23. The Rain

168 5 22
                                        

Mesin mobil menyala dengan kasar, seolah ikut memantulkan gejolak emosi yang sedang meluap di dalam diri Junkyu. Tanpa menunggu satu detik pun, ia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.

Ban berdecit tajam, meninggalkan halaman rumah dengan tergesa, membuat Jihoon dan Haruto yang berada di belakangnya tidak sempat bereaksi.

"Jun! Junkyu!" teriak Jihoon, melangkah cepat mencoba mengejar, namun mobil itu sudah lebih dulu melesat jauh.

Haruto berhenti di sampingnya, napasnya masih terengah. "Dia kenapa sih, Bang...?"

Jihoon hanya diam sejenak, menatap kosong ke arah jalan yang kini sudah kembali sepi. Rahangnya mengeras, pikirannya berputar mencoba menyusun kemungkinan yang paling masuk akal, namun satu hal yang pasti... ia jarang, bahkan hampir tidak pernah, melihat Junkyu kehilangan kendali seperti barusan.

"Gue gak tau," jawabnya akhirnya pelan. "Kita harus susul dia."

.
.
.

Di dalam mobil, suasana terasa begitu pengap. Tangan Junkyu mencengkeram setir dengan kuat hingga buku-buku jarinya memucat. Napasnya tidak beraturan, dadanya naik turun dengan cepat seolah menahan sesuatu yang sudah terlalu penuh untuk disimpan.

Bayangan itu terus muncul di kepalanya.
Tubuh yang terjatuh. Luka-luka di wajah. Tatapan yang masih berusaha tegar meski jelas menyimpan sakit.

Dan satu hal yang membuatnya semakin tidak bisa menerima. Jeongwoo. Ya, nama itu ikut disebut dalam kejadian itu.

Junkyu mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia tahu, ia sangat tahu bahwa Jeongwoo tidak ikut memukul, tidak ikut menyentuh. Namun justru itu yang membuat segalanya terasa lebih menyakitkan.

Dia diam. Benar-benar hanya diam begitu saja.

Bagaimana bisa seseorang memilih untuk diam saat melihat orang yang pernah atau mungkin masih ia sayangi disakiti di depan matanya sendiri?

Tanpa sadar, tekanan pada pedal gas semakin dalam. Lampu-lampu jalan hanya menjadi bayangan yang lewat begitu saja, tak sempat ia perhatikan. Yang ada di kepalanya hanya satu hal... jawaban.

Mobil itu akhirnya berhenti mendadak di depan sebuah rumah yang sudah sangat ia kenal. Bahkan sebelum mesin benar-benar mati, Junkyu sudah membuka pintu dan keluar. Langkahnya cepat, nyaris seperti berlari, penuh dengan emosi yang belum juga mereda.

Begitu pintu rumah terbuka, suaranya langsung memenuhi ruangan.

"Jeongwoo mana?"

Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. Nada sopan yang biasanya selalu ia jaga lenyap begitu saja malam itu.

Ayah Hyungsik yang berada di ruang tengah tampak terkejut. Ia berdiri, menatap Junkyu dengan raut bingung sekaligus khawatir.

"Junkyu? Ada apa ini? Kamu-"

"Jeongwoo mana?!" ulangnya, kali ini lebih tegas, hampir seperti tuntutan.

Ayah Hyungsik mencoba tetap tenang meski situasi terasa janggal. "Kamu duduk dulu, kita bicara baik-baik-"

"Gak usah," potong Junkyu cepat. "Saya cuma mau ketemu dia."

My Sun || Park JihoonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang