Suara heels yang beradu dengan lantai bergema di sepanjang lorong.
Sang gadis selalu berjalan dengan langkah yang pasti dan kepala yang tegak. Setiap orang yang melihatnya akan menyapa dengan penuh kesopanan. Image yang melekat pada sang gadis tak begitu baik. Ada yang menganggapnya arogan, kasar, bahkan disebut tak punya hati nurani.
"Direktur, Anda perlu menandatangani kontrak ini," Seorang pria menyusul langkahnya sembari menyodorkan lembar yang perlu ditandatangani. Tahu bahwa sang gadis tak suka berbasa-basi.
"Apa bagian hukum sudah melihatnya?"
"Mereka sudah membaca edisi sebelumnya, Direktur." jawab si pria jujur. Namun tiba-tiba saja atasannya itu berhenti melangkah yang membuat pengikutnya ikut menghentikan langkah.
Pukk!
Park Seyi menepuk map kontrak yang keras itu ke dada si pria. Suara yang ditimbulkan cukup melengking hingga orang-orang mengalihkan pusat perhatian pada sumber suara.
Tanpa banyak bicara Seyi menatap tajam si pria lalu melanjutkan langkahnya sendiri.
Seyi dapat mendengar bisikan-bisikan di belakangnya. Mungkin setelah ini image buruknya semakin memburuk. Tak masalah, ia berharap karyawan lain yang melihat hal ini dapat saling memberi masukan dan mengambil pelajaran.
Dunia kerja memang kejam dan keras. Tak seharusnya menggunakan hati saat bekerja. Menggunakan hati hanya akan membuat lemah. Sementara dunia selalu menyingkirkan orang-orang lemah.
"Direktur,"
Seseorang datang lagi menyamai langkah Seyi dari samping. Kali ini bukan seorang pria, tetapi wanita. Sekretaris Lim.
Seraya menyodorkan amplop kecil berdesign klasik dan elegan Sekretaris Lim berujar, "Ada undangan pernikahan untuk Anda dan Presdir Kim. Di Pulau Jeju selama 3 hari, pestanya diadakan minggu depan,"
"3 hari?" Seyi cukup terheran mendengarnya. "Siapa yang menikah?" Ia menerima undangan itu dengan alis yang bertaut.
"Pernikahan dari dua pemilik stasiun televisi terbesar Ko—"
"Bagaimana kontrak dengan Jang Gaeul?" Seyi tiba-tiba mengganti topik. Ia sudah membaca sendiri nama dalam undangan itu. Meskipun tak terlalu mengenal kedua mempelai, tetapi Seyi ingat saat di pesta Seja Group dua orang ini menghampirinya dan berkata akan segera menikah. Keduanya adalah teman Seokjin.
"Berjalan lancar, Direktur. Jang Gaeul samonim menitip salam untuk anda,"
"Bagus. Besok aku akan menemui ayah. Setelah itu kosongkan jadwalku sampai lusa."
"Tetapi, Direktur..." Sekretaris Lim mengambil satu tarikan nafas. Ia meneguk ludah sebelum menyampaikan kenyataan yang akan membuat ubun-ubun gadis itu panas. "Setelah menandatangani kontrak, Presdir langsung melakukan perjalanan bisnis."
"Apa?!" Lihat. Gadis itu benar-benar tanpa sadar memekik dan menghadap penuh ke arah Sekretaris Lim.
"Saya juga merasa ini sangat tiba-tiba, tidak ada informasi yang jelas ke mana dan berapa lama Presdir pergi," Sekretaris Lim berkata seadanya. Saat baru mengetahui hal ini ia pun bereaksi sama seperti Seyi.
Seyi mendengus. Urat-urat di kepalanya menegang. Matanya terpejam sejenak agar tetap berpikir jernih.
"Tetap kosongkan jadwalku sampai lusa. Akan ku cari tahu sendiri tentang itu." Seyi berkata tegas. Setegas langkahnya meninggalkan perusahaan untuk pergi ke suatu tempat.
Pergi ke rumahnya. Ia tak bisa menunggu hingga esok. Acara makan malam bersama Yena terpaksa ia batalkan.
Berharap dapat menemui Yoo Minjung, karena Yoo Minjung pasti tahu rencana apa lagi yang ayahnya persiapkan untuk menghindari Seyi meminta sang ayah untuk menepati janjinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT TIME ✔️
Fiksi Penggemar𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪, 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙎𝙚𝙮𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙆𝙞𝙢 𝙎𝙚𝙤𝙠𝙟𝙞𝙣. |2021|~|2026|
