Rumah mendadak terasa sangat sepi. Padahal beberapa saat lalu masih terdengar suara Haruto yang berisik di dapur, suara Jihoon yang sesekali membalas omongannya, dan Junkyu yang mengomel karena terus diganggu saat memasak.
Tapi sekarang...
Sunyi.
Aku yang sejak tadi berbaring di kamar perlahan bangkit duduk. Badanku masih terasa nyeri, terutama di bagian kaki dan pinggang. Bahkan hanya untuk bergerak sedikit saja rasanya seperti ditarik-tarik.
"Aduh..." ringisku pelan sambil menahan sisi kasur.
Awalnya aku pikir mereka mungkin masih di dapur atau di halaman depan. Tapi semakin lama suasana rumah terasa makin aneh. Tidak ada suara apa pun.
Aku akhirnya memutuskan keluar kamar.
Langkahku pelan karena kakiku masih sakit, tapi rasa tidak nyaman di dadaku jauh lebih mengganggu dibanding luka-luka tadi.
"Kak?" panggilku pelan.
Tidak ada jawaban.
Aku berjalan menuju ruang tengah. Papa masih ada di sana, sedang membereskan kotak obat dan beberapa kain kasa bekas.
"Papa, Kak Junkyu mana?"
Papa menoleh sebentar. "Bukannya tadi di dapur sama Jihoon dan Haruto?"
Aku mengernyit. "Kayaknya enggak ada deh."
Perasaan aneh mulai muncul.
Aku langsung berjalan ke arah dapur, dan begitu sampai di sana langkahku otomatis terhenti.
Lantainya berantakan.
Irisan bawang, tomat, dan cabai berserakan di bawah. Talenan jatuh miring di dekat meja dapur, seolah ditinggalkan begitu saja dalam keadaan terburu-buru.
Aku diam beberapa detik, menatap semuanya.
Kak Jun...
Kalau hanya pergi sebentar, dia tidak mungkin meninggalkan dapur seberantakan ini. Apalagi dia tipe orang yang paling tak suka melihat dapur berantakan.
Dadaku mulai terasa tak enak.
Aku buru-buru membalik badan lalu berjalan cepat menuju pintu depan. Kakiku langsung nyeri saat dipaksa bergerak lebih cepat, tapi aku tetap memaksakan diri.
Begitu sampai di teras, mataku langsung mencari satu hal.
Mobil. Ya, mobil Kak Junkyu. Tapi ternyata mobil itu tidak ada. Napas ku langsung tertahan.
"Enggak..."
Pikiranku langsung kacau. Kak Junkyu pergi dalam keadaan emosi. Jihoon dan Haruto juga tidak ada. Dan setelah kejadian tadi...
Tunggu.
Jangan-jangan...
Aku langsung membalik badan dan berlari masuk lagi meski kakiku terasa semakin sakit
.
"Papa!"
Papa yang tadi masih duduk di ruang tengah langsung berdiri kaget melihat aku hampir terpeleset.
"Hyerin! Pelan-pelan, kaki kamu masih luka!"
"Papa..." napasku memburu, "Kak Junkyu pergi."
Papa terlihat bingung. "Iya, memangnya kenapa?"
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, mencoba menenangkan pikiran sendiri yang mulai dipenuhi kemungkinan buruk.
"Dapur berantakan... mobilnya gak ada... Jihoon sama Haruto juga gak ada..." suaraku mulai mengecil, "aku takut mereka pergi nyari Jeongwoo."
Raut wajah Papa langsung berubah. "Apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sun || Park Jihoon
FanfictionSebagaimana matahari yang memberikan sinarnya pada dunia, kau hadir menghangatkan hidupku dengan kasih tulus mu. "Park Jihoon, laki-laki malang dengan segala asa yang tertahan" Maaf jika tata bahasa dan tanda bacanya berantakan, karena author masih...
