|6| Hate

830 106 2
                                        

Langkah kaki yang tegas dari arah belakang terdengar, semakin dekat ke arahnya. Namun Seyi mengabaikan itu karena merasa akan mengeluarkan sesuatu lagi dari perutnya.

"Kau tahu apa akibat dari perbuatanmu?! Kau membuat ibuku jadi berpikiran buruk! Kamu membuat semua orang salah paham, Park Seyi!!" Seokjin memutar tubuh Seyi yang sedang tertunduk lemah di depan wastafel agar menghadapnya.

Seyi ingin balas berkata, tapi sedetik kemudian cairan pahit dari perut kosongnya kembali meronta minta keluar. "Sepertinya ini karena aku belum memakan apapun dari kemarin." ucap Seyi setelahnya.

Merasa tidak akan mengeluarkan apapun lagi, Seyi membasuh mulutnya dengan air di wastafel. Melirik Seokjin sedikit dari ujung matanya. Kekesalan tercetak jelas di wajah lelaki itu.

"Kau seharusnya berkata seperti itu di depan ibuku." Seokjin melipat tangannya di dada memandangi Seyi penuh dominasi.

"Aku sudah berusaha untuk menjelaskannya. Tapi kau juga melihat aku tidak dapat menahan mualku." Seyi membela diri. Tubuhnya kehabisan tenaga, tetapi ia harus mempertahankan argumen serta harga dirinya. Memang Seokjin pikir Seyi menginginkan hal ini?! Tentu tidak!

Seokjin menatap dalam netra coklat milik Seyi, memegang kuat kedua bahu sang gadis lalu mendorongnya hingga menabrak sudut wastafel.

"Dengar! Kalau kau memang ingin memanfaatkanku untuk membantu ayahmu mendapatkan kerjasama itu, kau sudah berhasil." kata Seokjin menusuk.

Seyi menggeram. Ia meronta melepas cengkraman Seokjin, tetapi tenaga lelaki itu sangat kuat tak bisa dilepas.

Seokjin melangkah lebih dekat hingga wajah Seyi memenuhi pandangannya. "Aku yakin kau juga tahu ayahmu itu sangat licik, karena itulah aku tidak ingin berurusan dengannya,"

Seyi meremas kedua tangannya menahan diri sampai baku kukunya memutih. Suara dan tatapan Seokjin semakin menghujam. Seokjin tidak peduli perasaan Seyi saat ini. "Aku bisa saja menerima pernikahan itu, tapi aku merasa kasihan kepadamu, pasti nanti ayahmu akan menyuruhmu bekerja keras mengambil banyak keuntungan dariku. Jadi, berusahalah untuk membatalkan pernikahan itu. Waktumu hanya seminggu sebelum itu benar-benar terjadi."

Seokjin melepaskan genggamannya di bahu Seyi setelah menyelesaikan kalimatnya lalu meninggalkan gadis itu di dapur. Dia tidak ingin waktunya terbuang banyak hanya karena masalah ini.

Mendengar suara pintu ditutup kasar Seyi lantas melayangkan pukulan ke udara kosong melampiaskan emosinya yang tak tersalurkan. Menghela nafas panjang ia mengambil ponsel di saku celananya untuk menelpon seseorang. "Sekretaris Lim, jemput aku sekarang."

---

Kim Seokjin memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan Seoul dari jendela besar ruang kantornya. Kedua tangannya bertengger di kantong celana. Tidak ada orang lain selain dirinya di ruangan ini. Tak lama kemudian perhatiannya teralih pada suara pintu yang diketuk.

"Permisi, Presdir." kata seorang lelaki memasuki ruangan.

Seokjin berbalik menghadap si pemilik suara. Itu sekretarisnya.

"Wartawan sedang berkumpul di bawah, mereka ingin mewawancarai Anda tentang pernikahan Anda dengan Direktur Park." terang Sekretaris Lee.

Sudut bibir Seokjin terangkat. Tidak kaget dan sudah yakin pasti Parc Grup yang terburu-buru menginformasikan ke media hal yang bahkan belum ia setujui ini.

"Usir mereka."

Sekretarisnya diam sejenak, melirik sekilas atasannya lalu menjawab,"Dan juga, saat ini Istri Presdir Park sudah berada di bawah untuk bertemu Anda, Presdir." Sekretaris Seokjin menunduk, tahu bahwa atasannya akan marah.

Kedua alis Seokjin tertaut. "Kenapa dia disini?"

"Beliau berkata ingin menemui Anda sebagai calon menantunya."

Seokjin berdecak. Keluarga Park itu benar-benar berusaha untuk menikahkan anak mereka dengannya.

"Katakan padanya aku sedang ada pertemuan dan tidak ingin diganggu."

---

"Sudah bangun?"

Suara itu keluar bersamaan dengan Seyi yang membuka perlahan kelopak matanya. Ia mencoba mengingat hal yang terjadi setibanya di rumah. Seingatnya, setelah diperiksa Dokter Kang, bibi membawakan makanan, lalu meminum obat, dan tertidur. Ah, Seyi ingat itu.

"Aku membawakan sarapan untukmu. Makanlah. Calon pengantin harus tetap sehat." kata wanita yang bersamanya.

Seyi sedikit menaikkan alisnya. Sarapan? Melirik ke arah jendela kamarnya, ini sama terangnya saat ia dijemput Sekretaris Lim dan pulang ke rumah. Ia tertidur terlalu lama rupanya. Mungkin karena demam yang juga ia alami membuat tubuhnya butuh banyak istirahat.

Merasa diabaikan, Yoo Minjung kemudian ikut duduk di atas kasur. "Kemarin aku mengunjungi Presdir Kim, tapi sayang sekali calon menantuku yang tampan itu sedang ada pertemuan."

"Jangan berlebihan, aku tidak akan menikah dengannya."

Kemarin itu dirinya sedang sakit, bukan hamil seperti apa yang di pikirkan Ibu Seokjin, dan Seyi berniat untuk segera meluruskan itu langsung pada ibu lelaki itu.

Seyi menebak apa yang terjadi di apartemen Seokjin sudah diceritakan kepada keluarganya, dan Seyi yakin ayahnya akan sangat setuju dengan rencana pernikahan itu. Sebab ayahnya sangat menginginkan hal itu.

"Mungkin kau belum tahu, tapi kali ini rencana pernikahanmu dengan Presdir Kim sudah dikonfirmasi pada media." Yoo Minjung menegaskan kata konfirmasi yang langsung mendapat tatapan mematikan dari gadis itu.

"Berhentilah ikut campur urusanku!" teriak Seyi tak terima.

"Aku hanya melakukan apa yang ayahmu perintahkan." Yoo Minjung membalas sembari bersedekap dada. Dia tidak peduli dengan tatapan tajam yang ditujukan kepadanya itu.

Minjung membuang nafasnya, kemudian melanjutkan perkataan. "Ikuti saja apa kata ayahmu jika kau masih ingin tahu di mana nenekmu itu berada."

Usai mengakhiri kalimatnya Minjung berdiri kemudian merapikan selimut yang menutupi kaki Seyi. Dia meninggalkan gadis yang kini terpaku di tempatnya.

PERFECT TIME ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang