|7| Red

806 93 5
                                        

"Oke. Aku minta maaf. Aku tidak tahu akan menjadi seperti ini." Sudah sedari tadi Chanyeol ingin mengatakannya, tetapi selalu tertahan di ujung lidah.

Jika saja dia tidak membawa Park Seyi ke apartemen Seokjin, Ibu Seokjin tidak akan mempercepat pernikahan lelaki di sebelahnya ini.

Seokjin menghela nafas beratnya. "Serinci apa pun aku menjelaskan kejadian yang sebenarnya, ibu tetap keras kepala untuk melanjutkan pernikahan."

Tahun ini Seokjin baru menginjak usia 31 tahun dan ia tidak pernah punya pikiran sedikit pun untuk menikah di usia muda —menurutnya 31 tahun itu masih muda. Namun yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Baginya ini seperti perjodohan jalur kesalahpahaman.

Chanyeol ikut menghela nafas. "Setelah mendengar ceritamu itu aku langsung merasa bersalah. Jadi tolong maafkan aku."

"Aku tidak akan memaafkanmu."

"Ch,. Lagipula aku akan ikut senang kalau kau menikah. Dengan begitu kau akan berhenti tebar pesona pada perempuan lain. Hahaha!!!"

Chanyeol terbahak sambil memukul-mukul meja di depannya merasa puas dengan perkataannya sendiri. Seokjin hanya mengerut kening melihatnya. Bagian mana yang lucu?

Di tengah tawa Chanyeol yang memenuhi pendengaran, kini penglihatan Seokjin tertuju pada seorang perempuan di sudut ruangan yang terlihat kesusahan memperbaiki tumit sepatu tingginya yang patah.

"Itu anak pemilik Hayan Grup, bukan?" Seokjin menyikut lengan Chanyeol untuk menyadarkannya.

Chanyeol menghentikan tawanya lalu mengikuti arah pandang Seokjin. "Benar, dia anak pemilik Hayan Grup. Kau masih ingin mendekatinya?"

Seokjin tersenyum tipis. "Tentu saja, Seja Grup harus lebih maju lagi."

Kalimat Seokjin membuat Chanyeol menggeleng kepala tak habis pikir. Kurang maju apa lagi Seja Grup? Harga sahamnya saja buat Chanyeol melongo.

"Dulu kau pernah bertanya di mana apartemen dan apa kesukaan gadis itu, kan?" kata Chanyeol yang seketika mendapat tatapan penasaran dari Seokjin. "Dia tinggal di Galleria Foret. Dia juga suka coklat, jadi bawakan coklat mahal dari luar negeri untuknya jika kau ingin menarik perhatiannya."

Begitu kalimat Chanyeol selesai Seokjin berdiri dari kursinya melancarkan aksi mendekati targetnua. Namun baru beberapa langkah berjalan Seokjin kembali menghadap Chanyeol.

"Namanya?"

"Ck! Selalu saja tidak pernah ingat nama targetmu sendiri! Shin Yena, namanya Shin Yena."

---

Park Seyi mengetuk-ngetukkan pena di tangannya ke atas meja dengan tatapan menerawang. Tinggal 4 hari lagi dari waktu yang Seokjin berikan, dan Seyi selalu gagal untuk membatalkan rencana pernikahan itu.

Kemarin, Seyi segera mengajak Ibu Seokjin untuk bertemu dan menjelaskan seluruh kejadian yang sebenarnya. Tetapi tanggapan dari Ibu Seokjin sungguh tidak seperti yang ia harapkan dan bayangkan.

"Seokjin juga mengatakan hal yang sama denganmu. Aku minta maaf sudah mengambil kesimpulan seperti itu. Aku hanya takut seandainya kau memang mengandung cucuku dan Seokjin tidak mau bertanggung jawab. Tapi, aku benar-benar tidak bisa untuk membatalkan pernikahan kalian. Aku harap kau mengerti. Media pasti akan mengabarkan hal buruk tentang keluarga dan perusahaan kita jika ini dibatalkan begitu saja."

Seyi mengusak kasar rambutnya saat percakapan itu kembali terngiang di kepalanya. Bahkan setelah pulang dari menemui Ibu Seokjin, ia berpapasan dengan Yoo Minjung dan wanita itu berkata bahwa Seyi tidak perlu melakukan apa pun karena segalanya telah dipersiapkan. Seyi semakin naik darah karenanya.

Di tengah pikiran yang sedang kalut tiba-tiba saja suara ketukan di mejanya terdengar.

"Direktur, maafkan saya. Saya sudah mengetuk pintu sedari tadi tetapi tidak ada sahutan." kata Sekretaris Lim yang membuat Seyi mengumpulkan kembali fokusnya. "Barusan ada orang yang mengirim paket untuk Anda. Tapi, tidak ada nama dan alamat dari pengirimnya."

Melirik sekretarisnya sekilas kemudian Seyi mengambil dan membuka paket berupa kotak kecil persegi itu tanpa ragu. Ya, tanpa ragu. Toh, jika paket itu berisi bom dan melukainya, ia bisa jadikan itu alasan untuk membatalkan pernikahan.

Namun nyatanya, begitu melihat isi dari kotak itu netra Seyi langsung berkaca-kaca dan jantungnya serasa diremas kuat sampai sesak di dada.

Seyi sangat mengenali benda di dalam kotak itu. Benda berwarna merah yang hanya ada dua di dunia ini.

"Nenek..." gumamnya lirih ketika menggenggam benda itu.

Sudah 7 tahun, dan neneknya tak pernah kembali. Tidak ada yang bisa menemukan keberadaannya hingga detik ini.

Seyi sangat rindu. Sangat ingin bertemu lagi dengan neneknya. Banyak hal yang ingin Seyi katakan dan juga tanyakan pada neneknya.

Sembari menahan bendungan di pelupuk matanya agar tidak turun, tangan Seyi bergetar mengangkat pergelangan tangan kirinya. Benda merah yang ada di kotak itu juga terpasang di pergelangan tangannya.

Benda itu tak pernah sekalipun ia lepaskan. Benda yang neneknya bilang membawa keberuntungan. Benda yang neneknya bilang mampu menghindari nasib buruk mendatanginya. Dan, benda yang Seyi percaya terdapat cinta di dalamnya. Itu adalah benda yang neneknya berikan padanya setelah berdoa semalaman untuk kebaikan cucunya dan pasangan cucunya kelak. Untuk Seyi dan calon pasangannya di masa depan.

Benda itu adalah gelang berwarna merah yang ia titipkan pada neneknya. Kini gelang itu telah kembali padanya.

Tak berapa lama kemudian Seyi yang tengah berpelukan dengan kenangan masa lalunya teralihkan oleh satu kertas dengan tulisan di bawah gelang itu.

'Setelah melihat ini kuharap kau bisa berpikir dengan baik.'

---

---

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PERFECT TIME ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang