|18| Instant

759 94 5
                                        

Tiga kotak sereal gandum.

Tujuh bungkus makanan ringan ukuran besar.

Enam cup makanan instan beda jenis.

Satu lusin Ramyeon.

Sampai... nasi instan?

"Yaa, Park Seyi!"

"Huh?" Tangan Seyi terhenti di udara sebelum sekaleng bir pilihannya masuk ke dalam troli. Ia menatap Seokjin dengan mata bulatnya.

"Apa ini maksudmu belanja kebutuhan rumah?!" keluhnya seraya mengambil alih bir dari tangan Seyi lalu mengangkat-angkatnya ke depan wajah gadis itu.

Seokjin mendengus begitu tatapannya mengarah ke troli belanja. Bahan untuk membuat telur ceplok saja belum cukup, tetapi sudah penuh dengan makanan ringan dan makanan instan milik Park Seyi.

"Ya," jawab Seyi sekenanya membenarkan perkataan Seokjin. Ia merebut kembali birnya dari tangan Seokjin untuk ditaruh di troli.

Seokjin melenguh. Hancur sudah imajinasinya tentang dapur yang penuh dengan makanan-makanan segar dan menyehatkan.

Lantas Seokjin tiba-tiba menarik Seyi, meletakkan kedua tangan gadis itu ke pegangan troli, dan Seokjin berdiri di belakang tubuhnya untuk mengawasi. "Jalan ke bagian sayuran." katanya yang kemudian mendapat tatapan sengit dari Seyi.

Seyi berjalan mendorong troli belanja seraya menahan kesal. Hendak menuju ke bagian sayuran-sayuran yang Seokjin maksud namun tanpa sengaja pandangannya menemukan keripik kentang kesukaannya tepat berada di depan mata. Seyi hendak mengulurkan tangan untuk mengambilnya, tapi...

Hap!

Tangan Seyi tertangkap.

"Tidak ada selada di sini." ucap Seokjin dengan datar kemudian meletakkan lagi tangan Seyi ke pegangan troli dengan benar.

Menurut Seokjin, semua makanan ringan dan instan yang Seyi ambil sudah cukup untuk dihabiskan dalam satu bulan. Jika menambah lagi, bisa-bisa Seokjin yang repot kalau tiba-tiba gadis itu terkena stroke, gagal jantung, atau penyakit lainnya akibat mengonsumsi makanan instan berlebihan.

Seyi mendengus, mencoba untuk tidak mengeluarkan kekesalannya di tempat umum dengan menggigit ujung bibirnya sendiri. Kim Seokjin benar-benar menyebalkan, dan juga pelit!

Baru beberapa langkah berjalan menjauh, hati Seyi benar-benar merasa kehilangan keripik kentang kesayangannya yang berlogo pak tua dengan kumis tebalnya itu sehingga tiba-tiba ia melakukan u-turn alias dengan cepat memutar tubuh ke belakang untuk mengambil satu kotak keripik kentang lalu memasukkannya ke troli belanja dengan sigap.

Seokjin yang terkesiap karena aksi Seyi yang tanpa aba-aba hanya bisa membuang nafas dan berkata, "Aku akan membiarkanmu untuk satu ini. Jalan lurus ke depan. Jangan masukkan apa pun lagi."

"Tahu begini aku tidak akan membawamu pergi belanja!" gerutu Seyi untuk Seokjin yang sedang bertegak pinggang di belakangnya.

"Justru aku yang tidak seharusnya membiarkanmu pergi belanja. Semua yang kau beli adalah makanan instan. Kau mau mati dengan cara instan juga?!"

"Tsk. Padahal kau sendiri juga sering makan di luar dari pada makan makanan rumah, untuk apa membeli bahan-bahan untuk memasak?"

"Kata siapa aku— Hei! Aku sedang bicara! Selada tidak ada di sana, Park Seyi!"

Sekuat tenaga Seyi mendorong trolinya melaju meninggalkan Seokjin di belakang sana. Merutuki Seokjin sepanjang jalan tahu-tahu Seyi berhenti di depan seorang pekerja supermarket yang sedang memasak sosis. Food tasting. Seyi mengambil lidi kecil lalu menusuk sepotong kecil sosis yang sudah matang. Rasanya sangat enak. Memang makanan instan dari perusahaan besar tidak perlu diragukan lagi rasanya.

PERFECT TIME ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang