Epilog

193 19 2
                                        

— PSYCHO —

Seulgi dan Taeyong sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka segera menikah setelah Lamaran Taeyong kala itu.

Mereka sengaja melaksanakannya saat itu juga karena Seulgi memang sudah terlalu banyak bolos kuliah. Jadi dia akan mengulang untuk semester ini.

"Bubu? panggil seulgi. Mereka tengah menonton film bersama di ruang tengah. Posisinya sekarang Seulgi tiduran di paha Taeyong.

"Hm?" Singkat Taeyong, matanya fokus pada Layar TV.

"Inget nggak yang pas kemaren kita ketemu di jalur penyebrangan itu?"

"Ingetlah" sahut taeyong. Dia mengambil kaleng soda yang berada di atas meja kemudian meneguknya sampai habis.

"Nggak mungkin kebetulan kan kita bertemu di tempat itu dua kali?" Ucap Seulgi lagi. Dia Sepertinya ingin tahu soal cerita dibalik pertemuan mereka. Taeyong tersenyum, dia menyadari rasa penasaran istrinya.

"Kamu benar, nggak mungkin kebetulan bisa 2 kali. Yang pertama adalah takdir, yang kedua itu karena aku melihat lokasimu berada di jalur penyebrangan, jadi aku datang. Aku menunggu mu sangat lama di ujung sana agar pertemuan antara kita lebih romantis" jelas Taeyong sambil menahan tawa.

Itu benar-benar di luar ekspektasi Seulgi. Dia kira pertemuan mereka kala itu layaknya drama korea. Tapi Taeyong adalah scenario kejadian itu.

Melihat wajah kesal Istrinya, Taeyong hanya tertawa. Sedangkan Seulgi segera bangun dan bersandar pada Sofa. "Bucin apa gimana sih? Tinggal nyamperin aja pake acara papasan di jalur penyebrangan! Bukan romantis jadinya dramatis ntar" oceh seulgi.

"Tapi serius, pertemuan pertama kita itu takdir. Buktinya kita sudah sama sama sekarang" Kata Taeyong.

Seulgi memang setuju dengan Taeyong. Dimana lagi dia bisa bertemu pria sepertinya jika bukan karena takdir?

Taeyong sudah banyak menujukan sisi aslinya, Taeyong yang baik hati meskipun berwajah datar. Bahkan sikapnya kini sangat ramah.

Seulgi mengetahuinya saat Taeyong berbincang pada kakaknya kala itu, dia sangat sopan. Mereka membicarakan soal rumah peninggalan ayah dan ibu seulgi yang digadaikan sebelumnya, namun ternyata sudah dibeli oleh Taeyong tepat saat itu juga.

Dia seakan tahu bahwa Seulgi tak ingin kehilangan rumah itu, satu satunya kenangan tentang orang tua mereka. Jadi seulgi berfikir bahwa Taeyong sangat peka dan mengerti  tentang dirinya. Dan itu luar biasa bagi seulgi.

Sekarang rumah itu kembali menjadi milik mereka dan ditinggali Oleh Irene. Sesekali Seulgi juga menginap, namun Taeyong tak pernah ikut. Dia hanya akan mengantar dan menjemput Seulgi.

Seulgi sendiri tak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia mengerti taeyong pasti canggung dengan kakaknya, Irene.

Sama seperti Doyoung, setelah Seulgi resmi pindah ke rumah Taeyong sebagai seorang istri, dia memilih keluar dan hidup seperti sebelumnya. Seulgi juga sebisa mungkin melupakan pengakuan doyoung kala itu.

"Ya, aku percaya pertemuan pertama kita adalah takdir" Ujar Seulgi. "Aku mulai mengingatnya sekarang" lanjutnya sembari mencari posisi nyaman untuk duduk.

"Sungguh? Aku ragu, kita hanya bertatapan tidak lebih dari 3 detik. Dan aku juga tau senyum mu kala itu bukan untukku. Aku egois kan?" Taeyong mempoutkan bibirnya dan seulgi langsung tertawa.

"Itu tidak benar, sebelum kita bertatapan aku tertawa karena kau mengalami kesulitan, wajahmu terlihat begitu lucu" Jelas Seulgi begitu mengingat pertemuan pertama mereka.

"Kejadian itu sudah sangat lama sampai pertemuan kita selanjutnya. Tentu saja aku tidak ingat dengan mu" Seulgi membela diri.

"Jadi senyum itu untukku?" Taeyong antusias. Dia menatap seulgi yang berada tepat disebelahnya.

"Hmm ya, tapi apa itu penting? Mulai sekarang senyum ku hanya akan tertuju padamu" Goda Seulgi dengan ekspresi menggemaskan.

Taeyong malu sendiri, bahkan pipinya memerah. Akhirnya semua sudah terjawab sekarang, batin Taeyong.



Yeayy happy ending. Makasih buat yang udah setia baca bahkan vote cerita ini. Sampai jumpa lagi di Seulyong Story👋

PSYCHO | SeulyongTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang