Sup rumput laut.
Makanan berkuah yang selalu hadir di setiap perayaan hari lahir. Seharusnya dihidangkan di pagi hari untuk sarapan, alhasil hadir di meja makan sebagai santapan makan malam.
Di antara masakan rumah yang hangat terselip kue ulang tahun sederhana dengan hiasan lilin kecil.
Semua telah sempurna, tinggal menunggu pemeran utama datang.
Park Seyi menanti manis di meja makan tak sabar sosok yang berulang tahun segera muncul di hadapannya.
Berdasarkan informasi dari Sekretaris Lee, kegiatan terakhir Seokjin berakhir pukul 7 malam.
Tepat sekarang. Jarum jam di dinding membentuk sudut 150°.
Memperkirakan jarak kantor dan apartemen, mungkin Seokjin akan tiba dalam 30 menit.
Mengecek arloji dan terus mengecek berkali-kali.
Pukul 9 malam, dan Seokjin masih belum muncul.
Apa jalanan sangat macet? atau Seokjin mengadakan pesta dengan teman-temannya? Tetapi Sekretaris Lee berkata dirinya melihat sendiri Seokjin melajukan kendaraan ke arah apartemen saat meninggalkan kantor.
Mengetuk-ngetuk jemari ke permukaan meja menimbulkan bunyi yang menjadi temannya di tengah kegelisahan.
Makanan sudah dingin, kue masih utuh, lilin belum nyala, dan nyanyian selamat ulang tahun belum dilantunkan.
Kelopak mata Seyi sudah berat. Perutnya sedari tadi bergemuruh meminta untuk makan. Melirik arloji sekali lagi, ternyata pukul 11 malam.
Sebenarnya ke mana Kim Seokjin pergi...?
Apa Seyi juga salah karena tidak memberitahu Seokjin bahwa ia telah menyiapkan perayaan kecil untuk malam ini? Jika diberitahu duluan maka namanya bukan lagi kejutan, tetapi hajatan.
Ugh. Inilah mengapa Seyi tak menyukai kejutan. Apa yang diharapkan tak selalu sejalan dengan yang terjadi. Lebih baik tak mengharapkan apa pun agar tidak kecewa.
Peep! Peep!
Suara dari pintu depan.
Lekas Seyi bangkit untuk memanggil Seokjin agar datang ke meja makan.
Bibir Seyi tertarik sumringah ke atas saat Seokjin tertangkap dalam penglihatan, namun sedetik kemudian bibirnya turun datar mendapati Seokjin tak memandang sedikitpun ke arahnya.
Seokjin langsung masuk ke kamar tidur dengan air wajah yang kusut.
Seyi membiarkan untuk sesaat. Mungkin Seokjin ingin segera membersihkan diri setelah penat beraktifitas seharian.
Seyi beralih duduk di sofa depan televisi menunggu Seokjin keluar dari kamar. Ia tahu, Seokjin belum akan tidur sebelum membawa botol air dari dapur.
Demi menyiapkan makan malam di hari ulang tahun Seokjin, hari ini Seyi pulang kerja lebih awal. Makan malam yang hanya sekali terjadi dalam hidupnya. Bersama sup rumput laut dan kue ulang tahun sederhana.
"Kau mau ke mana?"
Pintu kamar dibuka cukup keras disusul Seokjin bergegas membawa kunci mobil. Tentu Seyi berkerut bingung melihatnya.
Seokjin menatap Seyi sekilas. Ekspresi kecil Seokjin tampak terheran Seyi masih berada di depan televisi di jam segini. Tidak seperti biasanya.
"Makan dulu, baru pergi." Seyi berjalan cepat meraih lengan Seokjin. Mampu menghentikan Seokjin sekejap sebelum Seokjin kembali melangkah tak peduli.
"Sebentar saja." Park Seyi memang keras kepala. Ia menghalangi Seokjin lagi tak membiarkan lelaki itu mendekati pintu utama.
Seokjin yang kukuh terus mengesampingkan Seyi yang menghambat jalannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT TIME ✔️
Fiksi Penggemar𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪, 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙎𝙚𝙮𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙆𝙞𝙢 𝙎𝙚𝙤𝙠𝙟𝙞𝙣. |2021|~|2026|
