya dimajukan sedikit ke arah Chanyeol agar temannya itu bisa mendengar dengan baik.
"Aku sebenarnya tidak tertarik, tapi setelah beberapa kali bertemu sepertinya bermain dengan Direktur Park menyenangkan juga. Jika ayahnya menghancurkan orang lain, bagaimana jika aku yang akan menghancurkan anaknya?" ujar Seokjin dengan seringai.
---
"Apa yang kau pikirkan?!!! Jika saja kau setuju menikah dengan anak Ketua Kim bisa kau bayangkan berapa keuntungan yang akan kita dapatkan!" amuk pria tua yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
Ruang kerja Ayah Seyi seketika berubah menjadi ruang penghakiman. Seyi berdiri di depan ayahnya dengan tangan yang terkepal. Tidak lucu jika kelepasan menggebrak meja ayahnya, bisa-bisa ia ditendang keluar dari rumah.
"Aku tidak akan pernah menyetujuinya!" ucap Seyi lantang.
"Kau kupekerjakan di perusahaan bukan untuk membuat masalah! Jika kau memang tidak bisa memajukan perusahaan, lebih baik kau berhenti! Masih ada Yoo Minjung yang bisa menggantikanmu!" balas ayahnya tak kalah lantang dan menusuk.
Sorot Seyi memerah mendengar kalimat yang ayahnya lontarkan. Tak menyangka perkataan itu keluar dengan mudah.
"Jangan buat keputusan bodoh seperti ibumu jika tidak ingin kukeluarkan dari perusahaan!"
Seyi berdecih tak suka. Tidak tahan jika itu membawa-bawa ibunya. "Ayah memang ingin mendepak ibu dari awal! Setelah berselingkuh dengan wanita ular itu, ayah menjadi orang yang licik!" Seyi lalu meninggalkan ruang kerja ayahnya. Bersikap tidak peduli dengan teriakan marah yang terdengar di belakangnya.
Brakk!
Pintu kamarnya ia tutup dengan keras. Seyi harus bisa menahan diri dan mendapatkan kembali yang apa yang menjadi tujuannya tanpa bantuan dari orang lain. Seyi duduk bersandar di kasur dengan tatapan kosong. Sampai malam hari pun ia tetap tidak beranjak dari kasurnya.
Dalam keheningan terdengar suara ketukan pintu kamar dari luar. Tanpa perlu menunggu pemilik kamar mengizinkan masuk, seorang wanita dengan santai memasuki kamarnya.
"Aku membawakan makan malam. Anak keras kepala sepertimu pasti tidak akan turun untuk makan malam bersama setelah bertengkar dengan ayahnya." kata Yoo Minjung sambil meletakkan baki makanan di nakas sebelah kasur.
"Anggap saja ini sebagai ungkapan terimakasih karena kau sudah mempermudah kerjasama dengan Seja Grup. Ya, walaupun kau harus menjual tubuhmu kepada pemimpinnya." lanjut Minjung melipat tangannya di depan dada sembari menatap anak tirinya yang terlihat menyedihkan.
"Keluar! Aku tidak ingin berdebat denganmu!" Seyi membalikkan tubuh membelakangi Yoo Minjung. Ia merebahkan diri dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Tidak kusangka ternyata kau semudah ini. Datang ke perusahaan itu lalu melakukan hal yang tidak pantas. Sebelumnya polisi juga mendatangimu." sinis Yoo Minjung tanpa henti.
Sontak Seyi bangkit dari kasurnya. Menatap nyalang wanita berisik di hadapannya. "Aku bilang keluar!!!"
Lantas Minjung segera angkat kaki dari kamar Seyi sebelum gadis itu melemparinya dengan lampu tidur seperti beberapa bulan yang lalu.
---
Hari ini pertemuan membahas kerjasama antara Parc Grup dan Seja Grup diselenggarakan, namun Seyi tak berniat menghadirinya.
Seyi keluar rumah pagi-pagi sekali, berjalan tanpa tujuan hingga malam menyapa. Ia tidak ingin diamuk ayahnya jika berada di rumah sebab tak hadir di pertemuan itu. Seyi tidak ingin dimanfaatkan oleh ayahnya, terlebih tidak ingin bertemu Kim Seokjin.
Suhu semakin menurun. Baju kaosnya yang hanya dilapisi kardigan rajut tidak dapat menahan udara dingin. Meski begitu Seyi tetap berjalan dengan wajah yang sudah pucat.
Sambil menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau, Seyi memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Pandangannya tiba-tiba mengabur. Seyi teringat ia belum makan apa pun dari kemarin hingga detik ini. Tenaganya juga sudah banyak terkuras karena berjalan terlalu lama.
"Tidak, jangan sekarang." batinnya memohon.
Dua detik kemudian lampu berubah hijau, dengan terseok Seyi memaksakan tubuhnya berjalan.
Bruk!
Seyi tak sanggup lagi. Tubuhnya ambruk di tengah jalan. Matanya memberat perlahan. Satu harapan Seyi saat ini, semoga esok hari dirinya tidak berada di tempat pembuangan sampah dengan nyawa yang sudah melayang. Ia tahu banyak orang yang tidak menyukainya dan ingin menyingkirkannya.
Tepat sebelum kesadarannya hilang total, Seyi mendengar seseorang memanggilnya seiring sebuah bayangan yang mendekat.
"Direktur Park!"
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT TIME ✔️
Fanfiction𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪, 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙎𝙚𝙮𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙆𝙞𝙢 𝙎𝙚𝙤𝙠𝙟𝙞𝙣. |2021|~|2026|
