|Epilogue| Time

1.1K 99 48
                                        

"Malam semakin dingin, pakai baju hangat dan kembalilah sore ini,"

"Hm,"

"Kabari ibu jika sudah tiba di Seoul,"

"Aku mengerti, setelah ini aku akan kembali ke Seoul,"

"Ibu dan ayah menyayangimu, jangan lupakan itu, Seokjin..."

Di cuaca dingin itu, percakapan dengan ibunya menghangatkan.

Seokjin tidak akan lupa. Ayah dan ibu adalah rumahnya. Di masa-masa terburuknya, merekalah tempat Seokjin kembali.

Sudah 4 tahun.

Waktu berjalan cepat. Hanya dirinya yang bergerak lambat. Kecepatan waktu tak sejalan dengan dirinya.

Jika 10 bulan saja bisa mengubah banyak hal, seharusnya 4 tahun jauh lebih banyak perubahan.

Tetapi, untuk seseorang yang waktunya terhenti pada 4 tahun yang lalu, hal itu hanya sia-sia.

Banyak orang baru datang padanya, memaksa untuk meninggalkan yang lama. Mudah bagi beberapa orang melakukannya, tapi tidak dengan Kim Seokjin.

Kesederhanaan pada sosok yang selalu ia kenang, tak ia jumpai pada yang lain. Sederhana, namun berkesan. Satu dan hanya sekali dalam kehidupan ini.

Seseorang itu pernah berkata padanya, "Musim gugur memang sangat singkat, tetapi orang-orang lebih menderita saat musim gugur. Musim gugur, adalah musim yang membuat perasaan depresi meningkat."

Musim gugur ini, dirinya sekali lagi jatuh bersama guguran daun kering.

Daun yang gugur mudah disapu, tetapi yang gugur di dalam hati sulit dibawa pergi.

Itu semakin menakutkan. Konon, seseorang yang pergi dengan amarah pasti akan kembali, namun yang pergi dengan senyuman tak akan kembali lagi.

Senyum manis Seyi di sore hari itu, di tengah hamparan ilalang langit senja sungai Han, apakah berarti gadisnya tak akan kembali lagi?

Seokjin dan langkahnya sama-sama hilang arah.

Seokjin berjalan tanpa tujuan seusai meninggalkan restoran kecil dikelilingi perkebunan. Ingatan 2 tahun yang lalu memenuhi kepala. Kepolisian menghentikan pencarian yang tidak ada perkembangan dan keluarga Park memutuskan mengadakan upacara peringatan sederhana untuk Seyi.

Awalnya Seokjin marah, pada akhirnya ia mengerti mengapa orang-orang mengambil keputusan tersebut. Hanya dirinya dan angan-angannya yang menolak percaya Seyi telah pergi.

Bahkan untuk yang terakhir kalinya Seokjin tak bisa memberikan pelukan selamat tinggal pada Park Seyi.

"Paman, paman!"

Suara dengan nada cerah terdengar memanggil seiring dengan tarikan kecil pada ujung baju.

Seokjin tersentak. Menatap sekitar dengan bingung, lalu ia terkekeh. Rupanya dirinya sudah berjalan sampai ke perkebunan kecil di belakang restoran.

Seorang bocah perempuan mendongak menatap Seokjin. Jari bocah itu menujuk ke arah kanan, bibirnya melengkung ke bawah, mata bulatnya berkaca-kaca.

Bocah perempuan yang datang padanya meminta bantuan untuk mengambil balon yang tersangkut di ranting pohon.

Tak lama kemudian Seokjin merendahkan badannya menyodorkan balon itu yang ia ambil dengan mudah dari ranting pohon untuk si anak kecil.

"Ini milikmu,"

"Terimakasih, Paman!" Bocah itu sumringah cerah.

"Sama-sama," Seokjin tersenyum kecil.

"Siapa nama paman?"

PERFECT TIME ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang