Hallo, bab 3💗
FOLLOW DULUU BOR
WAJIB VOTEE UGHAA
Ramaikan tiap paragraf yaaaaaaa❤️🔥
SELAMAT MEMBACA, SEMOGA SUKAA, AAMIIN.
3. KISAH UNTUK YANG MASIH ADA
Jalan yang jauh, temukan hal yang menyenangkan lagi. Perihalku, cukup hidup dipikiranmu saja dan kemana-mana.
**
"Hujan adalah?" perempuan yang berada di samping Aurora itu bersuara, setelah keduanya duduk dan sama-sama diam di halte fakultas.
Aurora menatap hujan yang sedang turun dengan derasnya, yang sore ini mengunci pergerakan mereka. "Menurut BMKG, Hujan adalah suatu bentuk presipitasi atau endapan dari cairan atau zat padat yang berasal dari kondensasi yang jatuh dari awan menuju permukaan bumi. Namun tidak semua air hujan mampu sampai ke permukaan bumi, karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering."
Rotasi Ainun Salsabila mengangguk, dia adalah teman kampus Aurora, sekaligus anak dari karyawan Tante Lestari. Sejurusan dengan Aurora di Fakultas Ilmu Astronomi.
Sekarang, genap delapan bulan Aurora di Makassar, memulai banyak hal baru, dan berkelana di semestanya. Ternyata, kehilangan selalu menyuguhkan bahu yang kuat dan ketegaran luar biasa jika manusia berserah pada tulisan takdir.
"Lo mau tahu pengertian hujan versi gue?" tanya Salsa, Aurora sepakat ingin mendengarnya. "Hujan adalah manipulasi paling menyakitkan dari rindu."
"Kok gitu?"
"Ya karena, semua yang sedang hadir diingatan saat hujan turun, keberadaannya nggak bisa digapai," jawab Salsa.
"Jadi hujan itu jahat?" tanya Aurora spontan.
"Jahat bagi sebuah ingatan dan kenangan, jahat bagi manusia egois kayak gue, jahat bagi hati yang masih berharap." Salsa lalu menatap Aurora
"Tapi untuk makhluk bumi yang baik hati, akan jadi manfaat."
Hmm, tentang hujan-hujan di halte seperti ini, ingatan Aurora juga ikut berjalan, mengingat dua tahun yang lalu di geografis yang berbeda dengan seseorang yang suka memakai dasi di kepalanya. Dia apa kabar ya? Adalah kalimat yang sangat mustahil untuk ditanyakan karena jawabannya menyakitkan.
"Lo pulang naik apa, Ra?" tanya Salsa, mengalihkan.
Aurora mengecek handphonenya, "Bareng Bobby, tapi kayaknya kelasnya belum selesai nih."
Bobby sekarang satu almamater dengan Aurora, di Universitas Merah Putih. Walaupun berbeda jurusan dan angkatan, tapi cowok bertubuh gempal itu tidak pernah lepas penjagaan tentang Aurora. Dan karena Bobby jugalah, posisi Aurora sebagai mahasiswa baru aman dari senior.
"Lo benar-benar di treat like a queen sama mereka, ya? Nggak Bobby, nggak Bara, nggak Alaska," kata Salsa. Perempuan itu bisa merasakannya selama ia dekat dengan Aurora beberapa bulan terakhir ini.
Aurora tersenyum tipis. Rasanya jika membahas mereka dengan orang baru seperti Salsa, ada sesuatu yang berbeda, seperti sebuah rasa yang enggan untuk dilanjutkan tetapi harus tetap ada karena hadirnya harus beriringan.
"Eh, iya, sebelum gue lupa, lo kelompok berapa, tadi?" tanya Salsa.
"Kelompok 8," jawab Aurora, "Oiya, koordinator laboratorium fisika tadi, siapa? Gue nggak terlalu dengar namanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA AURORA
Teen Fiction"Tuhan, ajak dia bahagia lagi." -Angkasa Naufal Merapi Kisah ini tentang sebuah epilog yang dimulai kembali. Yang menyedihkan, yang menyakitkan, katanya, biarlah hidup dalam kemarin saja. Hari ini dan selanjutnya, tugasmu untuk merangkul bahagia. ...
