Sesal ku tiada guna,
maaf nya tiada arti.
Jika mati ku adalah hidup nya,
detik ini pun ku rela pergi.
-Park Jihoon-
.
Happy Reading^-^
Langit bergemuruh melantingkan getaran kilat. Lantas, cahayanya tertebar menyambangi bentala. Hujan sama sekali tidak ada, hanya mega kelabu yang mendung, angin riuh menelisik tubuh, dan tak lupa dengan petir berkecambuk seakan menantang makhluk hidup untuk ribut.
Jihoon berjalan seorang diri disepinya jalanan sore kota Seoul, berjalan selangkah demi selangkah menelusuri jalan pulang dengan remang-remang cahaya yang tersisa. Tangan dan kaki kini berperan sebagai netra kala indranya mulai meremang kabur.
Sesekali dia terjatuh, tersandung batu ataupun bahu jalan yang tak tersasar kakinya.
Penglihatan Jihoon semakin memburuk dari hari ke hari. Kecelakaan delapan tahun lalu itu lah yang telah membuat Jihoon harus hidup dengan keterbatasan ini seumur hidupnya. Atau mungkin itu tidak dapat disebut sebagai kecelakaan, karna itu terjadi saat Jihoon berusaha menyelamatkan adik kecilnya, Jeongwoo.
Waktu itu ada sebuah mobil melaju cepat kearah Jeongwoo yang sedang mengambil mainannya ditengah jalan. Jihoon yang menyadari hal itupun segera berlari lalu mendorong adik kecilnya itu ke bahu jalan sehingga dia bisa selamat. Namun sebagai ganti, Jihoon harus menerima resiko dari tindakan ekstrimnya itu. Dia tertabrak oleh mobil tersebut, dan sejak saat itulah semua penderitaan dan kegelapan mulai menjadi teman hidup abadi untuknya.
Dia tidak sepenuhnya buta, itu hanya datang sesekali disaat yang tidak bisa dia prediksi. Meski begitu, Jihoon tak bisa memungkiri, bahwa suatu saat dia akan kehilangan penglihatan nya itu seutuhnya.
Sebelum itu terjadi, dia berharap bisa melihat sesuatu yang sangat indah untuk dia kenang di sisa hidupnya yang gelap.
"Perlu bantuan?" Seseorang tiba-tiba saja datang menghampiri Jihoon yang berjalan tertatih setelah terjatuh tadi. Dia mengulurkan tangan, dan tersenyum dengan tulusnya.
"Ah iya, terima kasih" Ucap Jihoon lalu menerima uluran tangan laki-laki itu.
"Bagaimana kamu bisa terluka seperti ini?" Tanya laki-laki itu, mencoba mencairkan suasana yang hening.
"Tadi saya terjatuh saat berjalan" Jawab Jihoon.
Laki-laki itu hanya mengangguk mengiyakan Jihoon.
"Halte nya sudah dekat, kita bisa berhenti disana"
"Eum, maaf. Tapi saya tidak naik bus"
"Kenapa? Kaki kamu kan sedang cedera, tentu harus naik bus"
"Tidak apa-apa, saya bisa berjalan sampai rumah"
Jihoon tidak memiliki uang sepeser pun untuk ongkos, jadi bagaimana bisa dia naik bus.
Laki-laki itu melihat Jihoon yang sedikit melamun, dan menyadari sesuatu. "Kamu tenang aja, sepertinya kita satu arah. Ongkos kamu biar saya yang bayar"
Mata Jihoon membulat.
Bagaimana dia bisa tahu kalau Jihoon tak punya ongkos?
"T-tidak perlu, saya benar-benar akan ber-"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sun || Park Jihoon
FanfictionSebagaimana matahari yang memberikan sinarnya pada dunia, kau hadir menghangatkan hidupku dengan kasih tulus mu. "Park Jihoon, laki-laki malang dengan segala asa yang tertahan" Maaf jika tata bahasa dan tanda bacanya berantakan, karena author masih...
