10. Unspoken Heart

4.7K 486 90
                                        

Klik di atas untuk mendengarkan lagu Battle Scars - Guy Sebastian

🌼🌼🌼🌼🌼

"Kau tidak boleh menghubungi pria itu lagi. Kalau kau masih nekat menghubunginya, akan kupatahkan tanganmu!"

Kalimat itu membuat Xiao Zhan mengangkat sudut bibirnya. "Coba saja kalau kau berani!"

Menatap angkuh, dua pasang mata yang hanya berjarak lima sentimeter memancarkan aura permusuhan yang pekat. Tidak ada yang mau mengalah di antara mereka. Yibo merasa bahwa kian hari Xiao Zhan semakin berani. Xiao Zhan bukan pria yang lemah, dia selalu punya cara untuk membuat amarah Yibo terpancing, selalu membangkang meskipun tengah dikurung rapat-rapat dalam genggaman.

Yibo mulai berpikir sampai kapan dirinya akan menggunakan ancaman kuno itu. Mengenai perusahaan dan video sex mereka. Hanya itu senjata yang dia punya untuk tetap menjaga Xiao Zhan di dalam dekapannya. Apa yang bisa dia lakukan agar Xiao Zhan tetap di sisinya?

Tatapannya mulai melunak, cengkraman di bahu Xiao Zhan perlahan melonggar, sesaat kemudian berubah menjadi belaian pelan. Membuang napas kasar, menarik tangannya dari lengan Xiao Zhan seolah tersadar. Tidak ingin menyakiti lebih lama, tidak ingin Xiao Zhan semakin membencinya.

"Istirahatlah."

Yibo memilih untuk melangkah pergi keluar ruangan. Menutup pintu, kemudian duduk di sebuah bangku panjang tidak jauh dari ruang rawat Xiao Zhan. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Menyesal karena dulu pernah mengatakan ingin menjadikan Xiao Zhan mainan. Kini setiap ucapan atau tindakannya justru dianggap sebuah tantangan bagi Xiao Zhan.

Bagiamana cara untuk memperbaiki kata-kata yang telah terucap? Xiao Zhan sudah terlanjur membencinya.

Sementara di dalam ruang rawatnya, Xiao Zhan duduk dalam diam, menatap jendela, mengamati pemandangan kota yang terlihat sangat cerah. Terik matahari membuat jajaran gedung tampak menyilaukan mata.

Dirabanya lengan yang masih terasa sedikit ngilu. Ketakutannya menjadi nyata. Menjual tubuh, mengorbankan harga diri dan harus menerima perlakuan kasar pria itu setiap saat. Xiao Zhan merasa kesal karena dirinya benar-benar tidak berdaya.

Perjodohan?

Saat itu yang dia ingat adalah kata-kata sang ayah. Ya, mungkin dengan menikah dia bisa lepas dari cengkraman Wang Yibo. Lalu bagaimana jika pria itu sungguh-sungguh dengan ancamannya?

Terlalu banyak berpikir membuat Xiao Zhan kembali merasakan pening di kepala. Memijat pelipis dengan mata terpejam, rasa sakit di kepalanya tidak hilang malah semakin bertambah.

Xiao Zhan melirik air minum dalam gelas di atas nakas. Mengulurkan tangan, mencoba meraih gelas itu, namun gelas itu malah terlepas dari tangannya.

Prang!

"Sial!" umpatnya lirih. Air yang hendak diminum kini berceceran di lantai bersamaan dengan gelas yang pecah berkeping-keping.

Brak!

"Ada apa?!"
Hanya berselang tiga detik dan Yibo langsung masuk dengan panik. Mengecek kondisi Xiao Zhan begitu mendengar suara benda pecah dari dalam bangsal.

Pria itu berjalan cepat menghampiri Xiao Zhan yang masih duduk diam di tepi ranjang. Menatap datar padanya, seraya menjawab singkat, "Aku tidak sengaja."

Xiao Zhan pikir Yibo akan kembali mengajak ribut dan memarahinya. Namun pria itu justru tampak khawatir, memeriksa tangan dan kaki Xiao Zhan untuk memastikan tidak ada pecahan gelas yang menempel di sana.

"Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"

Xiao Zhan mengamati wajah pria yang kini dengan panik memeriksa kedua tangannya. Ekspresi pria itu tampak sangat tulus. Entah mengapa dihawatirkan seperti ini membuat Xiao Zhan sedikit malu. Tapi Xiao Zhan juga tidak lupa setiap perlakuan kasar pria itu. Yibo membuatnya bingung. Pria itu bisa bersikap sangat lembut, namun dalam sekejap dapat berubah menjadi sangat kasar dan menyakitinya. Hal itu tentu membuat Xiao Zhan tidak ingin menurunkan pertahanan. Tampak selalu waspada meskipun pria yang tengah menggenggam punggung tangannya saat ini tidak bermaksud buruk.

HOW TO PLAY? (YIZHAN)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang