Putih dan terang. Hangat dan menyilaukan.
Kim Seokjin mengedipkan matanya berulang kali, berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang menembus tirai kamar dan mengaburkan penglihatannya.
Bertukar posisi membelakangi jendela kamar, Seokjin terpaku. Wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Seyi yang masih terlelap.
Seyi tampak sama sekali tak terganggu dengan cahaya matahari yang menyorotinya. Dalam diam Seokjin mengamati Seyi dan setiap lekuk figurnya. Tak ada maksud lain, Seokjin hanya ingin melihat bagaimana seorang Park Seyi jika sedang tak berdaya. Mengambil kesempatan langka ini, Seokjin mengangkat jemarinya, mengarahkan ke wajah sang gadis lalu...
Tuk!
Seokjin menjentik dahi Seyi dengan jari telunjuknya.
Ia terkekeh pelan, tapi begitu kedua kelopak mata Seyi bergerak lekas Seokjin memejamkan mata berpura-pura tidur.
Srukk!
Dbukk!
Seokjin tercenung. Pergerakan barusan sangat cepat.
Begitu membuka mata Seyi langsung bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Bahkan Seyi tak perlu duduk dahulu sebelum turun dari kasur.
Sembari menggeleng-geleng kepala dan melanjutkan tidurnya Seokjin bertanya-tanya, apa gadis itu tak mengalami hipotensi ortostatik?
-----------
Seyi berkerut kening. Cream kue yang ia buat terasa tak benar. Mencoba sekali lagi, tetap saja rasanya berbeda dari yang ia bayangkan.
"Oh, mereka sudah mau pergi." Ibu Seokjin berseru dari arah meja makan. Matanya mengamati dua pria yang memasuki area dapur. "Sedikit lagi, bekalnya sudah hampir jadi," ujarnya lagi sembari menggulung kimbab terakhir lalu menaruh dengan rapi dalam kotak makan.
Seyi menatap keduanya. Kim Seokjin dan ayahnya. Berpakaian olahraga untuk pergi bermain golf. Sementara Seyi belum beranjak sama sekali dari dapur usai sarapan karena harus membantu Ibu Seokjin menghias kue sekaligus menyiapkan bekal untuk para pria di rumah ini.
Meninggalkan cream kuenya sebentar kemudian Seyi bergegas menutup kotak makan berisi beberapa cemilan yang telah ia siapkan dan menyusunnya ke dalam tas bekal.
"Ini cream untuk kue?" Oh, Seokjin mulai merecokinya. "Kurasa lebih cocok jadi umpan ikan,"
Seyi menahan nafas. Berusaha tak menghiraukan perusuh berusia 31 tahun di sebelahnya.
Kotak terakhir yang harus Seyi susun adalah kotak buah. Beberapa strawberry masih tersisa di piring. Tergiur dengan strawberry yang gemuk dan merah Seyi pun mengambil satu untuknya. Sangat manis dan segar. Strawberry yang terlalu besar untuk ia masukkan semuanya ke mulut itu baru tergigit sedikit di ujung ketika suara Ibu Seokjin memasuki pendengarannya.
"Jika sudah selesai bisa langsung berikan pada Paman Kim, ya, Nak."
Buru-buru Seyi menggunakan kedua tangannya untuk menutup kotak buah dengan erat sementara mulutnya masih menggigit ujung strawberry.
Lalu...
Tuk!
"Oh! Umpannya sudah dimakan ikan!"
Kim Seokjin lagi-lagi mengusili. Tak membantu sama sekali malah merusuh mencolek cream kue ke hidung Seyi.
Memejamkan mata sejenak menahan diri untuk tak bercekcok dengan Seokjin di hadapan orang tua.
Seyi mengambil satu langkah ingin memukul perut Seokjin dengan kotak buah di tangannya, tapi dengan cepat Seokjin mengapit kedua tangannya dan tanpa aba-aba menggigit ujung kepala strawberry yang masih bertengger di bibirnya hingga ujung bibir mereka bersentuhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT TIME ✔️
Fanfiction𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪, 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙎𝙚𝙮𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙆𝙞𝙢 𝙎𝙚𝙤𝙠𝙟𝙞𝙣. |2021|~|2026|
