"Keluarga ini, sungguh pandai bersembunyi."
Lisan Seyi tajam. Atmosfer di sekelilingnya kering dan suram. Menatap satu persatu orang yang duduk di hadapannya, liriknya nyalang bersitatap dengan bocah yang usianya lebih muda dari Heechan. "Aku sudah tahu Chaerim adalah adikmu. Tapi untuk anak ini, memang sedikit mengejutkan."
Minjung menahan nafas untuk tak bereaksi berlebihan, bertanya dengan nada rendah. "Sejak kapan kau tahu Chaerim adalah adikku?"
"Menurutmu?" sinis Seyi menyeringai.
Masih berlagak tenang seraya mengelus tangan anaknya yang tengah berlindung memeluknya dari samping, Minjung membalas, "Tenang saja. Joyi tidak akan mengganggumu."
"Di mana selama ini dia sembunyi?"
Minjung membuang pandangan tak ingin menjawab.
"Chaerim. Kau pasti tahu di mana dia disembunyikan."
Respon yang sama. Mereka melindungi anak itu.
Lalu Seyi beralih menjatuhkan sorot tajamnya kepada anak perempuan yang mengintipnya dari balik lengan Minjung. "Ya! Di mana persembuyianmu?"
Pam!
"Cukup! Pergilah jika kau hanya ingin membuat keributan!" hardik ayahnya setelah hanya diam mengamati.
Melongok sang ayah dengan rahang yang mengeras, Seyi menyeru, "Aku membuat keributan?"
"Sekalipun kau tidak menerimanya, dia tetap adikmu!"
"Jangan harap aku akan bersikap baik padanya!"
Duduk di dekat sang ayah, Seyi bisa merasakan amarah ayahnya berkecamuk.
"Apa kau masih belum menyadari pengorbanan orang lain untukmu?! Minjung tak akan menyembunyikan kehamilan dan anaknya jika kau tidak membencinya sampai sekarang!"
Saraf di netra Seyi memerah, suaranya tertahan dalam mulut. "Aku membencinya. Aku benci kalian semua."
"Kau boleh membenciku," Minjung menengahi. Kali ini ia berani menatap Seyi tegas. "Tapi cukup hanya aku. Kau boleh menyalahkanku telah merebut ayahmu, boleh menuduhku telah menghancurkan keluargamu, juga menudingku atas kematian ibumu. Karena memang itu alasan ayahmu menikahiku."
Seyi bergeming mendengarkan. Tatapannya tak berubah, menyimpan emosi. Kalimat terakhir Minjung butuh ia dengar lebih lanjut.
"Hidup dengan membenciku, setidaknya kau punya alasan untuk hidup. Ayahmu, ingin kau tetap hidup." Minjung membeberkan perihal yang selama ini ia simpan rapat. Tuan Park berdeham keras agar Minjung tidak melanjutkan perkataannya, namun merasa harus meluruskan semuanya ia kembali bersuara. "Tidak ada seorang pun yang rela dibenci untuk alasan yang tidak ia lakukan. Aku dan ayahmu, melakukan semuanya demi dirimu. Termasuk pernikahanmu dengan Seja Grup. Ayahmu ingin agar kau selamanya hidup dengan baik dan terhormat."
"Omong kosong." Seyi menampik. Kisah seperti itu, terlalu apik untuk dirinya yang bernasib buruk ini.
"Orang-orang yang dulu sangat menyayangiku, kini semuanya adalah milikmu, Park Seyi." Tampaknya Chaerim pun telah jenuh dengan Seyi yang terus menyangkal kenyataan hingga turut angkat bicara. "Kakakku memang berambisi untuk hidup kaya raya. Dia membuangku demi mengejar pria-pria kaya. Tak kusangka, dia malah jatuh pada ayahmu. Dan kau tahu apa yang kakakku katakan padaku saat mengetahui Seokjin ternyata adalah orang yang selalu di sisiku selama dia meninggalkanku? Dia memintaku untuk jangan mengambil Seokjin darimu. Tsh. Detik itu aku merasa aku adalah orang jahat."
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT TIME ✔️
Fanfiction𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪, 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙎𝙚𝙮𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙆𝙞𝙢 𝙎𝙚𝙤𝙠𝙟𝙞𝙣. |2021|~|2026|
