Seyi berlari kecil. Senyuman mengembang di bibir menemui dua orang yang sedang bersantai di kebun kecil sebelah rumah. Nenek dan perawatnya.
Cuaca hari ini tak terlalu bagus. Mendung sepanjang hari. Tapi setidaknya cuaca ini lebih baik dari pada neneknya kepanasan berada di kebun.
"Nenek baru bangun sejam yang lalu. Tidurnya sangat nyenyak semalam," Perawat Nenek bercerita. "Sehabis makan nenek bilang ingin jalan-jalan,"
"Biar aku saja yang bawa nenek jalan-jalan," Seyi tersenyum meyakinkan. "Oh, aku ambil payung dulu. Takutnya hujan turun."
Lekas Seyi memutar badan melangkah ringan bermaksud mengambil payung di rumah. Namun, kakinya tertahan ketika matanya menangkap seseorang berdiri beberapa meter di hadapannya.
Kim Seokjin, ada di sini.
Kedua mata Seyi membulat. Raut terkejut tak bisa ia sembunyikan. Setumpuk pertanyaan langsung memenuhi kepalanya. Bibirnya bergerak-gerak ingin bersuara, tapi tak ada satu kata pun yang berhasil keluar.
"Aku sempat kehilangan jejakmu di jalan," Seokjin melangkah mendekati Seyi. "Beruntung masih ada riwayat GPSmu di mobilku."
"Kau mengikuti?!" Ekspresi tak terima terpatri di wajah Seyi.
Ketimbang menjawab pertanyaan Seyi kepala Seokjin bergerak ke samping mengintip orang yang ada di belakang Seyi. "Mereka siapa?" tanyanya.
"Bukan urusanmu." Seyi menggeser tubuhnya ke samping menutupi pandangan Seokjin. "Kembalilah ke Seoul sebelum hujan turun." sambung Seyi kemudian ia melanjutkan langkah menuju rumah setelah merasa setetes air jatuh ke pipinya.
Seyi mengambil satu payung dari dalam rumah. Melirik sekilas ke belakang, masih ada Seokjin berdiri di depan pintu rumah menunggunya. Lalu Seyi mengambil satu payung lagi.
Rintik-rintik air mulai turun dari langit. Pertanda sebentar lagi hujan akan turun. Seyi berlari memayungi neneknya dan mengirim perawatnya untuk menunggu di rumah.
Kemudian Seyi menyerahkan satu payung untuk Seokjin. Guna berjaga-jaga jika dalam perjalanan pulang lelaki itu membutuhkan payung. Tetapi, bukannya pulang ke Seoul, Seokjin terus saja mengikuti ke mana kaki Seyi bergerak.
"Nenekmu?" Seokjin bertanya-tanya di belakang Seyi.
"Siapa dia...?"
Ternyata, nenek mendengar Seokjin. Nenek baru menyadari keberadaannya di dekat Seyi.
"Bukan siapa-siapa. Nenek bisa mengabaikannya." sahut Seyi cepat, dan setelahnya mereka benar-benar mengabaikan Seokjin.
Hujan turun dengan deras, lekas Seyi memutar arah kembali ke rumah dan merapatkan payungnya untuk nenek agar tak terkena hujan.
Seokjin menyadari Seyi tengah kesulitan memegang payung untuk neneknya sekaligus mendorong kursi roda. Punggung Seyi bahkan sudah basah karena payung diberikan hampir seluruhnya untuk neneknya.
Seokjin menurunkan payungnya meneduhi Seyi, sedang sebelah tangan lagi terulur membantu Seyi mendorong kursi roda. Hujan tak lagi menghujami Seyi dan kursi roda lebih ringan untuk didorong.
Seyi memutar kepalanya menatap Seokjin. Seokjin memayungi Seyi, Seyi memayungi neneknya.
"Aku bukan siapa-siapa. Anggap saja aku tidak ada." celetuk Seokjin sambil terus memayungi Seyi dan mendorong kursi roda. Sekarang ia sudah sama basahnya dengan Seyi.
Setibanya di rumah Perawat Nenek segera mengambil alih nenek lalu memberikan handuk untuk Seyi dan Seokjin mengeringkan badan.
"Ini kaos ukuran paling besar yang aku bawa. Tidak ada baju ganti pria di rumah ini." Seyi menyodorkan baju kaos pada Seokjin agar dia mengganti pakaian basahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT TIME ✔️
Fanfic𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪, 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙎𝙚𝙮𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙆𝙞𝙢 𝙎𝙚𝙤𝙠𝙟𝙞𝙣. |2021|~|2026|
