Seyi menghela nafas, lalu menghembuskannya ke udara. Meletakkan sumpit yang selesai ia gunakan ke meja makan hingga menimbulkan suara dentingan logam yang beradu. Namun lelaki di depannya tampak tak terganggu sama sekali. Sambil terus menatap lelaki itu dan melipat tangannya di depan dada, Seyi berkata, "Hari ini, apa kau ada kegiatan?"
Tanpa mengalihkan perhatian dari ramyeonnya Seokjin menjawab, "Tidak ada,"
"Kalau begitu berikan padaku kartu kreditmu." ujar Seyi dengan tangan yang sudah terulur di depan wajah Seokjin.
Alis Seokjin bertaut samar mendengar perkataan gadis itu. "Untuk?" tanyanya.
"Belanja. Menurutmu?" Seyi menanggapi dengan sedikit kesal. Bagaimana tidak kesal, bahan makanan tidak ditemukan sama sekali di tempat ini. Pagi ini saja Seyi berpikir untuk membeli sarapan dari luar sebelum menemukan satu-satunya Ramyeon di lemari dapur paling atas. Saat ramyeon sudah matang dan siap disantap, Seokjin datang. Pada akhirnya mereka mengambil masing-masing setengah porsi untuk sarapan.
"Belanja kebutuhan rumah?" tanya Seokjin lagi. Tetapi sebelum Seyi sempat menjawab Seokjin melanjutkan, "Aku bisa menemanimu,"
Dengan cepat Seyi menggelengkan kepala. "Aku bisa pergi sendi—"
"Sekalian mengunjungi rumah di Hannam." sela Seokjin secara halus. "Rumah itu sudah jadi milikmu, setidaknya kau harus tahu di mana dan seperti apa tempatnya."
Berpikir sejenak dalam diam, akhirnya gelengan berubah menjadi anggukan. "Baiklah. Aku juga ingin tahu sebesar apa rumah itu untuk memperkirakan harga kalau nanti ingin ku jual," katanya kelewat santai yang membuat Seokjin hampir tersedak mendengarnya.
---
Lingkungan perumahan yang sangat asri. Pohon-pohon tinggi nan hijau berjejer di sepanjang jalan. Fasilitas publik tampak terawat dengan baik. Di belakang perumahan terlihat gunung kecil yang juga sama hijaunya. Pagar-pagar rumah menjulang tinggi, namun bisa terlihat dari balik pagar itu pepohonan tumbuh dengan tangguh. Seyi cukup kagum menemukan tempat sehijau perumahan ini di sekitar pusat kota, bukan di pinggir kota seperti yang banyak ia ketahui.
Tak lama kemudian mobil Seokjin berhenti di depan pagar tinggi bercat hitam. Setelah satu kali menekan pelan klakson mobil pagar itu langsung terbuka lebar mempersilahkan mereka masuk. Sama seperti beberapa rumah yang telah Seyi lihat barusan, rumah mereka juga sama asrinya. Pohon-pohon hijau tampak melambai menyambut mereka di sepanjang halaman.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya..."
Sambutan itu datang dari seorang wanita yang mengenakan pakaian khas ibu-ibu usia paruh baya. Baju lengan panjang motif bunga-bunga cerah yang dilipat hingga ke siku, celana longgar panjang, dan rambut pendek yang ikal. Di sebelah wanita itu berdiri seorang pria yang tampak seusia dengannya. Mengenakan kemeja motif garis hijau tua dengan celana kain warna senada. Keduanya tersenyum menyambut Seokjin dan Seyi di depan pintu masuk.