[29] Fireworks

778 114 19
                                        

Berdiri memeluk kedua lengan. Angin menghembus rambutnya yang tergerai. Matanya mengamati orang-orang yang sedang menikmati pantai.

Kamar hotelnya tepat menghadap ke arah laut. Pemandangan sangat bagus, tetapi lama-lama pikirannya menjadi liar melihat lautan. Angin juga bertambah kencang, sehingga Seyi memutuskan untuk kembali masuk ke kamar. Berbalik meninggalkan balkon tahu-tahu penglihatannya langsung disuguhi dada bidang Seokjin.

"Mau berenang juga? Seluruh wanita di lantai ini memakai bikini dan pergi ke pantai."

Seyi menggeleng cepat. Tak tertarik sama sekali pergi ke pantai, apalagi berenang. Lagi pula, dari mana Seokjin tahu seluruh wanita di lantai ini memakai bikini?!

Seokjin mengangguk-angguk ringan, seringan tatapannya pada Seyi yang bertubuh lebih pendek darinya. "Kau benar-benar anti air rupanya."

"Bisa minggir?" kata Seyi bermuka malas meladeni lelaki itu.

Sudah berkata sembarangan, tidak sadar pula tubuh besarnya menutup penuh pintu balkon. Tampaknya selama 3 hari ke depan Seyi harus berusaha menstabilkan jiwanya karena harus berbagi kamar dengan Kim Seokjin.

Menggeser tubuh memberi jalan untuk Seyi, kemudian Seokjin berdiri di posisi Seyi sebelumnya turut menikmati pemandangan dari balkon. Pemandangan di tempat ini cukup bagus. Pikirannya seketika membayangkan haruskah membuka resort baru di Jeju?


Ketika makan malam semua tamu pernikahan berkumpul di restoran hotel. Cukup melelahkan bagi Seyi karena ia hanya familiar dengan beberapa orang saja, selebihnya adalah kenalan Seokjin. Adapun kenalan Seokjin yang menyapanya, Seyi hanya ingat pernah melihat mereka tetapi lupa nama mereka.

Min Songyi si mempelai wanita tidak sabar ingin menikmati pantai di malam hari sehingga setelah dinner semua orang diminta ke pantai untuk bersenang-senang. Kata Songyi, ia dan calon suaminya ingin menikmati masa pacaran terakhir sebelum esok resmi menikah, dan semua orang diminta untuk berpacaran pula malam ini.

Di saat yang lain bermain pasir, berfoto, bermain ombak, berkejaran, berpelukan, Seyi sudah betah duduk di atas pasir yang beberapa meter jauh dari bibir pantai. Udara malam nyatanya lebih dingin dan anginnya lebih kencang, membuat Seyi memeluk dirinya sendiri sambil merutuki kebodohannya tak memakai pakaian yang lebih tebal.

Seolah suara hatinya mencapai pendengaran seseorang, sebuah selimut bulu polos tiba-tiba menutupi tubuhnya.

"Selimut dari Songyi. Katanya kau terlihat kedinginan. Dia tak mau ada yang pergi sebelum melihat pertunjukan kembang api satu jam lagi." ujar Seokjin yang kemudian menempatkan diri di samping Seyi.

"Oh ini benar-benar dingin," celetuknya beberapa saat kemudian. Tanpa aba-aba Seokjin menarik selimut Seyi lalu ikut masuk ke dalamnya. Tersenyum tak berdosa pada Seyi yang menyipitkan mata menatapnya.

Kendati tak nyaman terlalu dekat dengan Seokjin dalam satu selimut yang sama, entah kenapa dirinya malah merasa lebih hangat. Seyi membiarkan keadaan mereka yang seperti ini agar dirinya tetap hangat. Ia hanya berharap Seokjin tidak tiba-tiba memutar kepalanya ke samping karena posisi mereka yang bagaikan tak ada celah.

Salahkan selimutnya yang pendek!

"Kemarin pergi ke mana bersama ibu?" Seokjin memulai percakapan ketika suasana di antara mereka semakin sunyi sementara pasangan lain tertawa renyah di depan sana.

"Melihat perabotan."

"Untuk rumah baru kita?"

"Hm,"

"Kenapa harus repot-repot?" Seokjin melirik Seyi dari samping, baru menyadari ternyata mereka duduk sangat dekat. Jika Seyi memutar wajahnya saat ini, ujung hidung mereka mungkin akan bersentuhan. Meluruskan kembali pandangan ke arah lautan, Seokjin berkata dengan pelan, "Musim panas, musim gugur, lalu musim dingin. Saatnya berpisah. Rumah itu akan kembali tak berpenghuni."

PERFECT TIME ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang