[36] Deep

713 103 24
                                        

Seyi tengah bersantai memainkan ponsel di atas ranjang ketika Seokjin masuk ke kamar, padahal Seokjin mengira Seyi masih berbincang dengan ayahnya. Gagal sudah rencana Seokjin berpura-pura ketiduran di atas ranjang gadis itu. Malam ini ia harus rela tidur di lantai.

"Kunci pintu." titah Seyi masuk ke pendengaran. "Akan merepotkan jika ada yang melihat kita tidak tidur di ranjang yang sama."

Menuruti perintah Seokjin mengunci pintu kamar kemudian ia memindai sejenak kasur lipat yang sudah dibentang sangat rapi di lantai tepat di sebelah ranjang sebelum merebahkan diri di sana.

"Aku ingin menyampaikan ini terlebih dahulu padamu." Suara Seyi terdengar lagi. Meletak ponsel ke atas nakas lalu berkata, "Beberapa waktu ke depan aku akan tinggal di sini. Kau kembali saja ke apartemen. Jika membutuhkan makanan atau lainnya bisa minta pertolongan Bibi Kim untuk sementara."

"Hm," Seokjin menarik selimut ke dadanya. Kasur lipat menurutnya tak buruk juga, meskipun lebih enak di kasur empuk dari pada lantai yang kaku.

"Ingat! Jangan makan makanan instanku di lemari!"

"Hm," deham Seokjin lagi. Diam-diam ia tersenyum mengingat Seyi yang sekarang sudah sangat jarang makan makanan instan meskipun masih suka membelinya.

"Ibumu cantik." gumam Seokjin di antara keheningan.

"Yoo Minjung bukan ibuku."

"Tsk. Foto itu. Bukankah itu ibumu?"

Mata yang telah terpejam itu terbuka perlahan. Mengintip Seokjin di lantai dan mengikuti arah pandang lelaki itu. Rupanya yang Seokjin maksud adalah foto berukuran sedang yang tergantung di dinding kamarnya. Foto Seyi dan ibunya yang mengenakan gaun putih ala pernikahan. Foto itu diambil untuk merayakan hari pernikahan ayah dan ibunya.

"Memang cantik, makanya aku juga cantik." balas Seyi ringan tak melepas tatapan dari foto itu.

Seokjin mendesis mendengarnya. "Aku sudah banyak bertemu wanita cantik. Menurutku, kau pas-pasan."

Seyi mendengus tak percaya. "Seorang penggoda. Beruntung sahabatku punya pikiran yang lurus tak mudah tergoda dengan pria sepertimu."

"Sahabat?" Seokjin ragu makhluk seperti Seyi nyatanya juga memiliki seorang sahabat.

"Hayan Grup. Shin Yena. Kau pasti kecewa karena tahu dia sangat setia dengan kekasihnya di Washington sana."

"Ya, dia sangat setia sampai menceritakan pernah digoda suami sahabatnya sendiri." Seokjin sempat tak ingat siapa itu Shin Yena dari Hayan Group, sampai akhirnya ia teringat gadis yang tumit sepatu tingginya lepas sewaktu ia pergi minum bersama Chanyeol.

"Kau pasti putus asa tak bisa menemukan sosok Chaerim di diri wanita lain." Seyi menggeleng pelan penuh iba.

"Aku tidak pernah berniat mencari pengganti Chaerim."

Suara Seokjin yang terdengar datar membuat Seyi tak tertarik lagi untuk berbincang. Seyi menarik selimut hendak tidur, tapi suara Seokjin terdengar lagi.

"Kau ikut taekwondo?"

Kali ini Seyi tak menjawab. Ia sudah mengantuk. Mengabaikan Seokjin adalah pilihan terbaik. Seokjin pasti mengetahuinya karena foto grup taekwondo yang juga dipajang di bawah foto ia dan ibunya. Jujur saja, Seyi memang pernah mengikuti olahraga bela diri itu, tapi tak menyelesaikannya sampai akhir. Sampai sekarang ia hanya pernah memegang sabuk putih.

Mengira tidurnya akan damai tiba-tiba...

Sruukk! Brukk!

"Tidak punya gerakan refleks. Atlet taekwondo yang buruk." tutur Seokjin menatap sepele Seyi yang jatuh di atas dadanya. Tidak sakit, karena Seyi jatuh bersama selimut tebalnya.

PERFECT TIME ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang