"Ck, lama sekali. Aku bahkan tidak selama ini di kamar mandi."
"Kau bicara dengan siapa?"
Seyi terperanjat mendengar suara yang tiba-tiba menyahutinya. Ia berbalik dan menemukan Seokjin yang telah mengenakan piyama berjalan santai menghampirinya lalu bersandar di pinggir pintu balkon.
Tanpa membalas ucapan lelaki itu Seyi berjalan melewatinya. Seyi sudah sangat kegerahan dan ingin secepatnya membersihkan diri.
"Mau ku bantu melepas gaun itu?" Seokjin menggodanya.
Brak!
Tawa Seokjin meledak begitu mendengar suara pintu kamar mandi yang ditutup kasar. Ia berhasil membuat Seyi kesal lagi.
Perlahan Seokjin melangkah ke pagar pembatas balkon, memandangi jalanan Seoul yang gemerlap dari tempat Seyi berdiri sebelumnya. Angin malam menerpa wajah serta rambutnya. Kedua matanya tertuju pada kota Seoul, tetapi pikirannya jauh dari sana.
Hari ini dirinya telah resmi menjadi seorang suami. Meski ini bukan keinginan dari dasar hatinya, Seokjin tetap harus melakukannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya akan berjalan selama 10 bulan. Seokjin berharap 10 bulan berjalan cepat secepat kedipan mata.
Lama melamun sampai tiba-tiba Seokjin teringat dirinya belum mengecek ponselnya sama sekali hari ini. Mengambil benda itu dari jas yang ia gunakan selama acara pernikahan kemudian kembali berdiri ke tempat semula di balkon. Satu persatu pesan berisi ucapan selamat dari rekan kerjanya di dalam dan luar negeri Seokjin baca, dan ia hanya bisa tersenyum kecut saat semua orang mendoakan hal yang untuk dirinya dan Seyi, yakni semoga selalu bersama hingga akhir hayat.
Terakhir, dari seluruh pesan yang datang padanya, ada satu yang mengejutkan Seokjin. Pesan dari 'Bibi Ji'.
'Seokjin, ini Bibi Ji. Bagaimana kabarmu? Bibi harap kau selalu sehat dan berbahagia. Maafkan bibi tidak pernah membalas pesan-pesanmu dan selalu menghindar saat kau berkunjung. Itu bibi lakukan agar kau bisa melupakan hal di masa lalu dan menemukan lagi kebahagiaanmu.
Bibi dengar hari ini adalah hari pernikahanmu. Jujur saja, Nak, bibi sangat senang. Bibi sampai menangis terharu karena kau telah menemukan seseorang yang akan selalu membersamaimu dan akan mengerti dirimu sepanjang hidupnya. Jangan sia-siakan dia, Nak. Lupakan masa lalu dan berjalanlah bersamanya hingga maut pun tak rela memisahkan kalian.
Nama gadis itu Park Seyi, ya? Sampaikan salam bibi untuknya, ya. Bibi di sini akan selalu mendoakan kalian. Jika kau masih bersedia untuk berkunjung, bawalah dia bersamamu. Bibi akan menyambut kalian di tempat kumuh bibi ini dengan sambutan yang sehangat mungkin. Semoga di kehidupan ini Tuhan membiarkan Kim Seokjin dan Park Seyi saling mencintai dan saling melindungi.'
Setelah membaca pesan yang panjang itu respon dari Seokjin hanyalah hembusan nafas ke udara. Dadanya agak sesak membaca itu semua. Saling mencintai? Selalu bersama? Sepertinya doa-doa mereka tidak akan terkabul.
"Maafkan aku juga, Bibi. Sepertinya aku akan mengecewakanmu lagi,"
Bibi Ji. Sudah hampir setahun Seokjin tidak pernah bertemu lagi dengannya. Wanita tua itu selalu menghindar ketika Seokjin datang berkunjung. Dan kini Seokjin tau alasannya. Bibi Ji ingin Seokjin segera meninggalkan masa lalu.
Seett! Taap!
Suara yang terdengar dari belakang mengagetkan Seokjin. Begitu membalikkan badan ia melihat pintu balkon yang sudah ditutup dan terlihat pula Seyi sedang menarik tirai pintu menutupnya dari dalam.
Oke. Sepertinya gadis itu telah selesai membenah diri dan sekarang waktunya tidur.
Seyi yang berpikir Seokjin masih betah melamun di balkon segera naik ke ranjang dan meluruskan punggungnya. Benar-benar nyaman setelah seharian sibuk berpesta. Seyi menarik selimut dan bersiap untuk tidur. Namun baru sedetik Seyi merasakan hangatnya selimut, benda itu di tarik darinya.
"Kau tidur di sofa."
Tsk. Kim Seokjin. Sehari pun tidak membiarkan Seyi hidup tenang.
"Kau yang seharusnya di sana!" Seyi menarik balik selimutnya dari genggaman Seokjin. Membelakangi lelaki itu dan kembali memejamkan mata.
Namun kali ini bukan selimutnya yang diambil, melainkan lelaki itu yang berbaring di sebelahnya. Masuk ke dalam selimut yang sama.
Seyi yang tidak terima segera duduk lalu menendang Seokjin dengan kuat agar menjauh dari ranjangnya.
Seokjin tidak terjatuh, dia hanya merasakan sakit pada pinggangnya. "Ugh! Kau baru saja melanggar perjanjian, Park Seyi! Tidak ada kekerasan dalam rumah tangga! Ingat?!"
"Kau juga melanggar perjanjian untuk tidak tidur bersama!"
"Aku tidak melanggar! Kau saja yang ingin tidur bersamaku, jadi kau yang melanggar!"
"Apa?! Aku?!"
Tidak terima dengan perkataan dan perbuatan Seokjin padanya, Seyi mengumpulkan energi lalu sekuat tenaga ia menendang dan menggeser tubuh Seokjin dari kasur sampai Seokjin benar-benar jatuh dan menghempas lantai dengan tak santai.
"Kau tidur di sofa!" Seyi berseru.
Diiringi ringisan karena bokongnya mencium lantai dengan tidak elegan, Seokjin perlahan bangkit, memandangi Seyi yang tengah memejamkan mata dengan tentram di atas ranjang lalu Seokjin berjalan ke sisi tempat gadis itu tidur.
Hap!
Seokjin menyibak selimut itu, menggendong tubuh Seyi kemudian menghempaskan gadis itu ke atas sofa.
"Yaa!!! Kim Seokjin!!!"
"Tidak usah berterima kasih, sofa ini memang empuk dan pas untukmu."
Seokjin merasa dirinya sudah menang dan bisa tidur pulas di ranjang malam ini. Tetapi belum sempat Seokjin naik ke ranjang, secepat kilat Seyi terjun dan menghempas diri ke atas benda empuk itu. Seyi menatap Seokjin dengan sudut bibir yang tertarik sebelah lalu berujar, "Siapa cepat, dia dapat."
Huft. Seokjin membuang nafas. Seyi selalu punya seribu cara untuk melawannya. Pada akhirnya, Seokjin mengalah? Tentu tidak. Seokjin malah menggelindingkan tubuh Seyi dan menggulungnya di atas selimut sehingga Seyi berakhir seperti ulat di dalam kepompong. Seokjin menggendongnya lagi dan membawanya kembali ke sofa.
"Sudah ku bilang sofa ini lebih cocok untukmu."
Seyi mendengus. Tenaganya sudah banyak terkuras hanya agar bisa tidur enak di atas ranjang. Melihat tubuhnya sendiri yang tergulung selimut, Seyi merasa ini tidak buruk juga. Dirinya seperti sedang tidur dengan sleeping bag.
"Semoga kau mimpi buruk!" Itu ucapan Seyi sebelum akhirnya memilih memejamkan mata dan tidur.
Dari atas ranjang Seokjin tersenyum kecil mendengar doa manis Seyi untuknya. Setelah mendapat selimut tambahan yang baru dari petugas hotel, Seokjin pun bersiap untuk tidur. Seokjin menghadapkan tubuhnya ke arah Seyi yang berada di sofa tak jauh dari sisi sebelah kanan ranjang. Ia menatap gadis itu yang tertidur dengan selimut yang masih menggulungi tubuhnya. Entah kenapa Seokjin merasa Seyi tampak lucu.
"Selamat malam, Seyi." ucap Seokjin sebagai kalimat penutup mereka malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT TIME ✔️
Fanfiction𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪, 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙎𝙚𝙮𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙆𝙞𝙢 𝙎𝙚𝙤𝙠𝙟𝙞𝙣. |2021|~|2026|
