Hari ini Seoul terasa lebih dingin dari biasanya. Rintik hujan masih terlihat di luar jendela mengakibatkan udara terasa semakin lembab. Dapat ditebak penduduk Seoul lebih memilih berdiam diri di dalam ruangan daripada berkeliaran di luar lalu kehujanan.
Begitu juga dengan Park Seyi, sudah berjam-jam ia berada di ruang kerja bersama tumpukan kertas. Tidak ada suara yang terdengar selain suara mesin penghangat ruangan.
Seyi cukup banyak pekerjaan hari ini. Bagaimanapun, ia harus bisa mendapatkan lagi kepercayaan untuk ikut proyek musim panas tahun depan.
Tok... Tok...
"Masuk."
Tanpa perlu mengalihkan pandangan dari kertas di hadapannya, Seyi memberi izin masuk. Mungkin itu Sekretaris Lim, pikirnya.
"Park Seyi-ssi? Anda Direktur Park, benar?"
Seyi mengangkat kepalanya, itu bukan suara Sekretaris Lim dan yang berdiri di sana juga bukan sekretaris wanitanya itu ataupun pekerja kantornya, melainkan tiga orang lelaki yang mengenakan jaket kulit layaknya seorang detektif.
"Ya, benar." Seyi berdiri menghadap mereka. Lalu salah satu dari ketiganya menunjukkan tanda pengenal kepolisian. Seyi tercenung tidak mengerti mengapa polisi mendatanginya.
"Anda dilaporkan menjadi tersangka kasus tabrak lari. Silahkan ikut kam—"
"Sebentar! Saya butuh penjelasan. Siapa yang melaporkan saya?" sahut Seyi memotong perkataan seorang polisi.
"Pria bernama Kim Seokjin melaporkan Anda sebagai tersangka atas kasus tabrak lari yang terjadi kepadanya pukul 16.05 sore kemarin."
Seketika Seyi teringat kejadian yang dimaksud. Presdir Seja Grup itu benar-benar melaporkannya.
Helaan nafas kesal terdengar dari si gadis Park. Ia tidak ingin menambah masalah, apalagi jika sampai ayahnya tahu dirinya bermasalah dengan Presdir Seja Grup hingga polisi datang menemuinya. Ayahnya masih terus bekerja keras agar dapat bekerjasama dengan Seja Grup meskipun sudah berulang kali ditolak, dan Seyi tak ingin menghancurkan kerja keras ayahnya.
"Ada kesalahpahaman di sini. Saya akan menemui Kim Seokjin secara pribadi, jadi tolong keluar dari ruangan ini sekarang dan bertindak seolah tidak ada masalah apa pun yang terjadi. Saya tidak ingin orang-orang salah paham dan berpikiran buruk."
"Tapi—"
"Saya tidak akan kabur. Silahkan ikuti saya jika Anda ingin." sela Seyi menatap nyalang polisi di depannya.
Polisi dengan cepat mengangguk. Apa Park Seyi terlalu menakutkan sampai polisi ini tidak sanggup menolak?
"Baiklah. Silahkan Anda menyelesaikan langsung masalah ini dengan korban. Namun jika korban tetap tidak mencabut laporan ini, kami akan kembali mencari Anda. Permisi."
Polisi kemudian keluar dari ruangan berlabel Direktur Park, dan bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi persis seperti yang gadis itu inginkan.
Umpatan kecil terdengar dari mulut Seyi. Ia mengibas blazer yang ia kenakan dengan gerakan kasar seolah benci jika terdapat debu sekecil apapun di sana lalu bergegas pergi ke tempat yang sama sekali asing baginya itu.
___
Langkah kaki yang terdengar nyaring menarik perhatian orang-orang yang mendengarnya. Seorang gadis dengan tatapan mengerikan berjalan tak sabaran menuju ruang kerja Presdir. Pekerja di Seja Grup terperangah dan mulai bergosip ketika melihat gadis itu menemui Presdir mereka dengan raut yang tidak bersahabat.
Brak!
Kim Seokjin yang tengah berdiri di depan jendela sembari melepas kancing jasnya itu berbalik untuk melihat siapa yang berani membuka pintu ruangannya dengan kasar.
Oh, Direktur Park rupanya.
Park Seyi berjalan masuk dengan langkah cepat lalu menarik kerah kemeja Kim Seokjin. Matanya menatap nyalang Seokjin yang kini tersenyum miring. Lelaki itu seperti sudah menduga hal ini.
"Kau!" kata Seyi menggeram.
Andai Seyi tidak bertemu Yoo Minjung saat keluar dari kantor dan memprovokasi tentang polisi yang datang kepadanya, mungkin Seyi tidak akan semarah ini.
"Presdir, Nona ini bersikeras untuk masuk. Saya sudah memanggil penjaga untuk membawanya keluar,"
Seorang lelaki datang dan langsung terlihat panik melihat apa yang terjadi pada atasannya, dia sudah berusaha menghentikan dan membawa pergi gadis itu agar tidak sembarangan masuk ke ruangan ini, namun ternyata gadis itu lebih kuat dari yang dia kira.
Tanpa melunturkan senyuman dan tanpa melepaskan tatapan dari gadis Park yang berdiri sangat dekat dengannya ini, Seokjin menjawab. "Tidak perlu, aku memang ada urusan dengan gadis cantik ini."
Park Seyi berdecih tidak suka mendengarnya. Ia melepas cengkraman di kerah kemeja Seokjin dengan sedikit mendorong. "Cabut laporanmu sekarang juga!"perintah Seyi tegas.
Seokjin melipat tangannya di dada, mengabaikan perintah itu lalu menawarkan sesuatu yang lain, "Anda tidak ingin duduk dahulu dan meminum secangkir teh, Direktur Park?"
"Tidak perlu bicara omong kosong, telpon polisi sekarang dan cabut laporannya!"
Melihat Park Seyi yang menggebu-gebu Seokjin jadi terkekeh sendiri. "Kan sudah aku bilang, aku ingin sepuluh miliar,"
Seyi memutar matanya jengah, ia tidak percaya dengan kelakuan lelaki di depannya ini. "Kau ingin bermain-main denganku, Presdir Kim?" Seyi mengambil satu langkah lebih dekat ke arah Seokjin, menyisakan jarak 20 cm di antara mereka.
Detik itu juga Kim Seokjin mengeluarkan seringai mautnya saat menggoda wanita, "Tidak, aku hanya ingin sepuluh miliar darimu,"
"Benarkah? Tapi kau terlihat seperti lelaki yang suka mempermainkan wanita, Kim Seokjin-ssi." Seyi ikut menyeringai.
"Aku tidak seperti itu," balas Seokjin dengan senyuman.
Tidak tahu apa yang merasuki Park Seyi, gadis itu tiba-tiba melepas blazer berwarna krem yang dikenakannya lalu dilemparkan ke lantai, menyisakan kemeja polos yang biasa ia gunakan.
"Kau yakin?" Seyi semakin tak terkendali, seringai yang terlihat sangat menggoda bagi lelaki normal masih terpatri wajahnya.
"Hm,"
Kim Seokjin menjawab dengan dehaman singkat. Matanya tak lepas menatap Park Seyi lebih dalam menunggu apa yang akan gadis itu lakukan selanjutnya.
"Aku tidak percaya,"
Bahkan kini suara Seyi terdengar lebih menggoda. Sebenarnya Seyi sedikit terganggu dengan pandangan Seokjin kepadanya, tapi ia tidak akan menyerah sebelum laporan itu dicabut.
"Mau kutunjukan bagaimana cara aku menggoda wanita?" ujar Seokjin yang membuat Seyi berhenti melangkah lebih dekat karena kedua tangan Seokjin kini menggenggam erat bahunya.
"Seperti ini."
Hap!
Tiba-tiba Seokjin melepas jasnya dengan cepat lalu membuangnya ke lantai seperti yang Seyi lakukan beberapa saat lalu. Dengan gerakan yang lebih cepat Seokjin memeluk pinggang Seyi dan menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas sofa terdekat.
Seyi yang merasa itu semua terlalu cepat tanpa sadar mencengkram kemeja Seokjin saat merasa dirinya hampir terjatuh dan berakhir terbaring di sofa dengan Seokjin di atas tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan!!" teriak Seyi betul-betul terkejut dengan tindakan tak terduga Kim Seokjin.
Mata Seyi membulat, jantungnya hampir copot, tangannya memegangi kemeja putih Seokjin kuat menahan tubuh lelaki itu agar tidak semakin dekat dengannya.
"Sudah ku bilang aku tidak ingin bermain-main, tapi kau malah menggodaku,"
Sialan. Ada apa dengan Kim Seokjin? Dia tersenyum seperti singa yang puas mendapat mangsa.
Dengan posisi tubuh Seokjin yang mengurung Seyi di bawahnya, orang-orang bisa salah paham jika melihat mereka saat ini.
"KIM SEOKJIN!"
Bukan, itu bukan Park Seyi yang kembali berteriak, tetapi seseorang yang kini tengah berdiri di depan pintu memandangi mereka dengan ekspresi tak terbaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT TIME ✔️
Fanfiction𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪, 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙎𝙚𝙮𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙆𝙞𝙢 𝙎𝙚𝙤𝙠𝙟𝙞𝙣. |2021|~|2026|
